Page 597 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 597

sebagai kerajaan universal. Selain itu,   menceritakan putra Arjuna, yakni   Pada periode Majapahit, tepatnya pada   tersebut ditulis. Gejala ini tentu berbeda
 cerita perkawinan Arjuna tersebut   Abimanyu, yang menjalin hubungan   periode Raja Hayamwuruk, ditulis juga   jika pengayom dalam aktivitas penulisan
 sekaligus merupakan bentuk proklamasi   asmara dengan Siti Sundari putri Kresna.   sejumlah naskah kakawin oleh pujangga   naskah kakawin bukan raja, seperti yang
 Airlangga sebagai penguasa semesta   Hubungan Abimanyu dengan Siti   keraton, seperti Arjunawijaya dan   berlangsung di lingkungan asrama atau
 yang universal (Ras 2014, 161).  Sundari dalam cerita tersebutbterancam   Surasoma oleh Mpu Tantular. Dalam   mandala.
 gagal karena intervensi dari Baladewa,   dua naskah kakawin tersebut, pujian
 Sementara itu, dalam naskah Hariwangsa   ditujukan kepada Buddha yang tertinggi.  Dalam konteks Jawa kuno, kata asrama
 Mpu Panuluh dengan jelas dalam   tetapi dapat diselamatkan oleh   digunakan dalam dua pengertian.
 manggala atau mukadimah karyanya   Gatotkaca. Kakawin Gatotkacsraya   Selain karya Mpu Tantular, pada   Pertama, sebagai pertapaan untuk
 itu mengatakan bahwa penulisan   tampak dipersembahkan kepada Raja   periode Majapahit juga ditulis kakawin   menjalani kehidupan asketik dan kedua,
 kakawinnya itu didasarkan atas perintah   Jayakerta yang diidentikkan dengan Raja   Negarakertagama oleh Rakawi Prapanca   sebagai tatanan kehidupan seorang
 Raja Jayabaya (Sedyawati dkk, 2001: 36).   Kertajaya (Ras 2014, 173).  pada masa pemerintahan Hayamwuruk.   brahmana yang mencakup empat
 Lebih dari sekadar penguasa, raja dalam   Selain tiga kakawin tersebut di atas,   Dalam kakawin tersebut, pengarang   tahapan kehidupan yang harus dilalui
 beberapa hal juga dianggap sebagai guru   kajian Ras (Ras 2014, 176–77) terhadap   menjelaskan tujuan penulisannya untuk   oleh seorang brahmana (Ras, 2014: 186).
 bagi para pujanga. Berkaitan dengan itu,   sastra Jawa Kuno juga memperlihatkan   raja di Wilwatikta sebagai inkarnasi
 Mpu Panuluh dalam Hariwangsa juga   Dewata yang menjaga tatanan alam dan   Selain asrama, di Jawa kuno juga terdapat
 mengatakan bahwa ia masih dalam tarap   sejumlah kakawin lain yang berasal   mengusir unsur-unsur jahat. Dalam   lembaga pendidikan yang diasuh oleh
 belajar kepada raja mengenai segi-segi   dari lingkungan keraton yang juga   Negarakertagama anggota kerajaaan juga   seorang dewaguru atau guru agama, yaitu
 keindahan dalam menulis (Zoetmulder   memperlihatkan relasi pengayom-  disebut, ibu kota kerajaan digambarkan,   lembaga mandala. Di lembaga tersebut,
 1983: 583).  pengarang. Dalam hal ini adalah   dan semua daerah bawahan dijelaskan   para murid harus taat kepada sang guru.
 kakawin Smaradahana karya Mpu                      Para murid juga harus mencari nafkah
 Selain itu, Jayabaya dalam Hariwangsa   Darmaja yang dipersembahkan   (Ras, 2014: 179-180).  sendiri untuk memenuhi kebutuhan
 bukan hanya sebagai pengayom,   kepada dewa asmara yang dikenal   Sejumlah naskah kakawin yang ditulis   hidupnya sendiri dan kebutuhan
 tetapi juga disebut sebagai manifestasi   sebagai Kameswara. Dalam konteks   oleh pujanga keraton di atas dengan   gurunya melalui usaha pertanian.
 dari Wisnu dan disebut sebagai   ini yang dimaksud adalah Kameswara   jelas memperlihatkan relasi pengarang-  Jika murid sudah dinilai mumpuni,
 Dharmeswara, sosok yang mengausai   II, Raja Kediri yang hidup pada   pengayom dengan kecenderungan yang   maka sang murid dapat diinisiasi oleh
 dharma, sehingga terhubungkan dengan   tahun 1182-1185; Sumasantaka, yang   menunjukkan bahwa apa yang ditulis   gurunya sebagai wiku atau rohaniwan.
 Yudhistira, seorang kesatria tertua   ditulis oleh Mpu Monaguna, yang   oleh pujangga keraton adalah untuk   Selanjutnya, murid yang dinilai sebagai
 Pandawa, sebagai putra Dharma (Ras,   dipersembahkan kepada dewa yang   dipersembahkan ke pengayomnya   wiku tersebut dapat mendirikan mandala
 2014: 172).                                        baru (Ras, 2014: 187).
 merupakan awal dan akhir keindahan;   yang dalam hal ini adalah raja.
 Selain Hariwangsa, karya lain dari Mpu   Bhomakawya atau Bhomantaka,   Kalaupun di sebagian naskah ada yang   Melihat dua pengertian kata asrama di
 Panuluh yang memperlihatkan relasi   yang dipersembahkan kepada   dipersembahkan kepada dewa, maka hal   atas, dan melihat lembaga pendidikan
 pengarang-pengayom juga tampak pada   pengejawentahan puisi dan sekaligus   itu pun dihubungkan dengan raja yang   mandala, tidak menghernakan jika
 Ghatotkacasraya. Dalam kakawin tersebut   inkarnasi dewa asmara.  berkuasa pada masa naskah kakawin   naskah-naskah yang Jawa yang



 584  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   585
   592   593   594   595   596   597   598   599   600   601   602