Page 592 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 592
Ahmad Basher saja, melainkan juga manuskrip keislaman, termasuk yang Paku Buwana II (1726-1749) di Desa proses pengadilan atas Haji Ahmad
koleksi-koleksi lain yang mulai terkuak, berada di Jawa. Cabolek, Tuban, daerah pantai Utara Mutamakin pun ditunda hingga
seperti Koleksi Guro sa Masiu, Ismael Jawa Timur. Ia digambarkan sebagai dilantiknya Raja Kartasura baru, yakni
Yahya, Nuska Alim, Abdulmajeed Pada bagian sebelumnya telah seorang penyebar ilmu hakikat yang Paku Buwana II.
Ansano, Guro Alim Saromantang, dan dikemukakan bahwa tradisi penulisan menyalahi ilmu syariat kepada khalayak
Sheikh Abdul Ghani. Manuskrip di manuskrip keagamaan di wilayah umum sehingga membuat masyarakat, Berbeda dengan kasus di Aceh, ajaran
Marawi City adalah representasi sejarah Melayu dipengaruhi oleh, antara lain, khususnya para ulama syariat, sekitar mistik yang dikemukakan Haji Ahmad
dan identitas Muslim Melayu Maranos. perdebatan dan kontroversi paham Tuban resah. Haji Ahmad Mutamakin Mutamakin tidak bermuara pada ajaran
Jika tidak ada tindakan cepat untuk keagamaan, hingga berdampak pada juga dituduh tidak loyal dan bahkan martabat tujuh dalam al-Tuhfah al-
melestarikan dan kemudian mengkajiya, fatwa pengkadiran. Motif ini juga terjadi melecehkan penguasa lokal setempat mursalah karya al-Burhanpuri, melainkan
ia sangat rapuh dan akan segera musnah di Jawa. Serat Cabolek adalah salah satu ketika memberi nama Abdul Qahhar ajaran ilmu hakikat tentang konsep
dari memori kolektif kita. teks Jawa yang menggambarkan motif dan Kamaruddin untuk dua anjing kesempurnaan hidup. Dikisahkan bahwa
peristiwa pengkafiran ajaran mistik peliharaannya, padahal kedua nama Haji Ahmad Mutamakin mempelajari
Elaborasi lebih detil atas manuskrip Islam tersebut. Karya yang berbentuk tersebut adalah pejabat Penghulu dan ilmu hakikat tersebut dari seorang
keagamaan Melayu ini perlu ditulis tembang ini ditulis oleh seorang Ketib di Tuban. Para ulama Tuban gurunya di Yaman, yakni Shaykh Zain,
pada bagian tersendiri. Kini, mari kita Pujangga Kraton Surakarta, yakni Raden pun melaporkan perilaku Haji Ahmad dan kemudian menemukan kesamaan
bandingkan sepintas dengan tradisi Ngabehi Yasadipura I yang mengabdi Mutamakin tersebut kepada Raja dengan ajaran mistik dalam teks Bhima
penulisan manuskrip keagamaan di pada masa dua penguasa, yakni Paku Kartasura (Soebardi 1975, 27). Suci, atau Dewa Ruci. Meski demikian,
Jawa. Buwana III (1749-1788) dan Paku Buwana kedua ajaran tersebut tampak memiliki
IV (1788-1820). Selama pengabdiannya Adalah Ketib Anom Kudus, yang kesamaan dalam hal penekanan pada
Tradisi Tulis Manuskrip Jawa sebagai pujangga Kraton, terutama diceritakan dalam Serat Cabolek sebagai adanya kemungkinan menyatunya
pada masa Paku Buwana III tersebut, tokoh ulama Tuban yang paling sengit manusia dengan Realitas Tersembunyi
Dalam konteks Jawa, naskah tertua yang Yasadipura I mendapat kepercayaan menentang ajaran ilmu hakikat Haji (baca: Tuhan), ketika ia sudah mencapai
berhasil ditemukan diperkirakan ditulis dan penghormatan yang sangat tinggi Ahmad Mutamakin. Ia digambarkan tahap tertentu.
pada abad ke-9 atau ke-10 M (Sedyawati untuk menghasilkan karya-karya sastra sebagai seorang ulama ortodoks yang
2001), yang sebagian besar tampak sehingga ia berhasil menulis sejumlah tidak hanya menguasai ilmu-ilmu Dalam salah satu episode teks Bhima Suci
memperlihatkan keterkaitannya dengan teks seperti Serat Cabolek, Babad ke- keislaman, tapi juga tradisi Jawa. Ketib misalnya diceritakan bahwa Werkudara,
agama Hindu, dan sebagian yang lain Giyanti, Babad ke- Prayut, Pasinden Badaya, Anom Kudus lah yang memimpin nama lain dari Bima, diperintahkan
memperlihatkan keterkaitannya dengan dan lainnya (Soebardi 1975, 17). para ulama Tuban untuk mengusulkan masuk ke dalam gua garba (perut)
agama Buddha; sebagian ditulis dalam hukuman mati atas Haji Ahmad Dewa Ruci melalui telinga kirinya, dan
bentuk prosa, dan sebagian ditulis Serat Cabolek melukiskan kisah seorang Mutamakin kepada Raja Kartasura, dalam tubuh Dewa Ruci itu Werkudara
dalam bentuk puisi. Akan tetapi, tulisan sufi Haji Ahmad Mutamakin, yang Sunan Mangkurat IV. Akan tetapi, menemukan kesempurnaan hidup
ini hanya akan lebih fokus membahas hidup pada masa Pemerintahan Sunan sehubungan dengan wafatnya Sunan dengan menyaksikan Pancamaya, yang
tradisi penulisan dan penyalinan Mangkurat IV (1719-1726) dan anaknya, Mangkurat IV secara mendadak, maka berarti tersingkapnya alam hakikat bagi
580 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 581

