Page 604 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 604
pada masa Surakarta awal (Ras 2014, pemahaman Yasadipura I yang memperlihatkan dimensi keislamannya. Sebagai pujangga Jawa yang memiliki
285; Soebardi 1975, 20). mendalam terhadap berbagai dimensi T. Padmanegara adalah pengarang latar belakang pendidikan pesantren
Islam yang dianut oleh muslim Jawa. Suluk Tekarwedi; anak Yasadipura I, Tegalsari, Ponorogo, Ranggawarsita
Selain itu, hal lain yang juga Selain itu, Yasadipura I juga menulis yakni Yasadipura II (Ranggawarsita banyak menghasilkan karya-karya
membedakan Yasadipura I dengan cerita-cerita keislaman yang berasal I), seorang alumni pesantren Tegalsari keislaman yang sufistik. Suluk Saloka
Carik Bajra adalah komitmen dari Melayu, seperti Serat Iskandar, Ponorogo, merupakan anggota tim Jiwa, Suluk Supanalaya, Serat Pamoring
Yasadipura I untuk tetap berada di jalur Serat Menak dan menulis versi baru penulis Serat Centini; Ranggasasmita, Kawula Gusti, Serat Paramayoga, Serat
kepujanggaan; dalam hal ini dibuktikan dari Serat Anbiya, yang dikenal dengan salah satu anak Yasadipura II, adalah Hidayat Jati, Suluk Sukma Lelana (Simuh
dengan penolakannya atas tawaran sebagai Serat Tapel Adam (Soebardi, 1975: pengarang Serat Walisana dan Suluk Aceh; 1988, 51–61) merupakan karya-karya
untuk menempati jabatan politik sebagai 24; Ras, 2014: 282). Menurut Ras (2014: dan Ranggawarsita III adalah pengarang Rangawarsita yang memperlihatkan
menteri (Soebardi, 1975: 20; Ras, 2014: 282), keakraban Yasadipura I dengan Serat Hidayat Jati (Florida 1995, 179–80). dengan jelas sifat sufistiknya.
286). Totalitas Yasadipura I dalam berbagai cerita keislaman tersebut tidak
menekuni karier kepujanggaan tersebut dapat dilepaskan dari latar belakang Dari sekian pujangga keluarga Secara umum, dari segi bentuk karya-
membuat karya-karyanya lebih variatif pendidikannya di pesantren. Yasadipura di atas, Ranggawarsita karya keislaman yang ditulis oleh
dibandingkan dengan karya-karya merupakan pujangga Jawa terbesar para pujangga santri yang hidup di
Carik Bajra. Jika karya-karya Carik Bajra Upaya menghidupkan kembali dunia dan yang paling produktif. Sepanjang lingkungan keraton di atas sebagian
tidak ada yang berkaitan dengan aspek sastra Jawa setelah mengalami masa kariernya sebagai pujangga keraton, besar ditulis dengan mengikuti arus
keislaman, maka karya-karya Yasadipura kevakuman yang dirintis oleh Carik Ranggawarsita telah menghasilkan umum genre kesusastraan Jawa, yakni
I merambah pada bidang keislaman yang Bajra, dan kemudian diteruskan oleh sekitar 70 karya tulis yang mencakup puisi dengan metrum macapat, suatu
dikemas dalam bentuk yang kreatif, di Yasadipura I di atas tampaknya terus berbagai bidang (Tedjowirawan, metrum yang memang asli Jawa.
samping tetap melakukan penulisan berlanjut hingga abad ke-19. Dalam 2009: 13). Selain itu, kebesaran Adapun dari segi isi, karya-karya
ulang terhadap khazanah sastra Jawa konteks ini, keturunan Yasadipura Ranggawarsita sebagai pujangga para pujangga santri di atas tampak
kuno sebagai bagian dari tugasnya I terus memainkan peran penting Jawa tampaknya juga berkaitan beragam: sebagian berupa cerita-
sebagai pujangga resmi keraton. Serat dalam perkembangan kesusastraan dengan adanya inovasi dalam karya- cerita keislaman, seperti Serat Anbiya,
Cabolek merupakan salah satu karya Jawa pada abad ke-19. Penting untuk karyanya, seperti penggunaan bentuk Serat Tapel Adam, dan Serat Menak, dan
kreatif yang membuktikan kepedulian dicatat, keluarga Yasadipura I, mulai prosa untuk sebagian karyanya sebagian lainnya berisi ajaran moral
Yasadipura I terhadap aspek keislaman dari ayahnya, yakni T. Padmanegara, dan inovasi pada tataran puitik di sufistik, seperti Suluk Tekarwedi, Suluk
di zamannya. Sebagaimana diketahui, hingga anak cucu Yasadipura I sejumlah karyanya yang berbentuk Aceh, dan Serat Hidayat Jati. Dengan
Serat Cabolek merupakan puisi naratif merupakan pujanggga Jawa yang puisi (Tedjowirawan, 2009: 10-12. Oleh demikian, dalam menyampaikan pesan
yang menggambarkan pertentangan memiliki latar belakang pendidikan karena itu, atas dasar produktivitas keislaman, para pujangga santri yang
antara Islam legalistik dan Islam pesantren (Florida 1995, 175). Oleh dan sifat inovatif dalam karya- hidup di lingkungan keraton itu tetap
sufistik yang terjadi di kalangan Islam karena itu, tidak mengherankan jika karyanya, Ranggawarsita mendapat menggunakan piranti kesusastraan
Jawa. Jalinan cerita dalam Serat Cabolek karya-karya pujangga Jawa keluarga gelar sebagai pujangga penutup yang berasal dari kebudayaan Jawa
tersebut tampak jelas memperlihatkan Yasadipura sebagian di antaranya (Simuh 1988, 48). sendiri. Adapun dari segi isi, karya-
592 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 593

