Page 574 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 574

keagamaan (baca: Islam) Nusantara jelas   Selatan, dll (Azra 1994, 2004). Demikian                  dari abjad Arab adalah: ا (a), ب (b), ت (t),   mengalami puncak penyebarannya
            tidak dapat dilepaskan dari peranan     halnya dalam konteks tulisan, aksara                        ث (tha), ج (j), ح (ḥ), خ (kh), د (d), ذ (dh), ر (r),   yang luar biasa.
            aksara Jawi. Melalui domestikasi        Jawi sama sekali tidak merujuk pada                         ز (z), س (s), ش (sh), ص (ś), ض (ỗ), ط (ţ), ظ (ż),   Para Sultan di kawasan ini, yang
            aksara Arab ke dalam Jawi ini, maka     tulisan atau bahasa Jawa, melainkan                         ع (‘), غ (g), ف (f), ق (q), ك (k), ل (l), م (m), ن   seringkali mengidentifikasi dirinya
            dimulailah penulisan dan penerjemahan   pada tulisan Arab yang mendapat                             (n), و (w), هـ (h), ء (‘), dan ي (y). Sedangkan   sebagai pelindung Islam, dan bahkan
            teks-teks keagamaan, yang berasal dari   modifikasi sedemikian rupa serta                           6 abjad lainnya yang merupakan bentuk   bayangan Tuhan di bumi (zillullah fil
            bahasa Arab. Karenanya, penting untuk   kemudian digunakan untuk menuliskan                         modifikasi adalah: ﺅ (v), چ (c), غ (ng), ڤ (p),   ard), juga menjadi faktor penting dalam
            mengupas lebih jauh tentang aksara Jawi   beberapa bahasa daerah di Nusantara,                      گ (g), dan پ (ny).                     akselerasi sosialisasi aksara Jawi ini.
            ini.                                    seperti Melayu, Aceh, Minang, Wolio,
                                                    Bugis-Makassar, dan beberapa lainnya.                       Seperti dikemukakan di atas, belum     Sultan Bima misalnya, pada tahun
            Bagi sebagian kalangan awam,            Aksara Jawi yang digunakan untuk                            ada data pasti yang dapat menjelaskan   1055/1645, memerintahkan agar Kronik
            kata “Jawi”  terkadang langsung         bahasa Jawa ---dan beberapa bahasa lain,                    bagaimana dan darimana asal mula       Istana (Bo’) ditulis di atas kertas “dengan
                      1
            mengingatkan dan menghubungkan          seperti Sunda--- sendiri, lebih dikenal                     munculnya 6 abjad Jawi tersebut, kendati   memakai bahasa melayu dengan rupa tulisan
            ingatan dengan suatu wilayah tertentu   dengan sebutan pegon.                                       penjelasan tentang adanya pengaruh     yang diridlai Allah ta’ala” (Chambert-Loir
            di Nusantara, yakni Pulau Jawa. Tentu                                                               aksara Parsi tampaknya juga patut      and Salahuddin 2000, xii).
            saja asumsi ini tidak tepat, karena “Jawi”   Memang, memperhatikan ragam dan                        dipertimbangkan, karena tidak terlalu   Lebih dari itu, aksara Jawi jelas juga
            dalam hal ini merujuk pada wilayah      jumlah abjadnya, aksara Jawi dapat                          masuk akal jika karakter huruf itu     merupakan salah satu bentuk penting
            Nusantara secara keseluruhan.           disebut sebagai bentuk domestikasi                          muncul begitu saja tanpa ada inspirasi   artikulasi masyarakat di dunia Melayu-
                                                    (baca: penyesuaian) aksara Arab ke                          yang melatar belakanginya.
            Dalam konteks tradisi Islam misalnya,   dalam bahasa daerah di Indonesia,                                                                  Indonesia khususnya, dan Nusantara
            sebutan ulama Jawi sama sekali tidak    khususnya Melayu. Domestikasi yang                          Hanya saja, terlepas dari bagaimana    pada umumnya, dalam menerima dan
            merujuk hanya pada pada mereka yang     dimaksud terutama berkaitan dengan                          dan darimana asal-usul 6 abjad Jawi    menerjemahkan Islam ke dalam muatan
            berasal dari tanah Jawa, melainkan      perubahan di sana sini agar sesuai                          tersebut, tidak diragukan bahwa sejauh   lokal (lihat Hooker 1983). Dan, muatan-
            semua ulama asal Nusantara, seperti     dengan sistem fonologi bahasa lokal                         menyangkut sejarah penulisan dan       muatan lokal semacam inilah yang pada
            Abdurrauf ibn Ali al-Sinkili al-Jawi    yang digunakan. Seperti diketahui,                          penerjemahan manuskrip Nusantara       gilirannya menjadi salah satu karakter
            dari Aceh, Abdussamad al-Palimbani      aksara Jawi merangkum seluruh abjad                         dengan menggunakan aksara Jawi,        distingtif yang membedakan Islam di
            dari Palembang, Muhammad Arsyad         Arab (29 huruf) seraya menambahkan                          Islam merupakan salah satu faktor      wilayah ini dengan Islam di wilayah
            al-Banjari dari Banjar, Kalimantan,     6 abjad tambahan, sehingga jumlahnya                        terpenting di dalamnya, karena aksara   lainnya.
            Shaikh Yusuf al-Makassari dari          menjadi 35 huruf (Musa 1999, 11–12;                         Arab sendiri adalah tulisan yang       Beberapa wilayah di Melayu-Nusantara
            Makassar, Nawawi al-Bantani dari Jawa,   Seock 1990, bab 2). Enam abjad tambahan                    digunakan untuk menulis kitab suci     umumnya, dan Melayu-Indonesia
            Muhammad Zain al-Din bin Muhammad       tersebut tentu saja dimaksudkan untuk                       ummat Islam, al-Quran, sehingga        khususnya, sejak awal telah memiliki
            Nadwi al-Sumbawi dari Sumbawa,          mengakomodasi bunyi dalam bahasa                            karenanya, seiring dengan intensifikasi   tradisi keberaksaraan yang tinggi, dan
            Shaikh Dawud al-Fatani dari Patani,     daerah yang tidak dikenal dalam bahasa                      Islamisasi yang terjadi di wilayah     mungkin bahkan lebih tinggi dari tradisi
            Abdul Majid al-Mindanawi dari Filipina   dan tulisan Arab. 29 huruf yang berasal                    Melayu-Indonesia, aksara Jawi pun      keberaksaraan yang terdapat di kalangan



         562    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   563
   569   570   571   572   573   574   575   576   577   578   579