Page 155 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 155
Dalam bulan yang dilaporkan Sambu Besar disinggahi oleh 101 kapal uap dan 42
perahu layar. Pada tanggal 25 Januari 1909 tiba kapal pemburu Edi yang setelah
menjelajahi Selat Durian pada 28 Januari 1909 membantu kapal uap pemerintah
Sperwes yang kandas di Selat Durian. Selanjutnya, kapal uap itu akan menuju ke
Pulau Tujuh dengan maksud membantu posthouder Natuna Besar dan Utara jika
diperlukan. Terutama dalam menangkap para pelaku kejahatan yang melarikan diri
(Het nieuws van den dag voor Nederlandsche Indie, 28 Maret 1909).
Sejalan dengan berkembangnya dunia penerbangan, di Pulau Natuna Besar yang
sebagian besar berupa dataran sangat cocok untuk dibangun sebuah lapangan
udara. Pulau ini juga sangat cocok untuk dijadikan sebagai pangkalan udara dan
laut dalam suatu penyerbuan ke arah selatan. Singapura yang sangat kuat sebagai
pangkalan armada bagi angkatan laut Inggris, pertahanan pangkalan Inggris di Timur
Jauh tergantung padanya dan dalam ancaman terhadap pangkalan armada itu, yang
mungkin bisa muncul pada tahun-tahun berikutnya. Setelah tahun 1941, praktis
Singapura tidak bisa diharapkan sehingga harus ditemukan cara agar pulau-pulau
yang berdekatan dengan Singapura ini dapat dipertahankan (Het nieuws van den dag
voor Nederlandsche Indie, 20 Juli 1939).
Kepulauan Anambas dan Natuna tidak mungkin bisa bertahan terhadap serbuan
musuh dengan prasarana tempur yang dimiliki Belanda saat itu. Hanya dengan
kekuatan udara yang lebih unggul kepulauan itu dapat bertahan. Penguatan angkatan
udara dalam kondisi kritis saat itu harus menjadi prioritas. Hanya dengan cara
ini dalam waktu sangat dekat pelindungan bisa dicapai terhadap ancaman yang
mendesak. Untuk itu, masa pembangunan armada kapal akan memakan waktu terlalu
lama.
Setelah pemerintah Belanda harus meninggalkan wilayah koloni Hindia Belanda,
wilayah ini berada di bawah kekuasaan pasukan pendudukan Jepang, sampai
Jepang menyatakan kalah perang pada Agustus 1945. Momentum kekalahan Jepang
ini dimanfaatkan oleh pemimpin bangsa Indonesia Soekarno dan Hatta untuk
menyatakan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dengan berdalih untuk
melucuti tentara Jepang, Belanda yang membonceng pasukan Inggris menginginkan
agar wilayah bekas koloni Hindia Belanda kembali berada di bawah kekuasaan
Belanda. Melalui perjuangan yang cukup berat, dari dipindahkannya ibu kota negara
ke Yogyakarta, perjuangan dalam menghalangi kembalinya kekuatan kolonial, dan
Agresi Militer I dan II, akhirnya Pemerintah Belanda menyepakati hasil Konferensi
Meja Bundar (KMB) dan mengakui Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 27
Desember 1949. Dengan pengakuan itu, Kedaulatan Indonesia terdiri atas bekas
wilayah Hindia Belanda, dari Sabang hingga Merauke termasuk pulau-pulau di
Kepulauan Natuna.
Kepulauan Riau, sejak 18 Mei 1956 diberikan status Daerah Otonomi Tingkat II yang
dikepalai oleh bupati. Wilayah yang demikian luas dan dikelilingi oleh laut yang luas,
mendorong pemerintah Indonesia untuk meningkatkan status Kepulauan Riau sebagai
138 Sejarah Wilayah Perbatasan Kepulauan Natuna

