Page 609 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 609

kitab tarajjumah karangannya dengan   Setelah merasa cukup belajar di   pesantren maupun sebagai penulis kitab-  Islam (Umam, 2011, 133). Sebagai kiai
 sendirinya juga memperlihatkan   pesantren-pesantren Jawa, sekitar   kitab keagamaan. Dalam konteks ini,   pesantren yang merupakan eksponen
 semangat Ahmad ar-Rifai dalam   tahun 1835 Saleh Darat diantar oleh   Saleh Darat memainkan peran sebagai   abad ke- ke-19 dan yang menyerap
 menerjemahkan ajaran Islam di tengah-  ayahnya pergi ke Mekah dalam rangka   kiai pesantren yang mendidik para   tradisi keilmuan dari pusat keilmuan di
 tengah masyarakat Jawa.  mencari ilmu. Sebelum sampai ke   santri serta menyampaikan dakwah ke   Tanah Suci, Saleh Darat jelas mengikuti
 Mekah, Saleh Darat bersama ayahnya   tengah-tengah masyarakat dan sekaligus   orientasi keilmuan yang menjadi
 Selain Ahmad ar-Rifai, di kalangan   singgah di Singapura dan berinteraksi   sebagai punulis kitab-kitab keagamaan   trend di tanah Suci tersebut, yakni
 pesantren Jawa juga muncul penulis   dengan komunitas muslim di Singapura   berbahasa Jawa dengan aksara pegon.  penguatan dimensi syariat dengan
 produktif dari Semarang, Jawa Tengah,   (Munir, 2007: 42; Umam, 2011, 120).   tanpa mengabaikan dimensi tasawuf.
 yaitu Muhammad Saleh bin Umar,   Setelah beberapa waktu singgah di   Tidak berbeda dengan Ahmad ar-Rifai,   Penguatan orientasi keilmuan tersebut
 yang dikenal dengan sebutan Kiai Saleh   Singapura, Saleh Darat bersama ayahnya   Saleh Darat juga menulis sejumlah   tampak terlihat dengan jelas dalam
 Darat. Saleh Darat adalah putra Kiai   meneruskan perjalanan menuju Mekah.   kitab dalam bahasa Jawa dengan aksara   karya-karya Saleh Darat. Dari 12 kitab
 Umar, Jepara, seorang kiai dan sekaligus   Selama di Mekah, Saleh Darat belajar   pegon. Pilihan Saleh Darat untuk   pegon yang ditulis oleh Saleh Darat,
 seorang pejuang pada pasa perang   kepada beberapa ulama Haramain,   menggunakan bahasa Jawa dengan   sebagaimana yang diinventarisasi dan
 Jawa yang dipimpin oleh Pangeran   seperti Syaikh Muhammad Muqri’ al-  aksara pegon dalam karya-karyanya itu   diklasifikasikan oleh Umam (2011, 133-
 Dipanagara. Saleh Darat dilahirkan pada   Misri al-Maliki, Syaikh Muhammad bin   tampaknya berkaitan langsung dengan   134), empat di antaranya merupakan
 tahun 1820 di desa Kedung Cumpleng,   Sulaiman Hasbullah, Sayyid Muhammad   masyarakat pembaca yang hendak   kitab fikih, yaitu Majmµ‘ah asy-Syari‘ah
 Mayong, Jepara, Jawa tengah (Munir,   Zaini Dahlan, Syaikh Ahmad an-  dituju, yakni masyarakat Jawa-santri   al-Kafiyah lil-‘Awwam, Fashalatan, Lata’if
 2007: 37; Umam, 2011, 119).  Nahrawi al-Misri al-Maliki, Syaikh Zahid,   yang tidak memiliki akses langsung   at-taharah wa Asrar as-¢alah, dan Manasik
 ulama asal Indoensia yang mengajar   ke sumber-sumber primer berbahasa
 Sebagaimana umumnya anak kiai, Saleh   Arab karena keterbatasan kemampuan   al-hajj wa al-‘Umrah wa Adab az-Ziyarah
 Darat untuk pertama kalinya belajar   di Haramain, Syaikh ‘Umar asy-Syami,   bahasa Arab. Dengan demikian, apa   lisayyid al-Mursalin, sementara tiga lainya
 Syaikh as-Sumbulawi al-Misri, dan
 dasar-dasar pengetahuan agama Islam   yang ditempuh oleh Saleh Darat melalui   merupakan kitab tasawuf, yaitu Minhaj
 kepada orang tuanya sendiri. Setelah itu,   Syaikh Jamal (Munir, 2007; 44).  penulisan kitab-kitab beraksara pegon   al-Atqiya’, Matn al-hikam, dan Munjiyat.
 Saleh Darat meneruskan belajar kepada   Seiring berita kematian ayahnya, Saleh   itu merupakan upaya menerjemahkan   Adapun dalam disiplin keilmuan
 kiai-kiai pesantren di kawasan Jawa   Darat pulang kembali ke Jawa Tengah.   ajaran Islam sesuai dengan kondisi   lainnya, Saleh Darat hanya menulis
 Tengah, seperti Kiai Syahid Margoyoso,   Berbekal ilmu pengetahuan Islam yang   masyarakatnya, sebuah upaya yang   satu kitab dalam bidang akidah, yaitu
 Pati; Kiai Muhammad Shalih bin   telah dipelajari, baik dari ulama Jawa   disebut oleh Umam (2011, 214) sebagai   Tarjamah Sabil al-‘abid ‘ala Jauharah at-
 Asnawi, Kudus; Kiai Ishaq, Damaran,   maupun ulama Mekah, sekitar tahun   lokalisasi Islam dalam konteks lokal.  Tauhid, satu kitab dalam bidang tafsir,
 Semarang; Kiai Abu Abdillah, Semarang;   1870 Saleh Darat mendirikan pesantren   yaitu Faid ar-Rahman fi Tarjamah Tafsir
 Sayyid Ahmad Bafaqih, Semarang; dan   di Semarang, Jawa Tengah (Umam,   Sepanjang kariernya sebagai   Kalam Maliki ad-Dayyan dan satu kitab
 Syekh Abdul Ghani Bima, seorang kiai   2011, 121). Pendirian pesantren tersebut   kiai pesantren, Saleh Darat telah   dalam bidang ulumul Qur’an, yaitu al-
 dari Bima yang menetap di Semarang   tampaknya menandai babak baru bagi   menghasilkan 12 karya tulis yang   Mursyid al-Wajiz fi ‘Ilm al-Qur’an. Selain
 (Munir, 2007: 40-41).  kehidupan Saleh Darat, baik sebagai kiai   mencakup berbagai disiplin keilmuan   itu, Saleh Darat juga menulis komentar



 596  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   597
   604   605   606   607   608   609   610   611   612   613   614