Page 148 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 148

Dai  dan  Senggarang,  seperti  halnya  pada  tanah-tanah  yang disewakan
                      kepada  penduduk nonbumiputra    untuk mengelola  pertanian  yang  tetap
                      dibebaskan dari pungutan ini (D.G. Stibbe en H.J. De Graaff, 1919. “Riouw en
                      Onderhorigheden” dalam Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, tweede deel ‘s
                      (Gravenhage, Martinus Nijhoff, hlm. 450—451 ).


                 Kerja wajib terdiri atas menyiapkan perahu, baik oleh sultan maupun para menterinya,
                 penduduk yang dipanggil wajib untuk tampil sebagai awak hanya dengan menerima
                 makanan  selama memenuhi panggilan itu.  Kelompok elite terdiri atas  dua bagian,
                 yaitu  penduduk kaya  dan  raja-raja.  Kerja  raja-raja  hanya  berhak  diminta    selama
                 100 hari,  sedangkan    penduduk kaya  wajib  melakukan  pekerjaan  selama  sultan
                 membutuhkannya. Kayu di dalam hutan serta apa pun yang berharga di dalam hutan
                 dan di bawah tanah dianggap sebagai hak milik sultan.

                 Sultan  memberikan  izin  penebangan  dan  pembukaan  hutan   dengan  harga  yang
                 diduga  pantas  diberikan.  Pengecualian  atas  peraturan  ini  diberikan  kepada  warga
                 bumiputra yang tinggal di wilayah kesultanan itu. Mereka ini  diizinkan secara bebas
                 dan tanpa membayar asalkan untuk digunakan sendiri, untuk mencari penghasilan di
                 dalam hutan asalkan tidak menebang tiang wangkang, kayu kranji (yang digunakan
                 untuk dayung wangkang), dan kayu kledang (digunakan untuk peti mati orang Cina).

                 Jika hasil hutan, termasuk juga kayu, diperuntukkan bagi kepentingan niaga,  orang
                 harus membayar pajak 10% dari nilai kayu itu yang bisa disetorkan sesuai dengan
                 pilihan dalam bentuk uang atau hasil bumi. Penebangan kayu bakar yang diperlukan
                 untuk mengolah gambir tanpa peduli siapa pun orang yang melakukannya dibebaskan
                 dari setiap pembayaran. Perikanan agar-agar tetap dibebani retribusi tahunan sebesar
                 60 bahara (3 – 4 ½ pikul) yang dibayarkan kepada sultan dan 20 bahara kepada Raja
                 Muda atas produk yang diperoleh di wilayah Kepulauan Riau.

                 Kepulauan Riau Lingga pada umumnya memiliki cuaca yang menyenangkan karena
                 panas menyengat di wilayah itu  disejukkan oleh gelombang laut yang kuat dan curah
                 hujan yang tinggi. Pada malam hari terasa angin berembus deras. Dahulu wilayah ini
                 dianggap sangat sehat, tetapi pada awal abad XX tidak lagi. Pantai yang berlumpur dan
                 berkarang yang mengering pada saat air surut, yang selalu bertambah luasnya, selalu
                 menjadi penyebab munculnya penyakit malaria. Penyakit itu menyebabkan  korban
                 meninggal. Hal itu   terjadi berulang kali. Karena hal itulah,    memaksa penduduk
                 untuk  meninggalkan pulau  tersebut. .

                 Makin lama makin banyak pulau yang terjangkit malaria. Selain malaria, epidemi
                 beri-beri  dan  penyakit perut banyak  berjangkit di  Kepulauan  Riau Lingga   yang
                 diduga  berasal  dari  penduduk yang sehari-hari  mengonsumsi   ikan  dan  kurang
                 menjaga kebersihan. Panas yang sangat terik di luar  dan kondisi tanah berbatuan
                 menyebabkan kenaikan suhu. Sering sekali terjadi selama beberapa hari cuaca kering,
                 tetapi  frekuensi hujan di kepulauan itu lebih banyak daripada pulau-pulau lain pada
                 musim kering.


                 Mutiara di Ujung Utara                                                          131
   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152   153