Page 593 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 593

Ahmad Basher saja, melainkan juga   manuskrip keislaman, termasuk yang   Paku Buwana II (1726-1749) di Desa   proses pengadilan atas Haji Ahmad
 koleksi-koleksi lain yang mulai terkuak,   berada di Jawa.  Cabolek, Tuban, daerah pantai Utara   Mutamakin pun ditunda hingga
 seperti Koleksi Guro sa Masiu, Ismael   Jawa Timur. Ia digambarkan sebagai   dilantiknya Raja Kartasura baru, yakni
 Yahya, Nuska Alim, Abdulmajeed   Pada bagian sebelumnya telah   seorang penyebar ilmu hakikat yang   Paku Buwana II.
 Ansano, Guro Alim Saromantang, dan   dikemukakan bahwa tradisi penulisan   menyalahi ilmu syariat kepada khalayak
 Sheikh Abdul Ghani. Manuskrip di   manuskrip keagamaan di wilayah   umum sehingga membuat masyarakat,   Berbeda dengan kasus di Aceh, ajaran
 Marawi City adalah representasi sejarah   Melayu dipengaruhi oleh, antara lain,   khususnya para ulama syariat, sekitar   mistik yang dikemukakan Haji Ahmad
 dan identitas Muslim Melayu Maranos.   perdebatan dan kontroversi paham   Tuban resah. Haji Ahmad Mutamakin   Mutamakin tidak bermuara pada ajaran
 Jika tidak ada tindakan cepat untuk   keagamaan, hingga berdampak pada   juga dituduh tidak loyal dan bahkan   martabat tujuh dalam al-Tuhfah al-
 melestarikan dan kemudian mengkajiya,   fatwa pengkadiran. Motif ini juga terjadi   melecehkan penguasa lokal setempat   mursalah karya al-Burhanpuri, melainkan
 ia sangat rapuh dan akan segera musnah   di Jawa. Serat Cabolek adalah salah satu   ketika memberi nama Abdul Qahhar   ajaran ilmu hakikat tentang konsep
 dari memori kolektif kita.  teks Jawa yang menggambarkan motif   dan Kamaruddin untuk dua anjing   kesempurnaan hidup. Dikisahkan bahwa
 peristiwa pengkafiran ajaran mistik   peliharaannya, padahal kedua nama   Haji Ahmad Mutamakin mempelajari
 Elaborasi lebih detil atas manuskrip   Islam tersebut. Karya yang berbentuk   tersebut adalah pejabat Penghulu dan   ilmu hakikat tersebut dari seorang
 keagamaan Melayu ini perlu ditulis   tembang ini ditulis oleh seorang   Ketib di Tuban. Para ulama Tuban   gurunya di Yaman, yakni Shaykh Zain,
 pada bagian tersendiri. Kini, mari kita   Pujangga Kraton Surakarta, yakni Raden   pun melaporkan perilaku Haji Ahmad   dan kemudian menemukan kesamaan
 bandingkan sepintas dengan tradisi   Ngabehi Yasadipura I yang mengabdi   Mutamakin tersebut kepada Raja   dengan ajaran mistik dalam teks Bhima
 penulisan manuskrip keagamaan di   pada masa dua penguasa, yakni Paku   Kartasura (Soebardi 1975, 27).  Suci, atau Dewa Ruci. Meski demikian,
 Jawa.  Buwana III (1749-1788) dan Paku Buwana      kedua ajaran tersebut tampak memiliki
 IV (1788-1820). Selama pengabdiannya   Adalah Ketib Anom Kudus, yang   kesamaan dalam hal penekanan pada

 Tradisi Tulis Manuskrip Jawa  sebagai pujangga Kraton, terutama   diceritakan dalam Serat Cabolek sebagai   adanya kemungkinan menyatunya
 pada masa Paku Buwana III tersebut,   tokoh ulama Tuban yang paling sengit   manusia dengan Realitas Tersembunyi
 Dalam konteks Jawa, naskah tertua yang   Yasadipura I mendapat kepercayaan   menentang ajaran ilmu hakikat Haji   (baca: Tuhan), ketika ia sudah mencapai
 berhasil ditemukan diperkirakan ditulis   dan penghormatan yang sangat tinggi   Ahmad Mutamakin. Ia digambarkan   tahap tertentu.
 pada abad ke-9 atau ke-10 M (Sedyawati   untuk menghasilkan karya-karya sastra   sebagai seorang ulama ortodoks yang
 2001), yang sebagian besar tampak   sehingga ia berhasil menulis sejumlah   tidak hanya menguasai ilmu-ilmu   Dalam salah satu episode teks Bhima Suci
 memperlihatkan keterkaitannya dengan   teks seperti Serat Cabolek, Babad ke-   keislaman, tapi juga tradisi Jawa. Ketib   misalnya diceritakan bahwa Werkudara,
 agama Hindu, dan sebagian yang lain   Giyanti, Babad ke- Prayut, Pasinden Badaya,   Anom Kudus lah yang memimpin   nama lain dari Bima, diperintahkan
 memperlihatkan keterkaitannya dengan   dan lainnya (Soebardi 1975, 17).  para ulama Tuban untuk mengusulkan   masuk ke dalam gua garba (perut)
 agama Buddha; sebagian ditulis dalam   hukuman mati atas Haji Ahmad   Dewa Ruci melalui telinga kirinya, dan
 bentuk prosa, dan sebagian ditulis   Serat Cabolek melukiskan kisah seorang   Mutamakin kepada Raja Kartasura,   dalam tubuh Dewa Ruci itu Werkudara
 dalam bentuk puisi. Akan tetapi, tulisan   sufi Haji Ahmad Mutamakin, yang   Sunan Mangkurat IV. Akan tetapi,   menemukan kesempurnaan hidup
 ini hanya akan lebih fokus membahas   hidup pada masa Pemerintahan Sunan   sehubungan dengan wafatnya Sunan   dengan menyaksikan Pancamaya, yang
 tradisi penulisan dan penyalinan   Mangkurat IV (1719-1726) dan anaknya,   Mangkurat IV secara mendadak, maka   berarti tersingkapnya alam hakikat bagi



 580  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   581
   588   589   590   591   592   593   594   595   596   597   598