Page 606 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 606

karya pujangga santri-keraton di atas   sintesis tersebut berakar pada upaya                        tetap berdiri, akan tetapi secara politik   keraton, baik dari segi bentuk maupun
            dengan sendirinya juga memperlihatkan   rekonsiliasi yang dilakukan oleh Sultan                     ia berada dalam kendali pemerintah     isinya. Sebagaimana dikemukakan
            orientasi keislaman yang dianut oleh    Agung atas konflik identitas antara                         kolonial. Mengingat posisi pujangga    di atas, karya-karya Ahmad ar-Rifai
            para pujangga itu sendiri. Teks-teks    kejawaan dan keislaman. Sebagai hasil                       santri yang hidup di lingkungan keraton   Kalisalak sebagian besar ditulis dalam
            suluk misalnya, jelas menunjukkan       dari rekonsiliasi tersebut, sintesis mistik                 itu berada di bawah pengayoman pihak   bentuk nazam berbahasa Jawa dengan
            kecenderungan sufistik pesan yang       di keraton Jawa dimanifestasikan dalam                      keraton, sementara keraton sendiri     aksara pegon. Sejauh ini, tidak ada
            terkandung di dalamnya. Orientasi       bentuk kuatnya kesadaran akan identitas                     berada dalam kendali pemerintah        bukti-bukti tekstual yang menunjukkan
            sufistik dalam bentuknya yang filosofis-  Islam, pemenuhan kewajiban syariat,                       kolonial, maka tidak mengherankan      adanya karya sejenis yang ditulis
            metafisis semakin jelas terlihat dalam   dan penerimaan terhadap unsur-unsur                        jika karya-karya pujangga santri-      oleh penulis naskah keagamaan
            teks Serat Hidayat Jati yang ditulis oleh   kepercayaan lokal, seperti kepercayaan                  keraton itu tidak ada yang secara      Islam, baik dari keraton maupun dari
            Ranggawarsita. Dalam teks tesebut,      terhadap kekuatan supranatural yang                         terbuka mengkritik pemerintah          pesantren, sebelum penulisan kitab-
            Ranggawarsita menguraikan hubungan      khas Jawa (Ricklefs 2007, 6). Oleh karena                   kolonial. Meskipun demikian, situasi   kitab tarajjumah oleh Ahmad ar-Rifai.
            ontologis antara Tuhan dan Alam yang    itu, di tengah lingkungan kehidupan                         yang karut-marut akibat kolonialisme   Dengan demikian, dapat disimpulkan
            memperlihatkan keterkaitannya dengan    mistik yang sintesis tersebut, tidak                        yang melanda kawasan Jawa tersebut     bahwa Ahmad ar-Rifai merupakan
            doktrin martabat tujuh yang bersumber   mengherankan jika karya-karya sufistik                      tidak lantas membuat para pujangga     orang pertama yang menulis kitab-
            dari teks at-Tuhfah al-Mursalah karya al-  yang ditulis oleh pujangga keraton itu                   keraton itu menutup mata. Oleh karena   kitab berbahasa Jawa dengan aksara
            Burhanfuri (Simuh 1988, 51-61).         juga memperlihatkan coraknya yang                           itu, mengingat posisinya yang berada   pegon dalam bentuk nazam. Selain itu,
                                                    sintesis. Teks Serat Hidayat Jati misalnya,                 di bawah pengayoman pihak keraton,     kitab-kitab tarajjumah karya orisinal
            Meskipun karya-karya keislaman          meskipun keterkaitannya dengan                              para pujangga keraton itu pun tetap    Ahmad ar-Rifai, meskipun disebut
            pujangga keraton di atas                doktrin martabat tujuh sangat jelas, akan                   menyampaikan kritik, namun dengan      secara eksplisit oleh Ahmad ar-Rifai
            memperlihatkan dengan jelas corak       tetapi uraian ajaran sufistik dalam teks                    cara yang halus, seperti yang dilakukan   sebagai karya terjemahan, juga telah
            sufistiknya, tetapi, sebagai karya yang   tersebut seringkali dikaitkan dengan                      oleh Ranggawarsita dalam mengkritik    membawa warna baru dalam dunia
            ditulis di lingkungan keraton Jawa,     cerita-cerita mitologis yang berakar pada                   sistem peradilan Belanda dan tatanan   kepengarangan Jawa pada abad ke- ke-
            karya-karya keislaman pujangga          tradisi Hindu (Simuh 1988, 51-61).                          masyarakat kolonial yang diciptakan    19.
            keraton itu dengan sendirinya juga                                                                  oleh Belanda.
            menyesuaikan dengan orientasi           Kesesuaian karya-karya pujangga                                                                    Pada tataran isi, kitab-kitab tarajjumah
            keislaman yang dianut oleh keraton      keraton terhadap pihak keraton                              Berbeda dengan karya-karya para        karya Ahmad ar-Rifai tampak dengan
            Jawa. Menurut Ricklefs (Ricklefs 2007,   tampaknya tidak terbatas pada bidang                       pujanga santri yang hidup di           jelas memperlihatkan pijakannya pada
            5), orientasi keislaman yang dianut     sikap keagamaan, namun juga pada                            lingkungan keraton Jawa, karya-karya   tradisi keilmuan pesantren abad ke--
            oleh keraton Jawa merupakan bentuk      sikap politik. Sebagaimana diketahui,                       penulis santri yang meniti karier      ke19 yang menekankan pada penguatan
            rekonsiliasi antara kejawaan dan        abad ke- ke-19, tepatnya setelah perang                     sebagai kiai pesantren memperlihatkan   dimensi syariat yang dikombinasikan
            keislaman sehingga melahirkan mystic    Jawa 1825-1830, Belanda telah menguasai                     kekhasannya tersendiri jika            dengan aspek tasawuf. Selain itu,
            synthesis. Jika dirunut ke belakang,    secara penuh kawasan Jawa. Dengan                           dibandingkan dengan karya-karya        pilihan Ahmad ar-Rifai terhadap
            menurut Ricklefs (2006: 33-52), upaya   demikian, meskipun keraton Jawa                             keagamaan yang ditulis oleh pujangga   bahasa Jawa sebagai bahasa kitab-



         594    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   595
   601   602   603   604   605   606   607   608   609   610   611