Page 151 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 151
di mana-mana di tempat lain di Kepulauan Hindia Belanda, pemahaman baru tentang
pemerintahan kolonial memaksa orang di Keresidenan Riau untuk meninggalkan
pandangan lama yang terutama membatasi pemerintahan dalam menegakkan
pengawasan atas pemerintahan kesultanan. Apabila kesultanan dianggap melanggar
kesepakatan, pemerintah kolonial akan mengambil tindakan. Dalam kontrak politik
yang dibuat pada tahun 1857 dengan sultan saat itu dinyatakan bahwa semua orang
Cina yang tinggal di kesultanan itu dinyatakan sebagai warga koloni. Jumlah orang
Timur Asing yang ada menurut perhitungan yang dibuat pada 1905 berjumlah
sekitar 18 ribu orang. Sementara itu, jumlah keseluruhan penduduk di keresidenan
itu adalah 112.000 jiwa.
Namun, sejak 1 Januari 1870 di wilayah lain ditempatkan para pejabat Eropa,
terkecuali di Pulau Tujuh, yang letaknya berada di LCS. Pengawasan atas kepulauan
ini dianggap belum diperlukan. Mereka yang tinggal di kepulauan itu setiap tahun
selalu diganggu oleh wakil atau utusan sultan dan Raja Muda Riau. Para utusan itu
datang untuk melakukan perampokan, perompakan, pemerasan, dan pembunuhan.
Sebelum 1870, pemerintah Eropa di Riau pada dasarnya tidak pernah menyentuh
Pulau Tujuh. Kemudian afdeeling ini beberapa kali dikunjungi oleh residen atau salah
seorang kontrolir. Khalayak umum merasa bersyukur karena berkat perjalanan ini,
bisa diperoleh gambaran lengkap tentang peta, deskripsi penduduk, dan kepulauan
yang diterbitkan pada 1898 dalam Tijdschrift van Aardrikskundige Genootschap.
Pungutan tidak sah oleh atau atas nama penguasa kesultanan dan kerusuhan lain
yang terungkap sekitar masa ini memunculkan niat pada pemerintah Hindia untuk
menempatkan seorang pejabat Eropa di Pulau Tujuh.
Pada suatu perjalanan yang dilakukan ke sana oleh residen saat itu pada Oktober—
November 1897 dengan kapal perang Edi, mereka singgah di salah satu Pulau Natuna
Utara untuk mengadakan suatu penyelidikan. Mereka juga mencari tempat yang
cocok yang untuk difungsikan sebagai rumah kontrolir dan sebuah gudang batu bara.
Hal ini dapat diasumsikan bahwa di wilayah itu akan ditempatkan pejabat kolonial
setingkat kontrolir yang dilengkapi dengan perahu uap yang diharapkan menunjang
tugasnya di pulau itu. Penelitian yang lebih intensif dilakukan di Selat La Place.
Namun, hingga 1900 rencana penempatan pejabat pemerintah di wilayah itu belum
dapat direalisasikan. Setelah penguasa bumiputra ditempatkan di kepulauan itu,
kembali pejabat pemerintah melakukan penyelidikan setelah menerima laporan
tentang terjadinya pungutan tidak sah dan pemerasan yang melibatkan wakil
penguasa bumiputra. Namun, setelah ditunggu beberapa lama, tidak ada hasil sama
sekali dari penyelidikan peristiwa itu “De Poeloe Toedjoehin de Chineesche Zee”
dalam De Sumatra Post, 13 Juli 1908, lembar ke-2).
Sesuatu yang tak terduga terjadi, yaitu pecahnya Perang Jepang-Rusia, yang tiba-
tiba mengalihkan perhatian pada Pulau Tujuh tempat Kepulauan Anambas berada.
Pulau itu berada di jalur pelayaran kapal-kapal dari Selat Singapura ke Asia Timur.
134 Sejarah Wilayah Perbatasan Kepulauan Natuna

