Page 607 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 607

karya pujangga santri-keraton di atas   sintesis tersebut berakar pada upaya   tetap berdiri, akan tetapi secara politik   keraton, baik dari segi bentuk maupun
 dengan sendirinya juga memperlihatkan   rekonsiliasi yang dilakukan oleh Sultan   ia berada dalam kendali pemerintah   isinya. Sebagaimana dikemukakan
 orientasi keislaman yang dianut oleh   Agung atas konflik identitas antara   kolonial. Mengingat posisi pujangga   di atas, karya-karya Ahmad ar-Rifai
 para pujangga itu sendiri. Teks-teks   kejawaan dan keislaman. Sebagai hasil   santri yang hidup di lingkungan keraton   Kalisalak sebagian besar ditulis dalam
 suluk misalnya, jelas menunjukkan   dari rekonsiliasi tersebut, sintesis mistik   itu berada di bawah pengayoman pihak   bentuk nazam berbahasa Jawa dengan
 kecenderungan sufistik pesan yang   di keraton Jawa dimanifestasikan dalam   keraton, sementara keraton sendiri   aksara pegon. Sejauh ini, tidak ada
 terkandung di dalamnya. Orientasi   bentuk kuatnya kesadaran akan identitas   berada dalam kendali pemerintah   bukti-bukti tekstual yang menunjukkan
 sufistik dalam bentuknya yang filosofis-  Islam, pemenuhan kewajiban syariat,   kolonial, maka tidak mengherankan   adanya karya sejenis yang ditulis
 metafisis semakin jelas terlihat dalam   dan penerimaan terhadap unsur-unsur   jika karya-karya pujangga santri-  oleh penulis naskah keagamaan
 teks Serat Hidayat Jati yang ditulis oleh   kepercayaan lokal, seperti kepercayaan   keraton itu tidak ada yang secara   Islam, baik dari keraton maupun dari
 Ranggawarsita. Dalam teks tesebut,   terhadap kekuatan supranatural yang   terbuka mengkritik pemerintah   pesantren, sebelum penulisan kitab-
 Ranggawarsita menguraikan hubungan   khas Jawa (Ricklefs 2007, 6). Oleh karena   kolonial. Meskipun demikian, situasi   kitab tarajjumah oleh Ahmad ar-Rifai.
 ontologis antara Tuhan dan Alam yang   itu, di tengah lingkungan kehidupan   yang karut-marut akibat kolonialisme   Dengan demikian, dapat disimpulkan
 memperlihatkan keterkaitannya dengan   mistik yang sintesis tersebut, tidak   yang melanda kawasan Jawa tersebut   bahwa Ahmad ar-Rifai merupakan
 doktrin martabat tujuh yang bersumber   mengherankan jika karya-karya sufistik   tidak lantas membuat para pujangga   orang pertama yang menulis kitab-
 dari teks at-Tuhfah al-Mursalah karya al-  yang ditulis oleh pujangga keraton itu   keraton itu menutup mata. Oleh karena   kitab berbahasa Jawa dengan aksara
 Burhanfuri (Simuh 1988, 51-61).  juga memperlihatkan coraknya yang   itu, mengingat posisinya yang berada   pegon dalam bentuk nazam. Selain itu,
 sintesis. Teks Serat Hidayat Jati misalnya,   di bawah pengayoman pihak keraton,   kitab-kitab tarajjumah karya orisinal
 Meskipun karya-karya keislaman   meskipun keterkaitannya dengan   para pujangga keraton itu pun tetap   Ahmad ar-Rifai, meskipun disebut
 pujangga keraton di atas   doktrin martabat tujuh sangat jelas, akan   menyampaikan kritik, namun dengan   secara eksplisit oleh Ahmad ar-Rifai
 memperlihatkan dengan jelas corak   tetapi uraian ajaran sufistik dalam teks   cara yang halus, seperti yang dilakukan   sebagai karya terjemahan, juga telah
 sufistiknya, tetapi, sebagai karya yang   tersebut seringkali dikaitkan dengan   oleh Ranggawarsita dalam mengkritik   membawa warna baru dalam dunia
 ditulis di lingkungan keraton Jawa,   cerita-cerita mitologis yang berakar pada   sistem peradilan Belanda dan tatanan   kepengarangan Jawa pada abad ke- ke-
 karya-karya keislaman pujangga   tradisi Hindu (Simuh 1988, 51-61).  masyarakat kolonial yang diciptakan   19.
 keraton itu dengan sendirinya juga   oleh Belanda.
 menyesuaikan dengan orientasi   Kesesuaian karya-karya pujangga   Pada tataran isi, kitab-kitab tarajjumah
 keislaman yang dianut oleh keraton   keraton terhadap pihak keraton   Berbeda dengan karya-karya para   karya Ahmad ar-Rifai tampak dengan
 Jawa. Menurut Ricklefs (Ricklefs 2007,   tampaknya tidak terbatas pada bidang   pujanga santri yang hidup di   jelas memperlihatkan pijakannya pada
 5), orientasi keislaman yang dianut   sikap keagamaan, namun juga pada   lingkungan keraton Jawa, karya-karya   tradisi keilmuan pesantren abad ke--
 oleh keraton Jawa merupakan bentuk   sikap politik. Sebagaimana diketahui,   penulis santri yang meniti karier   ke19 yang menekankan pada penguatan
 rekonsiliasi antara kejawaan dan   abad ke- ke-19, tepatnya setelah perang   sebagai kiai pesantren memperlihatkan   dimensi syariat yang dikombinasikan
 keislaman sehingga melahirkan mystic   Jawa 1825-1830, Belanda telah menguasai   kekhasannya tersendiri jika   dengan aspek tasawuf. Selain itu,
 synthesis. Jika dirunut ke belakang,   secara penuh kawasan Jawa. Dengan   dibandingkan dengan karya-karya   pilihan Ahmad ar-Rifai terhadap
 menurut Ricklefs (2006: 33-52), upaya   demikian, meskipun keraton Jawa   keagamaan yang ditulis oleh pujangga   bahasa Jawa sebagai bahasa kitab-



 594  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   595
   602   603   604   605   606   607   608   609   610   611   612