Page 581 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 581
yang dimusnahkan dalam peristiwa ‘Arifin merupakan karya Hamzah yang istana di zaman tiga Sultan, yakni al-muhaqqiqin, Kitab al-Khirqah, Nur
pembakaran kitab-kitab wujudiyah yang terbesar dan orisinal. ‘Alauddin Ri’ayat Syah (1588-1604), ‘Ali al-Daqa’iq, dan Tanbih al-Tullab. Adapun
terjadi di Aceh pada sekitar 1637 akibat Ri’ayat Syah (1604-7), dan yang paling karya-karyanya yang berbahasa Melayu
fatwa dari al-Raniri. Sebaliknya, al-Muntahi, adalah risalah dekat di antaranya, Iskandar Muda (1607- antara lain: Anwar al-Daqa’iq, Bayan al-
prosa Hamzah yang paling pendek, 36). Memperhatikan karya-karyanya, Qulub, Da’irat al-Wujud, Haqq al-Yaqin,
Syarb al-‘Asyiqin dapat dianggap sebagai meski isinya sangat padat dan dapat dipastikan bahwa Syamsuddin Syarh Ruba’i, Mir’at al-Iman, dan lainnya.
ringkasan ajaran wahdatul wujud Ibn mendalam. Drewes dan Brakel (Drewes mengetahui dengan baik puisi-puisi
‘Arabi, Sadruddin al-Qunawi, dan ‘Abdul and Brakel 1986, 12) menyimpulkan Hamzah Fansuri, meski tidak ada bukti Pada masa awal Islam di Nusantara ini,
Karim al-Jili tentang kesatuan Tuhan dan bahwa al-Muntahi adalah kumpulan tertulis apapun yang menjelaskan bahwa tradisi penulisan dan penerjemahan
alam, tentang cara mencapai makrifat, ayat-ayat al-Quran, hadis Nabi, sajak- ia pernah bertemu langsung dengannya. manuskrip di dunia Melayu, dan kelak
dan tentang amalan tarekat Qadiriyah sajak serta ucapan syatahat para Sufi Jawa juga, juga sangat dipengaruhi oleh
yang dianut oleh Hamzah. Meski inti yang dipergunakan untuk menjelaskan Berbeda dengan Hamzah, Syamsuddin sebuah karya berbahasa Arab berjudul
pembahasannya tentang wahdatul makna keruhanian ungkapan yang tidak hanya menuangkan pemikiran- al-Tuhfah al-mursalah ila ruh al-nabi
wujud, tajalli (penampakan Tuhan), diyakini sebagai hadis Nabi “barang pemikiran teosofi sufistisnya dalam (hadiah yang dipersembahkan untuk
dan ‘isq (mabuk mistik), kitab ini juga siapa mengenal dirinya, maka dia akan karya-karya berbahasa Melayu, ruh Nabi). Karya ini dapat dianggap
memberikan landasan syariatnya dengan mengenal Tuhannya”. melainkan juga bahasa Arab. Ini sebagai teks awal yang dikenal dan
mengemukakan pentingnya tahapan- Selain tiga manuskrip tersebut, dengan sendirinya juga menunjukkan beredar di kalangan Muslim Nusantara.
tahapan dalam menjalani ilmu suluk pemikiran-pemikiran sufistis Hamzah bagaimana kapasitas seorang Kitab ini ditulis pada tahun 1590 oleh
tersebut, yakni syari’at, tarekat, hakikat, Fansuri di atas juga ditemui dalam Syamsuddin pada masa itu, sebagai seorang ulama India, yakni Faḍl Allah
dan makrifat. sejumlah karya puisinya seperti Syair seorang ulama asli Aceh yang memiliki al-Hindi al-Burhanpūri (w. 1620). Ia telah
Karya prosa kedua, Asrar al-‘Arifin, Perahu, Bahrunnisa, Syair Dagang, Syair kapasitas pengetahuan luas di bidang memberikan pengaruh signifikan atas
dikenalnya ajaran dasar tasawuf filosofis
ilmu keagamaan.
merupakan penafsiran atas puisi-puisi si Burung Pingai, dan beberapa lainnya. bahwa Tuhan adalah Wujud yang
sufistis karangan Hamzah sendiri, Hanya saja, sejumlah sarjana masih Kedalaman pengetahuan makrifat Citra-Nya dapat hadir melalui tujuh
yang diselipkan di tengah-tengah hati-hati menisbatkan karya-karya Syamsuddin ditunjukkan antara lain martabat emanasi, yakni Ahadiyyah,
uraiannya. Penulisan karya, yang tersebut sebagai karangan Hamzah dalam karya utamanya yang berbahasa Wahdah, Wahidiyyah, Alam al-Arwah, Alam
paling panjang dibanding karya-karya mengingat bukti-buktinya masih dapat Arab, Jawhar al-Haqa’iq. Ia menjelaskan al-Mithal, Alam al-Ajsam, dan al-Insan al-
Hamzah Fansuri lainnya, ini diilhami diperdebatkan. dengan sangat mendalam pemahaman Kamil. 4
oleh Sawanih karya Ahmad al-Ghazali, Penulisan manuskrip dengan corak tentang martabat lima, menekankan
Tarjuman al-‘Asywaq karya Ibn ‘Arabi, pemikiran sufistik yang dirintis oleh pentingnya tauhid, serta memberikan Kitab al-Tuhfah al-mursalah sendiri
Lama’at karya ‘Iraqi, dan Lawa’ih Hamzah Fansuri dilanjutkan oleh tafsiran atas Nama-nama dan Sifat sebetulnya merupakan risalah pendek
karya ‘Abdurrahman al-Jami. Abdul ulama Aceh berikutnya, Syamsuddin Tuhan di atas landasan la ilaha illallah. tidak lebih dari 10 halaman saja, yang
Hadi meyakini bahwa jika dibanding al-Sumatra’i (1550?-1630), yang diketahui Beberapa karya Syamsuddin lainnya disebut oleh penulisnya sebagai ‚nubdzah‘,
dengan dua risalah lainnya, Asrar al- menjadi Syaikh al-Islam, atau ulama yang berbahasa Arab antara lain: Mir’at atau ringkasan ajaran tasawuf yang
568 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 569

