Page 613 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 613

memakan jas, topi, dan dasi tersebut   di dunia Islam, seperti tradisi penulisan   dulu dibanding Saleh Darat dalam hal   kiai besar tersebut justru menulis kitab
 sepintas memang tidak ditujukan ke   syarh ’komentar’ dan mukhtashar   menulis kitab beraksara pegon, namun   dalam bahasa Arab (Mas’ud: 2006: 164;
 Belanda. Akan tetapi, dalam konteks   ’ringkasan’.  tetap menyimpulkan bahwa Saleh   Hadziq, 1994). Sementara itu, Asnawi
 Jawa abad ke- ke-19, kelompok yang   Darat merupakan perintis sebenarnya   Kudus, salah seorang santri Saleh Darat,
 biasa memakai pakaian tersebut tidak   Selain itu, jika diperhatikan, kitab-  tradisi penulisan kitab pegon. Dalam   menulis empat kitab pegon, sebagian di
 lain adalah Belanda.  kitab tarajjumah karya Ahmad ar-Rifai   hal ini, Umam (2011, 103) mendasarkan   antaranya dalam bentuk puisi (Mas’ud,
 merupakan karya orisinal Ahmad   kesimpulannya tersebut atas popularitas   2006: 214; Umam, 204), suatu hal yang
 Melihat kitab-kitab pegon karya Saleh   ar-Rifai yang bersumber pada berbagai   karya-karya Saleh Darat di kalangan   tidak dilakukan oleh Saleh Darat.
 Darat di atas, termasuk afiliasi mazhab   literatur yang otoritatif di kalangan   komunitas pesantren pada umumnya   Selain itu, argumen kemiripan bentuk
 Saleh Darat yang dinyatakan secara   Islam Sunni. Oleh karena itu, pemikiran   dibanding karya-karya Ahmad ar-Rifai   dan gaya kitab-kitab pegon abad ke-20
 eksplisit dalam banyak karya tulisnya,   keagamaan Ahmad ar-Rifai yang   dan atas kemiripan bentuk dan gaya   dengan kitab-kitab Saleh Darat dengan
 dapat disimpulkan bahwa antara Ahmad   terkandung di dalam kitab tarajjumah   kitab-kitab pegon yang ditulis pada   sendirinya juga mengandung kelemahan
 ar-Rifai Kalisalak dan Saleh Darat tidak   itu juga memperlihatkan kesetiaannya   abad ke- ke-20 dengan karya-karya Saleh   mengingat kitab-kitab pegon yang
 ada perbedaan substansial berkaitan   terhadap doktrin Islam Sunni. Meskipun   Darat daripada dengan karya-karya   ditulis pada abad ke-20, sebagaimana
 dengan orientasi keagamaan yang   demikian, pada tataran implementasi,   Ahmad ar-Rifai.  diakui sendiri oleh Umam (2011, 240),
 mereka anut. Perbedaan yang tampak   sikap dan pandangan keagamaan   berbeda dengan kitab-kitab pegon karya
 hanya terletak dalam gaya penulisan   Ahmad ar-Rifai seringkali mengundang   Jika diperhatikan, argumen popularitas   Saleh Darat; dalam hal ini hampir semua
 kitab-kitab pegon. Jika Ahmad ar-Rifai   kontroversi, seperti yang terlihat dalam   yang digunakan oleh Umam untuk   karya terjemahan dan komentar tetap
 menulis kitab-kitab pegon hampir   kasus rukun Islam hanya satu  dan   menyimpulkan bahwa Saleh Darat   mencantumkan teks Arabnya yang
 9
 semuanya dalam bentuk nazam, maka   kritiknya yang tajam terhadap para   merupakan perintis sebenarnya   disertai dengan terjemahan antarbaris.
 Saleh Darat menulis kitab-kitab pegon   birokrat tradisional dan tokoh agama   penulisan kitab pegon di atas tampak   Terlepas dari kelemahan berbagai
 dalam bentuk prosa. Jika kitab-kitab   yang mau bekerja sama dengan pihak   memiliki kelemahan mengingat ukuran   argumen tersebut, kehadiran Saleh Darat
 pegon karya Ahmad ar-Rifai merupakan   kolonial.  popularitas yang digunakan oleh   dan karya-karyanya telah memberi
 karya orisinal, meskipun diakui   Umam itu tampak tidak jelas. Hal ini   kontribusi yang besar bagi tradisi
 sendiri oleh Ahmad ar-Rifai sebagai   Meskipun kemunculan Saleh Darat dan   mengingat komunitas pesantren yang   penulisan naskah-naskah keagamaan di
 kitab terjemahan, maka kitab-kitab   karya-karyanya itu sesudah Ahmad   dimaksud oleh Umam itu hanya terbatas   Jawa pada abad ke-19.
 pegon Saleh Darat sebagian memang   ar-Rifai, Chairudin (2002: 8-9) justru   pada komunitas pesantren yang secara
 terjemahan, namun tidak sekadar   menilai Saleh Darat sebagai orang   genealogi intelektual berafiliasi ke   Berdasarkan paparan di atas, tampak
 terjemahan, tetapi disertai juga dengan   pertama yang mengarang kitab pegon,   Pesantren Saleh Darat. Beberapa santri   terlihat bahwa para penulis santri, baik
 komentar panjang. Dalam konteks ini,   suatu kesimpulan yang tampaknya   Saleh Darat yang berhasil menjadi kiai   yang hidup di lingkungan keraton
 tidak berlebihan jika Umam (2011, 102)   tidak didasarkan atas bukti-bukti   berpengaruh, seperti Hasyim Asy’ari   maupun di lingkungan pesantren,
 menyimpulkan bahwa pola penulisan   tekstual yang memadai. Sementara   Tebuireng dan Mahfudz Termas tidak   memainkan peran penting dalam tradisi
 Saleh Darat dalam kitab-kitab pegonnya   itu, Umam (2011, 102-103), meskipun   mengikuti jejak Saleh Darat dalam   penulisan naskah-naskah keagaman
 sebenarnya mengikuti tradisi penulisan   mengakui bahwa Ahmad ar-Rifai lebih   menulis kitab pegon. Sebaliknya, kedua   berbahasa Jawa pada abad ke-19.



 600  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   601
   608   609   610   611   612   613   614   615   616   617   618