Page 612 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 612
memakan jas, topi, dan dasi tersebut di dunia Islam, seperti tradisi penulisan dulu dibanding Saleh Darat dalam hal kiai besar tersebut justru menulis kitab
sepintas memang tidak ditujukan ke syarh ’komentar’ dan mukhtashar menulis kitab beraksara pegon, namun dalam bahasa Arab (Mas’ud: 2006: 164;
Belanda. Akan tetapi, dalam konteks ’ringkasan’. tetap menyimpulkan bahwa Saleh Hadziq, 1994). Sementara itu, Asnawi
Jawa abad ke- ke-19, kelompok yang Darat merupakan perintis sebenarnya Kudus, salah seorang santri Saleh Darat,
biasa memakai pakaian tersebut tidak Selain itu, jika diperhatikan, kitab- tradisi penulisan kitab pegon. Dalam menulis empat kitab pegon, sebagian di
lain adalah Belanda. kitab tarajjumah karya Ahmad ar-Rifai hal ini, Umam (2011, 103) mendasarkan antaranya dalam bentuk puisi (Mas’ud,
merupakan karya orisinal Ahmad kesimpulannya tersebut atas popularitas 2006: 214; Umam, 204), suatu hal yang
Melihat kitab-kitab pegon karya Saleh ar-Rifai yang bersumber pada berbagai karya-karya Saleh Darat di kalangan tidak dilakukan oleh Saleh Darat.
Darat di atas, termasuk afiliasi mazhab literatur yang otoritatif di kalangan komunitas pesantren pada umumnya Selain itu, argumen kemiripan bentuk
Saleh Darat yang dinyatakan secara Islam Sunni. Oleh karena itu, pemikiran dibanding karya-karya Ahmad ar-Rifai dan gaya kitab-kitab pegon abad ke-20
eksplisit dalam banyak karya tulisnya, keagamaan Ahmad ar-Rifai yang dan atas kemiripan bentuk dan gaya dengan kitab-kitab Saleh Darat dengan
dapat disimpulkan bahwa antara Ahmad terkandung di dalam kitab tarajjumah kitab-kitab pegon yang ditulis pada sendirinya juga mengandung kelemahan
ar-Rifai Kalisalak dan Saleh Darat tidak itu juga memperlihatkan kesetiaannya abad ke- ke-20 dengan karya-karya Saleh mengingat kitab-kitab pegon yang
ada perbedaan substansial berkaitan terhadap doktrin Islam Sunni. Meskipun Darat daripada dengan karya-karya ditulis pada abad ke-20, sebagaimana
dengan orientasi keagamaan yang demikian, pada tataran implementasi, Ahmad ar-Rifai. diakui sendiri oleh Umam (2011, 240),
mereka anut. Perbedaan yang tampak sikap dan pandangan keagamaan berbeda dengan kitab-kitab pegon karya
hanya terletak dalam gaya penulisan Ahmad ar-Rifai seringkali mengundang Jika diperhatikan, argumen popularitas Saleh Darat; dalam hal ini hampir semua
kitab-kitab pegon. Jika Ahmad ar-Rifai kontroversi, seperti yang terlihat dalam yang digunakan oleh Umam untuk karya terjemahan dan komentar tetap
menulis kitab-kitab pegon hampir kasus rukun Islam hanya satu dan menyimpulkan bahwa Saleh Darat mencantumkan teks Arabnya yang
9
semuanya dalam bentuk nazam, maka kritiknya yang tajam terhadap para merupakan perintis sebenarnya disertai dengan terjemahan antarbaris.
Saleh Darat menulis kitab-kitab pegon birokrat tradisional dan tokoh agama penulisan kitab pegon di atas tampak Terlepas dari kelemahan berbagai
dalam bentuk prosa. Jika kitab-kitab yang mau bekerja sama dengan pihak memiliki kelemahan mengingat ukuran argumen tersebut, kehadiran Saleh Darat
pegon karya Ahmad ar-Rifai merupakan kolonial. popularitas yang digunakan oleh dan karya-karyanya telah memberi
karya orisinal, meskipun diakui Umam itu tampak tidak jelas. Hal ini kontribusi yang besar bagi tradisi
sendiri oleh Ahmad ar-Rifai sebagai Meskipun kemunculan Saleh Darat dan mengingat komunitas pesantren yang penulisan naskah-naskah keagamaan di
kitab terjemahan, maka kitab-kitab karya-karyanya itu sesudah Ahmad dimaksud oleh Umam itu hanya terbatas Jawa pada abad ke-19.
pegon Saleh Darat sebagian memang ar-Rifai, Chairudin (2002: 8-9) justru pada komunitas pesantren yang secara
terjemahan, namun tidak sekadar menilai Saleh Darat sebagai orang genealogi intelektual berafiliasi ke Berdasarkan paparan di atas, tampak
terjemahan, tetapi disertai juga dengan pertama yang mengarang kitab pegon, Pesantren Saleh Darat. Beberapa santri terlihat bahwa para penulis santri, baik
komentar panjang. Dalam konteks ini, suatu kesimpulan yang tampaknya Saleh Darat yang berhasil menjadi kiai yang hidup di lingkungan keraton
tidak berlebihan jika Umam (2011, 102) tidak didasarkan atas bukti-bukti berpengaruh, seperti Hasyim Asy’ari maupun di lingkungan pesantren,
menyimpulkan bahwa pola penulisan tekstual yang memadai. Sementara Tebuireng dan Mahfudz Termas tidak memainkan peran penting dalam tradisi
Saleh Darat dalam kitab-kitab pegonnya itu, Umam (2011, 102-103), meskipun mengikuti jejak Saleh Darat dalam penulisan naskah-naskah keagaman
sebenarnya mengikuti tradisi penulisan mengakui bahwa Ahmad ar-Rifai lebih menulis kitab pegon. Sebaliknya, kedua berbahasa Jawa pada abad ke-19.
600 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 601

