Page 605 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 605

pada masa Surakarta awal (Ras 2014,   pemahaman Yasadipura I yang   memperlihatkan dimensi keislamannya.   Sebagai pujangga Jawa yang memiliki
 285; Soebardi 1975, 20).  mendalam terhadap berbagai dimensi   T. Padmanegara adalah pengarang   latar belakang pendidikan pesantren
 Islam yang dianut oleh muslim Jawa.   Suluk Tekarwedi; anak Yasadipura I,   Tegalsari, Ponorogo, Ranggawarsita
 Selain itu, hal lain yang juga   Selain itu, Yasadipura I juga menulis   yakni Yasadipura II (Ranggawarsita   banyak menghasilkan karya-karya
 membedakan Yasadipura I dengan   cerita-cerita keislaman yang berasal   I), seorang alumni pesantren Tegalsari   keislaman yang sufistik. Suluk Saloka
 Carik Bajra adalah komitmen   dari Melayu, seperti Serat Iskandar,   Ponorogo, merupakan anggota tim   Jiwa, Suluk Supanalaya, Serat Pamoring
 Yasadipura I untuk tetap berada di jalur   Serat Menak dan menulis versi baru   penulis Serat Centini; Ranggasasmita,   Kawula Gusti, Serat Paramayoga, Serat
 kepujanggaan; dalam hal ini dibuktikan   dari Serat Anbiya, yang dikenal dengan   salah satu anak Yasadipura II, adalah   Hidayat Jati, Suluk Sukma Lelana (Simuh
 dengan penolakannya atas tawaran   sebagai Serat Tapel Adam (Soebardi, 1975:   pengarang Serat Walisana dan Suluk Aceh;   1988, 51–61) merupakan karya-karya
 untuk menempati jabatan politik sebagai   24; Ras, 2014: 282). Menurut Ras (2014:   dan Ranggawarsita III adalah pengarang   Rangawarsita yang memperlihatkan
 menteri (Soebardi, 1975: 20; Ras, 2014:   282), keakraban Yasadipura I dengan   Serat Hidayat Jati (Florida 1995, 179–80).  dengan jelas sifat sufistiknya.
 286). Totalitas Yasadipura I dalam   berbagai cerita keislaman tersebut tidak
 menekuni karier kepujanggaan tersebut   dapat dilepaskan dari latar belakang   Dari sekian pujangga keluarga   Secara umum, dari segi bentuk karya-
 membuat karya-karyanya lebih variatif   pendidikannya di pesantren.  Yasadipura di atas, Ranggawarsita   karya keislaman yang ditulis oleh
 dibandingkan dengan karya-karya   merupakan pujangga Jawa terbesar   para pujangga santri yang hidup di
 Carik Bajra. Jika karya-karya Carik Bajra   Upaya menghidupkan kembali dunia   dan yang paling produktif. Sepanjang   lingkungan keraton di atas sebagian
 tidak ada yang berkaitan dengan aspek   sastra Jawa setelah mengalami masa   kariernya sebagai pujangga keraton,   besar ditulis dengan mengikuti arus
 keislaman, maka karya-karya Yasadipura   kevakuman yang dirintis oleh Carik   Ranggawarsita telah menghasilkan   umum genre kesusastraan Jawa, yakni
 I merambah pada bidang keislaman yang   Bajra, dan kemudian diteruskan oleh   sekitar 70 karya tulis yang mencakup   puisi dengan metrum macapat, suatu
 dikemas dalam bentuk yang kreatif, di   Yasadipura I di atas tampaknya terus   berbagai bidang (Tedjowirawan,   metrum yang memang asli Jawa.
 samping tetap melakukan penulisan   berlanjut hingga abad ke-19. Dalam   2009: 13). Selain itu, kebesaran   Adapun dari segi isi, karya-karya
 ulang terhadap khazanah sastra Jawa   konteks ini, keturunan Yasadipura   Ranggawarsita sebagai pujangga   para pujangga santri di atas tampak
 kuno sebagai bagian dari tugasnya   I terus memainkan peran penting   Jawa tampaknya juga berkaitan   beragam: sebagian berupa cerita-
 sebagai pujangga resmi keraton. Serat   dalam perkembangan kesusastraan   dengan adanya inovasi dalam karya-  cerita keislaman, seperti Serat Anbiya,
 Cabolek merupakan salah satu karya   Jawa pada abad ke-19. Penting untuk   karyanya, seperti penggunaan bentuk   Serat Tapel Adam, dan Serat Menak, dan
 kreatif yang membuktikan kepedulian   dicatat, keluarga Yasadipura I, mulai   prosa untuk sebagian karyanya   sebagian lainnya berisi ajaran moral
 Yasadipura I terhadap aspek keislaman   dari ayahnya, yakni T. Padmanegara,   dan inovasi pada tataran puitik di   sufistik, seperti Suluk Tekarwedi, Suluk
 di zamannya. Sebagaimana diketahui,   hingga anak cucu Yasadipura I   sejumlah karyanya yang berbentuk   Aceh, dan Serat Hidayat Jati. Dengan
 Serat Cabolek merupakan puisi naratif   merupakan pujanggga Jawa yang   puisi (Tedjowirawan, 2009: 10-12. Oleh   demikian, dalam menyampaikan pesan
 yang menggambarkan pertentangan   memiliki latar belakang pendidikan   karena itu, atas dasar produktivitas   keislaman, para pujangga santri yang
 antara Islam legalistik dan Islam   pesantren (Florida 1995, 175). Oleh   dan sifat inovatif dalam karya-  hidup di lingkungan keraton itu tetap
 sufistik yang terjadi di kalangan Islam   karena itu, tidak mengherankan jika   karyanya, Ranggawarsita mendapat   menggunakan piranti kesusastraan
 Jawa. Jalinan cerita dalam Serat Cabolek   karya-karya pujangga Jawa keluarga   gelar sebagai pujangga penutup   yang berasal dari kebudayaan Jawa
 tersebut tampak jelas memperlihatkan   Yasadipura sebagian di antaranya   (Simuh 1988, 48).  sendiri. Adapun dari segi isi, karya-



 592  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   593
   600   601   602   603   604   605   606   607   608   609   610