Page 595 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 595

dirinya (mukashafah), catur warna (hitam,   menghakimi faham mistik Haji Ahmad   pengayom terhadap seluruh rakyatnya,   mukaddimah naskah-naskah Jawa yang
 merah, kuning, dan putih), satu nyala   Mutamakin sebagai heterodoks, sesat,   termasuk para pengarang dan pendeta   ditulis di kraton sering secara eksplisit
 berwarna delapan, dan boneka gading.   dan bertentangan dengan syariat Islam   yang hidup dalam lingkaran kraton   berisi puji-pujian kepada raja dan
 Semua hal yang disaksikan Werkudara   (Soebardi 1975, 41).  (Sedyawati 2001, 40).  dimaksudkan untuk pengabdian kepada
 tersebut kemudian ditafsirkan dan                  raja.
 dijelaskan oleh Dewa Ruci sebagai   Tentu saja, motif akhir cerita dalam Serat   Posisi raja yang demikian sentral
 ajaran-ajaran ilmu hakikat, termasuk   Cabolek ini berbeda dengan kasus-kasus   dalam sistem kekuasan di Jawa, dalam   Berkaitan dengan relasi pengayom
 soal hubungan ontologis antara Tuhan   pengkafiran terhadap ajaran mistik   arti sebagai pengayom bagi seluruh   dengan pengarang/penyalin naskah,
 dan manusia (Nasuhi 2009, 180–81).  tokoh-tokoh lain, seperti Shaykh Siti   rakyatnya di atas dengan sendirinya   dalam kakawin Arjunawiwaha, Mpu
 Jenar, Sunan Panggung, Ki Bebeluk, dan   membawa implikasi pada pertumbuhan   Kanwa mengatakan bahwa kakawin
 Dalam Serat Cabolek, motif penghakiman   Shaykh Among Raga, yang kesemuanya   tradisi pernaskahan di lingkungan   karyanya itu ditulis untuk sebagai
 ajaran Haji Ahmad Mutamakin sebagai   berakhir dengan pembunuhan terhadap   kraton di mana raja menjadi patron bagi   bentuk penghormatan kepada Raja
 ajaran heterodoks dan sesat memang   tokoh-tokoh utamanya.  para penulis/penyalin naskah. Oleh   Airlangga. Dalam bait-bait di bagian
 tidak diakhiri dengan pembunuhan   karena itu, tidak mengherankan jika   mandala, Mpu Kanwa menjelaskan
 terhadap tokoh utamanya, meski   Selain melibatkan peran pengarang dan   kraton pun dalam sejarah peradaban   mengenai siapa yang menjadi
 hal itu sempat diusulkan oleh Ketib   penyalin, tradisi penulisan manuskrip   di Jawa bukan semata-mata sebagai   pelindung karyanya. Pelindung
 Anom Kudus kepada Raja Kartasura   Jawa melibatkan aspek lain yang juga   pusat politik pemerintahan, tetapi juga   tersebut digambarkan sebagai sosok
 Paku Buwana II. Dalam hal ini, sang   sangat berpengaruh terhadap produksi   menjadi pusat pernaskahan Jawa.  yang arif bijaksana yang sudah
 Raja memberikan ampunan kepada   dan reproduksi manuskrip Jawa; dalam   terlepas dari ambisi keduniaan, tetapi
 Haji Ahmad Mutamakin dengan   hal ini adalah aspek kepengayoman. Jika   Tidak dapat dimungkiri, keberadaan raja   tetap menginginkan kekuasaan demi
 catatan bahwa ia tidak diperkenankan   melihat sejumlah manuskrip Jawa kuno   sebagai pengayom bagi para penulis/  kesejahteraan umat manusia (Ras 2014,
 lagi menyebarkan ajaran tersebut   yang berhasil ditemukan, tampak bahwa   penyalin naskah mampu menciptakan   156). Lebih jauh lagi, pelindung yang
 kepada Muslim awam kebanyakan.   penulisan manuskrip Jawa tidak dapat   hubungan simbiosis mutualisme antara   dimaksud oleh Mpu Kanwa disamakan
 Tampaknya, pengarang Serat Cabolek,   dilepaskan dari aspek kepengayoman   raja dan penulis/penyalin naskah   dengan Arjuna, seorang kesatria
 yakni Yasadipura I, yang notabene   yang berkaitan erat dengan konsep   kraton. Dalam hal ini, raja memfasilitasi   Pandawa yang mampu mengalahkan
 adalah seorang Pujangga Kraton, ingin   kekuasaan, baik kekuasan yang sifatnya   kebutuhan hidup para penulis/penyalin   raja raksasa yang mengancam Indraloka.
 menekankan kebaikan sang Raja dalam   politik maupun kultural. Dalam konteks   kraton, termasuk menyediakan sarana
 memberikan ampunan kepada mereka   Jawa, kekuasaan raja merupakan   tulis-menulis naskah, sedangkan para   Dari segi isi, kakawin Arjuna Wiwaha
 yang dianggap bersalah. Kendati   manifestasi dari kekuasaan dewa, yang   penulis/penyalin kraton mengabdi   yang menceritakan perkawinan
 demikian, motif Serat Cabolek ini jelas   dikenal sebagai konsep Dewaraja atau   kepada raja melalui karya-karya tulisnya,   Arjuna dengan isitri-istri dari
 menunjukkan superioritas ajaran   Raja-Dewa, sebuah konsep kekuasaan   sehingga dalam banyak hal naskah-  kayangan yang dihubungkan dengan
 Islam ortodoks dengan menempatkan   yang bersumber dari ajaran Tri-Purasa   naskah yang dihasilkannya memang   upacara perkawinan Airlangga
 Ketib Anom Kudus, dengan dukungan   (Brahma-Wisnu-Siwa). Bertolak dari   untuk melayani kepentingan raja. Oleh   yang diumpamakan sebagai Indra
 Penguasa, sebagai pahlawan, dan   konsep tersebut, raja merupakan   karena itu, tidak mengherankan dalam   di Kayangan yang menguasai Jawa



 582  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   583
   590   591   592   593   594   595   596   597   598   599   600