Page 588 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 588

Saya mempunyai keyakinan bahwa          lain—seperti ‘Umdat al-muḥtajin, Sullam                     Abdurrauf lebih suka dan lebih         kesalahfahaman itulah, Abdurrauf
            teks asli Tanbih al-mashi tersebut ditulis   al-mustafidin dan Daqa’iq al-ḥurūf—yang                terbiasa menulis serta berpikir dalam   kemudian menulis kitab Tanbih al-
            setelah tahun 1660, dan tidak lama      sudah dipastikan sebagai karangannya.                       bahasa Arab daripada bahasa Melayu,    mashi ini sebagai sebuah penjelasan
            setelah Abdurrauf kembali dari tanah                                                                khususnya Melayu Sumatra, karena       yang dimaksudkan untuk meluruskan
            Arab. Hal ini, terutama didasarkan      Ketika penelitian atas Tanbih al-mashi ini                  terlalu lamanya ia tinggal di tanah Arab,   pemahaman keliru berkaitan dengan
            pada dua hal. Pertama, dalam teks       saya lakukan, informasi tentang karya-                      sehingga untuk menulis karya-karyanya   doktrin wahdatul wujud tersebut. Azra
            ini, Abdurrauf secara eksplisit         karya Abdurrauf yang berbahasa Arab                         dalam bahasa Melayu, Abdurrauf selalu   (Azra 1994, 199), meyakini bahwa
            menyebutkan tanggal wafat gurunya,      juga belum banyak diketahui, sehingga                       dibantu oleh dua guru bahasa Melayu    ‘seseorang’ yang dimaksud dalam
            al-Qushashi, yaitu 19 Zulhijah 1071     saat itu saya sempat membuat sebuah                         yaitu Katib Seri Raja, seorang sekretaris   catatan tersebut adalah utusan rahasia
            H, atau 16 Agustus 1660 M. Itu berarti   kesimpulan awal bahwa Tanbih al-mashi                      pribadi Sultanah Safiyatuddin, dan Faqih   Sultanah Safiatudin, seorang pejabat
            menutup kemungkinan ditulisnya          merupakan satu-satunya karangan                             Indera Salih (Azra 1994, 201; Voorhoeve   istana, yang bernama Khatib Seri Raja b.
            teks ini sebelum tahun 1660. Kedua,     Abdurrauf yang ditulis seutuhnya dalam                      1952, 89). Salinan manuskrip Tanbih    Hamzah al-Asyi.
            berdasar kajian yang telah saya lakukan   bahasa Arab. Akan tetapi, seiring dengan                  al-mashi sendiri tersebar di mana-mana,
            (Fathurahman 1999), salah satu naskah   semakin digalakannya upaya inventarisasi,                   baik dalam koleksi pribadi maupun      Tradisi penulisan dan penyalinan
            Tanbih al-mashi yang menjadi objek kajian   katalogisasi, dan penelitian atas naskah-               lembaga.                               manuskrip keislaman di Aceh
            ini, disalin dari sebuah teks lain yang   naskah Nusantara, diketahui bahwa                                                                sesungguhnya terus berlanjut,
            ditulis pada 1081/1670. Ini memberikan   setidaknya Abdurrauf memiliki satu karya                   Penting juga diketahui bahwa latar     setidaknya hingga abad ke- ke-19
            kemungkinan telah ditulisnya teks       lain dalam bahasa Arab yang berjudul                        belakang penulisan sebuah manuskrip    di masa Faqih Jalaluddin. Namun,
            Tanbih al-mashi sebelum tahun 1670.     Sharh al-mawahib al-mustarsalah ‘alá al-tuḥfah              terkadang dapat ditemui dalam salinan   dalam tulisan kali ini saya ingin
                                                    al-mursalah (Behrend 1998, 6; Fathurahman                   manuskrip tersebut. Dalam contoh       berhenti sampai tokoh Abdurrauf,
            Yang agak mengherankan adalah, Tanbih   and Holil 2007, 156). Tidak tertutup                        manuskrip Tanbih al-masyi misalnya,    agar porsi tulisan bisa dipakai untuk
            al-mashi merupakan karya Abdurrauf      kemungkinan bahwa ada informasi lain                        ada sebuah catatan yang ditemukan      mengemukakan tradisi penulisan dan
            yang paling sering tidak disebut atau   berkaitan dengan karya-karya Abdurrauf                      pada salinan manuskripnya versi        penyalinan manuskrip di tempat-tempat
            didaftarkan dalam beberapa literatur    yang berbahasa Arab ini.                                    Dayah Tanoh Abee (Fakhriati 2008,      lainnya.
            tentang naskah-naskah karangannya.                                                                  82–83). Catatan tersebut menjelaskan
            Padahal, dibanding beberapa naskah      Memang, seperti terlihat dalam daftar                       bahwa tidak lama setelah tiba di Aceh,   Secara umum, tentu kita bisa menyebut
            lain yang didaftarkan dalam Abdullah    karangan Abdurrauf, kebanyakan                              Abdurrauf didatangi oleh seseorang     bahwa tradisi penulisan manuskrip
            1991 misalnya, Tanbih al-mashi lebih dapat   karyanya ditulis dalam bahasa Melayu.                  yang beberapa kali menemuinya dan      keislaman Nusantara ini berlanjut di
            dipastikan sebagai karangan Abdurrauf,   Atau kalau pun ada yang berbahasa                          mengemukakan pandangan-pandangan       tempat-tempat lainnya antara lain berkat
            selain karena disebutkan secara eksplisit   Arab, selalu disertai dengan bahasa                     tentang wahdatul wujud, tetapi tidak   para ulama Melayu-Nusantara yang
            di bagian akhir teks, juga didukung oleh   Melayu. Sedikitnya karangan Abdurrauf                    sesuai dengan pengetahuan doktrin      pernah belajar ilmu-ilmu keislaman di
            kenyataan bahwa ajaran tasawuf dalam    dalam bahasa Arab ini sebetulnya agak                       wahdatul wujud yang ia terima dari kedua   Haramayn, dan dikenal sebagai bagian
            Tanbih al-mashi, sama dengan ajaran     mengherankan, karena—seperti pernah                         gurunya, al-Qusyasyi dan al-Kurani.    dari jamaḥat al-Jawiyin (komunitas
            yang terkandung dalam naskah-naskah     dikeluhkan dalam salah satu karyanya—                       Karena tidak ingin menanggung akibat   Jawi) di Mekah. Mereka antara lain:



         576    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   577
   583   584   585   586   587   588   589   590   591   592   593