Page 602 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 602

keraton itu banyak di antaranya         dapat dikatakan sebagai masa vakum                          dengan gelar Tumenggung Tirtawiguna;   pasukan pengawal Pakubuwana II
            berisi pujian terhadap kebesaran raja   bagi sejarah kesusastraan Jawa akibat                       dalam hal ini tugas resmi Carik Bajra   (Soebardi 1975, 18–19), kemudian setelah
            dan dimaksudkan sebagai bentuk          musnahnya berbagai perpustakaan                             adalah sebagai penulis sejarah kerajaan.   itu ia memasuki karier di bidang tulis-
            persembahan kepadanya. Dengan           dan koleksi pribadi sebagai dampak                          Di samping memiliki kecakapan di       menulis sebagai penulis sekretariat
            demikian, melihat posisi pengarang/     perang Tionghoa. Meskipun demikian,                         bidang bahasa dan kesusastraan Jawa,   keraton di bawah pimpinan Pangeran
            penulis keraton itu di hadapan raja,    kekacauan politik tersebut tampaknya                        Carik Bajra ternyata juga memiliki     Wijil Kadilangu. Sebagai staf sekretariat
            sulit diharapkan muncul karya-karya     hanya mampu menghentikan sementara                          kecakapan dalam bidang politik. Oleh   keraton, Yasadipura I mengemban dua
            dari penulis keraton yang berisi kritik   kegiatan kesusastraan di lingkungan                       karena itu, tidak mengherankan jika    tugas penting kerajaan, yakni upaya
            terbuka terhadap penguasa.              keraton. Setidak-tidaknya, semenjak                         pada akhirnya Pakubuwana II dan        penentuan versi kanonik sejarah
                                                    tahun 1757 kehidupan kesusastraan                           III mengangkatnya sebagai penasihat    kejatuhan keraton Surakarta dan
            Dalam konteks keraton Jawa,             di lingkungan keraton Surakarta                             politiknya.                            penemuan kembali khazanah naskah
            perkembangan tradisi penulisan naskah,   mengalami kebangunan kembali berkat                                                               keraton yang hilang (Ras 2014, 278–79).
            baik naskah kesuastraan maupun naskah   dua tokoh sentralnya, yakni Carik Bajra                     Peran yang dimainkan oleh Carik
            keagamaan, tidak dapat dilepaskan dari   dan Yasadipura I (Ras 2014, 276–77).                       Bajra sebagai penasihat politik Raja   Dalam upaya penemuan kembali
            peran penting yang dimainkan oleh                                                                   Jawa tampaknya membawa pengaruh        khazanah sastra Jawa keraton yang
            keluarga kerajaan dan dan para pujangga   Penting untuk diperhatikan, kedua                         terhadap perannya sebagai pujangga     hilang tersebut di atas, Yasadipura
            yang berlatar belakang pendidikan       tokoh sentral dalam proses kebangunan                       keraton. Oleh karena itu, meskipun     I melakukannya dengan berbagai
            pesantren. Dalam konteks ini, raja atau   kembali tradisi tulis kesusastraan Jawa                   berlatar belakang pesantren, Carik     cara: penulisan ulang, penggubahan,
            keluarga kerajaan memainkan peran       keraton tersebut di atas merupakan                          Bajra tidak sempat menulis karya yang   dan penerjemahan sastra lama.
            sebagai pihak pengayom, sementara       alumni pesantren, yang kemudian                             memperlihatkan keterkaitannya secara   Dalam konteks ini, karya-karya
            pujangga alumni pesantren memainkan     meniti karier di lingkungan keraton                         langsung dengan dunia keislaman.       sastra yang menjadi lahan garapan
            peran sebagai penulis yang mendapat     hingga mencapai puncak kariernya                            Sejumlah karya yang dianggap ditulis   Yasadipura I dalam menjalankan misi
            pengayoman dari pihak keluarga          sebagai sebagai pujangga keraton. Carik                     oleh Carik Bajra sepanjang kariernya   kebudayaan dari pihak keraton itu
            kerajaan. Peran yang dimainkan oleh     Bajra adalah pujangga keraton yang                          sebagai pujangga keraton umumnya       mencakup karya-karya yang berasal
            kedua pihak tersebut dapat dilihat dari   memulai karier kepujanggannya di                          berkaitan dengan historiografi,        dari khazanah sastra Islam yang
            sejarah perkembangan kesusastraan Jawa   keraton mulai dari bawah, yakni sebagai                    leksikografi, roman pra-Islam, dan     berasal dari kawasan pesisir produk
            periode Kartasura hingga Surakarta.     juru tulis Tumenggung Kartanegara.                          segi-segi didaktis ketatanegaraan dan   kreativitas masyarakat santri dan
            Dari perspektif historis, perkembangan   Setelah itu Carik Bajra diangkat oleh                      kehidupan keraton (Ricklefs 1998, 172).  khazanah sastra Jawa Kuno warisan
            kesusastraan di lingkungan keraton      Pakubuwana II sebagai lurah carik (Ras                                                             masa pra-Islam (Ras 2014, 280–82).
            Jawa sempat terhenti akibat kekacauan   2014, 277; Ricklefs 1998, 171). Lambat-laun                 Berbeda dengan Carik Bajra, setelah    Atas prestasi gemilang Yasadipura I
            politik sebagai dampak langsung perang   karier Carik Bajra semakin meningkat                       menyelesaikan pendidikannya di         dalam menemukan kembali khazanah
            saudara, termasuk di dalamnya perang    yang ditandai dengan pengangkatannya                        pesantren Kedu di bawah asuhan         sastra jawa yang hilang tersebut, tidak
            yang melibatkan orang-orang Tionghoa.   sebagai pujangga keraton untuk                              Kiai Anggamaya, Yasadipura I meniti    berlebihan jika Yasadipura I dinilai
            Menurut J. J. Ras, periode 1742-1755    menggantikan Pangeran Adilangu                              kariernya di keraton sebagai anggota   sebagai pendiri kesusastraan Jawa



         590    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   591
   597   598   599   600   601   602   603   604   605   606   607