Page 150 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 150
Seringnynya terjadi penjarahan dan penyerangan di wilayah Kepulauan Natuna lebih
banyak disebabkan oleh masih jarangnya penduduk yang bermukim di kepulauan
tersebut. Pada saat para perompak datang, tidak banyak yang dapat dilakukan
oleh penduduk. Oleh karena itu, pemerintah kolonial Belanda harus hadir untuk
melakukan pengamanan dan pelindungan terhadap penduduk. Sistem pengamanan
laut kadang kala berfungsi dengan baik, tetapi kadang-kadang juga tidak. Pada tahun
1905 diketahui adanya pergerakan armada Rusia yang mendekati Pulau Natuna.
Pulau ini terletak di perbatasan koloni Hindia Belanda dan masuk dalam Keresidenan
Riau. Keresidenan ini terdiri atas enam afdeeling dan hanya afdeeling Indragiri yang
terletak di daratan Sumatra. Afdeeling lain dibentuk dari gugusan Kepulauan Bintan
atau Riau, Lingga, Karimun, Anambas, dan Natuna. Afdeelingnya adalah Lingga,
Karimun, Batam, Tanjung Pinang, dan Pulau Tujuh.
Di Tanjung Pinang, sebagai ibukota, Residen W.A. de Kanter tinggal seperti
halnya kontrolir H. Van Eck dan para pejabat Eropa, Cina, dan bumiputra lainnya.
Afdeeling Pulau Tujuh mencakup bagian dari keresidenan ini yang letaknya tersebar.
Dengan demikian, pulau-pulau di LCS yang termasuk Kesultanan Riau Lingga dan
taklukannya adalah Kepulauan Natuna, Tambelan, dan Anambas. Di Pulau Siantan,
sebuah pulau yang termasuk dalam gugusan Anambas ditemukan seorang letnan
Cina, tetapi tidak ditemukan asisten residen, kontrolir, atau posthouder yang diangkat
untuk afdeeling Pulau Tujuh. Penduduk dilaporkan “sangat sedikit”, yakni sebanyak
11.705 orang untuk seluruh afdeeling ini. Terempah di Pulau Siantan merupakan ibu
kota keresidenan ini. Penduduknya hanya 458 orang, termasuk 47 orang bumiputra
dan 41 orang Cina, tidak ada orang Eropa atau Timur Asing (Het Tilburgsche Courant,
13 April 1905).
Kondisi yang tidak aman ini menyebabkan orang-orang Cina meninggalkan Pulau
Natuna akibat serangan kaum perompak. Kapal uap Inggris Biliton di bawah Kapten
Gibson pada tanggal 5 September 1906 telah menyelamatkan tujuh orang Cina dalam
sebuah perahu lokal yang terombang-ambing oleh ombak menunggu kematian. Para
awak perahu ketika ditemukan oleh kapal Biliton hampir mati kelaparan. Kapten
Gibson menyelamatkan mereka semua dan merawatnya.
Ketika orang-orang itu pulih, mereka kembali bisa berbicara bahwa 13 hari sebelumnya
mereka berlayar ke laut. Mereka berjumlah 10 orang. Mereka berlayar untuk mencari
kehidupan yang lebih baik dari kondisi yang menderita di Kepulauan Natuna. Mereka
dieksploitasi oleh sebuah kongsi Cina yang memborong penebangan kayu di pulau
itu. Tiga orang dari mereka meninggal di tengah jalan. Dengan ditemukannya
mereka, aparat pemerintahan Belanda di wilayah itu menerima teguran dari Batavia
dan meminta pengawasan ditingkatkan agar peristiwa seperti ini tidak terulang lagi
(Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie, 22 September 1906).
Pemerintah Hindia Belanda menancapkan kekuasaannya di wilayah ini dan berhasil
memaksa penguasa lokal untuk tunduk kepada pemerintah Hindia Belanda bahkan
berhasil untuk memperlakukan taklukannya untuk menyerahkan wilayahnya. Seperti
Mutiara di Ujung Utara 133

