Page 603 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 603

keraton itu banyak di antaranya   dapat dikatakan sebagai masa vakum   dengan gelar Tumenggung Tirtawiguna;   pasukan pengawal Pakubuwana II
 berisi pujian terhadap kebesaran raja   bagi sejarah kesusastraan Jawa akibat   dalam hal ini tugas resmi Carik Bajra   (Soebardi 1975, 18–19), kemudian setelah
 dan dimaksudkan sebagai bentuk   musnahnya berbagai perpustakaan   adalah sebagai penulis sejarah kerajaan.   itu ia memasuki karier di bidang tulis-
 persembahan kepadanya. Dengan   dan koleksi pribadi sebagai dampak   Di samping memiliki kecakapan di   menulis sebagai penulis sekretariat
 demikian, melihat posisi pengarang/  perang Tionghoa. Meskipun demikian,   bidang bahasa dan kesusastraan Jawa,   keraton di bawah pimpinan Pangeran
 penulis keraton itu di hadapan raja,   kekacauan politik tersebut tampaknya   Carik Bajra ternyata juga memiliki   Wijil Kadilangu. Sebagai staf sekretariat
 sulit diharapkan muncul karya-karya   hanya mampu menghentikan sementara   kecakapan dalam bidang politik. Oleh   keraton, Yasadipura I mengemban dua
 dari penulis keraton yang berisi kritik   kegiatan kesusastraan di lingkungan   karena itu, tidak mengherankan jika   tugas penting kerajaan, yakni upaya
 terbuka terhadap penguasa.  keraton. Setidak-tidaknya, semenjak   pada akhirnya Pakubuwana II dan   penentuan versi kanonik sejarah
 tahun 1757 kehidupan kesusastraan   III mengangkatnya sebagai penasihat   kejatuhan keraton Surakarta dan
 Dalam konteks keraton Jawa,   di lingkungan keraton Surakarta   politiknya.  penemuan kembali khazanah naskah
 perkembangan tradisi penulisan naskah,   mengalami kebangunan kembali berkat   keraton yang hilang (Ras 2014, 278–79).
 baik naskah kesuastraan maupun naskah   dua tokoh sentralnya, yakni Carik Bajra   Peran yang dimainkan oleh Carik
 keagamaan, tidak dapat dilepaskan dari   dan Yasadipura I (Ras 2014, 276–77).  Bajra sebagai penasihat politik Raja   Dalam upaya penemuan kembali
 peran penting yang dimainkan oleh   Jawa tampaknya membawa pengaruh   khazanah sastra Jawa keraton yang
 keluarga kerajaan dan dan para pujangga   Penting untuk diperhatikan, kedua   terhadap perannya sebagai pujangga   hilang tersebut di atas, Yasadipura
 yang berlatar belakang pendidikan   tokoh sentral dalam proses kebangunan   keraton. Oleh karena itu, meskipun   I melakukannya dengan berbagai
 pesantren. Dalam konteks ini, raja atau   kembali tradisi tulis kesusastraan Jawa   berlatar belakang pesantren, Carik   cara: penulisan ulang, penggubahan,
 keluarga kerajaan memainkan peran   keraton tersebut di atas merupakan   Bajra tidak sempat menulis karya yang   dan penerjemahan sastra lama.
 sebagai pihak pengayom, sementara   alumni pesantren, yang kemudian   memperlihatkan keterkaitannya secara   Dalam konteks ini, karya-karya
 pujangga alumni pesantren memainkan   meniti karier di lingkungan keraton   langsung dengan dunia keislaman.   sastra yang menjadi lahan garapan
 peran sebagai penulis yang mendapat   hingga mencapai puncak kariernya   Sejumlah karya yang dianggap ditulis   Yasadipura I dalam menjalankan misi
 pengayoman dari pihak keluarga   sebagai sebagai pujangga keraton. Carik   oleh Carik Bajra sepanjang kariernya   kebudayaan dari pihak keraton itu
 kerajaan. Peran yang dimainkan oleh   Bajra adalah pujangga keraton yang   sebagai pujangga keraton umumnya   mencakup karya-karya yang berasal
 kedua pihak tersebut dapat dilihat dari   memulai karier kepujanggannya di   berkaitan dengan historiografi,   dari khazanah sastra Islam yang
 sejarah perkembangan kesusastraan Jawa   keraton mulai dari bawah, yakni sebagai   leksikografi, roman pra-Islam, dan   berasal dari kawasan pesisir produk
 periode Kartasura hingga Surakarta.   juru tulis Tumenggung Kartanegara.   segi-segi didaktis ketatanegaraan dan   kreativitas masyarakat santri dan
 Dari perspektif historis, perkembangan   Setelah itu Carik Bajra diangkat oleh   kehidupan keraton (Ricklefs 1998, 172).  khazanah sastra Jawa Kuno warisan
 kesusastraan di lingkungan keraton   Pakubuwana II sebagai lurah carik (Ras   masa pra-Islam (Ras 2014, 280–82).
 Jawa sempat terhenti akibat kekacauan   2014, 277; Ricklefs 1998, 171). Lambat-laun   Berbeda dengan Carik Bajra, setelah   Atas prestasi gemilang Yasadipura I
 politik sebagai dampak langsung perang   karier Carik Bajra semakin meningkat   menyelesaikan pendidikannya di   dalam menemukan kembali khazanah
 saudara, termasuk di dalamnya perang   yang ditandai dengan pengangkatannya   pesantren Kedu di bawah asuhan   sastra jawa yang hilang tersebut, tidak
 yang melibatkan orang-orang Tionghoa.   sebagai pujangga keraton untuk   Kiai Anggamaya, Yasadipura I meniti   berlebihan jika Yasadipura I dinilai
 Menurut J. J. Ras, periode 1742-1755   menggantikan Pangeran Adilangu   kariernya di keraton sebagai anggota   sebagai pendiri kesusastraan Jawa



 590  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   591
   598   599   600   601   602   603   604   605   606   607   608