Page 575 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 575
keagamaan (baca: Islam) Nusantara jelas Selatan, dll (Azra 1994, 2004). Demikian dari abjad Arab adalah: ا (a), ب (b), ت (t), mengalami puncak penyebarannya
tidak dapat dilepaskan dari peranan halnya dalam konteks tulisan, aksara ث (tha), ج (j), ح (ḥ), خ (kh), د (d), ذ (dh), ر (r), yang luar biasa.
aksara Jawi. Melalui domestikasi Jawi sama sekali tidak merujuk pada ز (z), س (s), ش (sh), ص (ś), ض (ỗ), ط (ţ), ظ (ż), Para Sultan di kawasan ini, yang
aksara Arab ke dalam Jawi ini, maka tulisan atau bahasa Jawa, melainkan ع (‘), غ (g), ف (f), ق (q), ك (k), ل (l), م (m), ن seringkali mengidentifikasi dirinya
dimulailah penulisan dan penerjemahan pada tulisan Arab yang mendapat (n), و (w), هـ (h), ء (‘), dan ي (y). Sedangkan sebagai pelindung Islam, dan bahkan
teks-teks keagamaan, yang berasal dari modifikasi sedemikian rupa serta 6 abjad lainnya yang merupakan bentuk bayangan Tuhan di bumi (zillullah fil
bahasa Arab. Karenanya, penting untuk kemudian digunakan untuk menuliskan modifikasi adalah: ﺅ (v), چ (c), غ (ng), ڤ (p), ard), juga menjadi faktor penting dalam
mengupas lebih jauh tentang aksara Jawi beberapa bahasa daerah di Nusantara, گ (g), dan پ (ny). akselerasi sosialisasi aksara Jawi ini.
ini. seperti Melayu, Aceh, Minang, Wolio,
Bugis-Makassar, dan beberapa lainnya. Seperti dikemukakan di atas, belum Sultan Bima misalnya, pada tahun
Bagi sebagian kalangan awam, Aksara Jawi yang digunakan untuk ada data pasti yang dapat menjelaskan 1055/1645, memerintahkan agar Kronik
kata “Jawi” terkadang langsung bahasa Jawa ---dan beberapa bahasa lain, bagaimana dan darimana asal mula Istana (Bo’) ditulis di atas kertas “dengan
1
mengingatkan dan menghubungkan seperti Sunda--- sendiri, lebih dikenal munculnya 6 abjad Jawi tersebut, kendati memakai bahasa melayu dengan rupa tulisan
ingatan dengan suatu wilayah tertentu dengan sebutan pegon. penjelasan tentang adanya pengaruh yang diridlai Allah ta’ala” (Chambert-Loir
di Nusantara, yakni Pulau Jawa. Tentu aksara Parsi tampaknya juga patut and Salahuddin 2000, xii).
saja asumsi ini tidak tepat, karena “Jawi” Memang, memperhatikan ragam dan dipertimbangkan, karena tidak terlalu Lebih dari itu, aksara Jawi jelas juga
dalam hal ini merujuk pada wilayah jumlah abjadnya, aksara Jawi dapat masuk akal jika karakter huruf itu merupakan salah satu bentuk penting
Nusantara secara keseluruhan. disebut sebagai bentuk domestikasi muncul begitu saja tanpa ada inspirasi artikulasi masyarakat di dunia Melayu-
(baca: penyesuaian) aksara Arab ke yang melatar belakanginya.
Dalam konteks tradisi Islam misalnya, dalam bahasa daerah di Indonesia, Indonesia khususnya, dan Nusantara
sebutan ulama Jawi sama sekali tidak khususnya Melayu. Domestikasi yang Hanya saja, terlepas dari bagaimana pada umumnya, dalam menerima dan
merujuk hanya pada pada mereka yang dimaksud terutama berkaitan dengan dan darimana asal-usul 6 abjad Jawi menerjemahkan Islam ke dalam muatan
berasal dari tanah Jawa, melainkan perubahan di sana sini agar sesuai tersebut, tidak diragukan bahwa sejauh lokal (lihat Hooker 1983). Dan, muatan-
semua ulama asal Nusantara, seperti dengan sistem fonologi bahasa lokal menyangkut sejarah penulisan dan muatan lokal semacam inilah yang pada
Abdurrauf ibn Ali al-Sinkili al-Jawi yang digunakan. Seperti diketahui, penerjemahan manuskrip Nusantara gilirannya menjadi salah satu karakter
dari Aceh, Abdussamad al-Palimbani aksara Jawi merangkum seluruh abjad dengan menggunakan aksara Jawi, distingtif yang membedakan Islam di
dari Palembang, Muhammad Arsyad Arab (29 huruf) seraya menambahkan Islam merupakan salah satu faktor wilayah ini dengan Islam di wilayah
al-Banjari dari Banjar, Kalimantan, 6 abjad tambahan, sehingga jumlahnya terpenting di dalamnya, karena aksara lainnya.
Shaikh Yusuf al-Makassari dari menjadi 35 huruf (Musa 1999, 11–12; Arab sendiri adalah tulisan yang Beberapa wilayah di Melayu-Nusantara
Makassar, Nawawi al-Bantani dari Jawa, Seock 1990, bab 2). Enam abjad tambahan digunakan untuk menulis kitab suci umumnya, dan Melayu-Indonesia
Muhammad Zain al-Din bin Muhammad tersebut tentu saja dimaksudkan untuk ummat Islam, al-Quran, sehingga khususnya, sejak awal telah memiliki
Nadwi al-Sumbawi dari Sumbawa, mengakomodasi bunyi dalam bahasa karenanya, seiring dengan intensifikasi tradisi keberaksaraan yang tinggi, dan
Shaikh Dawud al-Fatani dari Patani, daerah yang tidak dikenal dalam bahasa Islamisasi yang terjadi di wilayah mungkin bahkan lebih tinggi dari tradisi
Abdul Majid al-Mindanawi dari Filipina dan tulisan Arab. 29 huruf yang berasal Melayu-Indonesia, aksara Jawi pun keberaksaraan yang terdapat di kalangan
562 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 563

