Page 580 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 580

yang dimusnahkan dalam peristiwa        ‘Arifin merupakan karya Hamzah yang                         istana di zaman tiga Sultan, yakni     al-muhaqqiqin, Kitab al-Khirqah, Nur
            pembakaran kitab-kitab wujudiyah yang   terbesar dan orisinal.                                      ‘Alauddin Ri’ayat Syah (1588-1604), ‘Ali   al-Daqa’iq, dan Tanbih al-Tullab. Adapun
            terjadi di Aceh pada sekitar 1637 akibat                                                            Ri’ayat Syah (1604-7), dan yang paling   karya-karyanya yang berbahasa Melayu
            fatwa dari al-Raniri.                   Sebaliknya, al-Muntahi, adalah risalah                      dekat di antaranya, Iskandar Muda (1607-  antara lain: Anwar al-Daqa’iq, Bayan al-
                                                    prosa Hamzah yang paling pendek,                            36). Memperhatikan karya-karyanya,     Qulub, Da’irat al-Wujud, Haqq al-Yaqin,
            Syarb al-‘Asyiqin dapat dianggap sebagai   meski isinya sangat padat dan                            dapat dipastikan bahwa Syamsuddin      Syarh Ruba’i, Mir’at al-Iman, dan lainnya.
            ringkasan ajaran wahdatul wujud Ibn     mendalam. Drewes dan Brakel (Drewes                         mengetahui dengan baik puisi-puisi
            ‘Arabi, Sadruddin al-Qunawi, dan ‘Abdul   and Brakel 1986, 12) menyimpulkan                         Hamzah Fansuri, meski tidak ada bukti   Pada masa awal Islam di Nusantara ini,
            Karim al-Jili tentang kesatuan Tuhan dan   bahwa al-Muntahi adalah kumpulan                         tertulis apapun yang menjelaskan bahwa   tradisi penulisan dan penerjemahan
            alam, tentang cara mencapai makrifat,   ayat-ayat al-Quran, hadis Nabi, sajak-                      ia pernah bertemu langsung dengannya.  manuskrip di dunia Melayu, dan kelak
            dan tentang amalan tarekat Qadiriyah    sajak serta ucapan syatahat para Sufi                                                              Jawa juga, juga sangat dipengaruhi oleh
            yang dianut oleh Hamzah. Meski inti     yang dipergunakan untuk menjelaskan                         Berbeda dengan Hamzah, Syamsuddin      sebuah karya berbahasa Arab berjudul
            pembahasannya tentang wahdatul          makna keruhanian ungkapan yang                              tidak hanya menuangkan pemikiran-      al-Tuhfah al-mursalah ila ruh al-nabi
            wujud, tajalli (penampakan Tuhan),      diyakini sebagai hadis Nabi “barang                         pemikiran teosofi sufistisnya dalam    (hadiah yang dipersembahkan untuk
            dan ‘isq (mabuk mistik), kitab ini juga   siapa mengenal dirinya, maka dia akan                     karya-karya berbahasa Melayu,          ruh Nabi). Karya ini dapat dianggap
            memberikan landasan syariatnya dengan   mengenal Tuhannya”.                                         melainkan juga bahasa Arab. Ini        sebagai teks awal yang dikenal dan
            mengemukakan pentingnya tahapan-        Selain tiga manuskrip tersebut,                             dengan sendirinya juga menunjukkan     beredar di kalangan Muslim Nusantara.
            tahapan dalam menjalani ilmu suluk      pemikiran-pemikiran sufistis Hamzah                         bagaimana kapasitas seorang            Kitab ini ditulis pada tahun 1590 oleh
            tersebut, yakni syari’at, tarekat, hakikat,   Fansuri di atas juga ditemui dalam                    Syamsuddin pada masa itu, sebagai      seorang ulama India, yakni Faḍl Allah
            dan makrifat.                           sejumlah karya puisinya seperti Syair                       seorang ulama asli Aceh yang memiliki   al-Hindi al-Burhanpūri (w. 1620). Ia telah

            Karya prosa kedua, Asrar al-‘Arifin,    Perahu, Bahrunnisa, Syair Dagang, Syair                     kapasitas pengetahuan luas di bidang   memberikan pengaruh signifikan atas
                                                                                                                                                       dikenalnya ajaran dasar tasawuf filosofis
                                                                                                                ilmu keagamaan.
            merupakan penafsiran atas puisi-puisi   si Burung Pingai, dan beberapa lainnya.                                                            bahwa Tuhan adalah Wujud yang
            sufistis karangan Hamzah sendiri,       Hanya saja, sejumlah sarjana masih                          Kedalaman pengetahuan makrifat         Citra-Nya dapat hadir melalui tujuh
            yang diselipkan di tengah-tengah        hati-hati menisbatkan karya-karya                           Syamsuddin ditunjukkan antara lain     martabat emanasi, yakni Ahadiyyah,
            uraiannya. Penulisan karya, yang        tersebut sebagai karangan Hamzah                            dalam karya utamanya yang berbahasa    Wahdah, Wahidiyyah, Alam al-Arwah, Alam
            paling panjang dibanding karya-karya    mengingat bukti-buktinya masih dapat                        Arab, Jawhar al-Haqa’iq. Ia menjelaskan   al-Mithal, Alam al-Ajsam, dan al-Insan al-
            Hamzah Fansuri lainnya, ini diilhami    diperdebatkan.                                              dengan sangat mendalam pemahaman       Kamil. 4
            oleh Sawanih karya Ahmad al-Ghazali,    Penulisan manuskrip dengan corak                            tentang martabat lima, menekankan
            Tarjuman al-‘Asywaq karya Ibn ‘Arabi,   pemikiran sufistik yang dirintis oleh                       pentingnya tauhid, serta memberikan    Kitab al-Tuhfah al-mursalah sendiri
            Lama’at karya ‘Iraqi, dan Lawa’ih       Hamzah Fansuri dilanjutkan oleh                             tafsiran atas Nama-nama dan Sifat      sebetulnya merupakan risalah pendek
            karya ‘Abdurrahman al-Jami. Abdul       ulama Aceh berikutnya, Syamsuddin                           Tuhan di atas landasan la ilaha illallah.   tidak lebih dari 10 halaman saja, yang
            Hadi meyakini bahwa jika dibanding      al-Sumatra’i (1550?-1630), yang diketahui                   Beberapa karya Syamsuddin lainnya      disebut oleh penulisnya sebagai ‚nubdzah‘,
            dengan dua risalah lainnya, Asrar al-   menjadi Syaikh al-Islam, atau ulama                         yang berbahasa Arab antara lain: Mir’at   atau ringkasan ajaran tasawuf yang



         568    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   569
   575   576   577   578   579   580   581   582   583   584   585