Page 143 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 143

Pulau Tujuh

                            Di Laut Cina Selatan antara Semenanjung Malaka dan Borneo, terdapat   lebih dari
                            tiga ratus pulau besar dan kecil yang tersebar yang dikenal dengan nama Afdeeling
                            Pulau Tujuh. Afdeeling ini merupakan bagian dari Keresidenan Riau.  Pulau-pulau
                                                           o
                                                o
                                                                                                o
                            itu    terletak  antara  105 20’  dan  109 20’  lintang  utara  dan  membentang  dari  1
                                                o
                            lintang selatan sampai 5  lintang utara. Belum ada data sejarah yang menjelaskan
                            alasan  gugusan pulau ini disebut sebagai Pulau Tujuh. Menurut Pijnappel dan R.C.
                            Kroesen, dari tiga kelompok pulau yang membentuknya, hanya tujuh pulau saja yang
                            ada penghuninya,  yakni Jemaja, Siantan, Pulau Laut, Bunguran, Subi, Serasan, dan
                            Tambelan Besar. Namun, sebenarnya ada lebih dari tujuh pulau yang berpenghuni.

                            Menurut penduduk di pulau-pulau itu, mereka  sudah sejak lama tinggal di pulau-
                            pulau itu. Penduduk asli  pulau-pulau itu memiliki mata pencaharian, terutama, dari
                            menangkap  ikan.  Seperti  yang  dilakukan  oleh  sebagian  besar  orang  laut,  mereka
                            sering berganti tempat tinggal sehingga mereka akan pindah dan menghuni pulau
                            lain untuk sementara waktu (AL van Hasselt dan HJEF Schwartz, 1898, “De Poeloe
                            Toedjoeh  In het zuijdelijke gedeelte  der Chineezen Zee” dalam Tijdschrift van het
                            Koninklijk Aardrijkskundige Genootschap, hlm. 24—25 ).


                            Di wilayah ini sangat sering terjadi perompakan yang dilakukan oleh perompak Ilanon
                            dan rakyat dari Kepulauan Zulu. Para perompak ini sangat ditakuti oleh penduduk
                            karena mereka sangat ganas. Selain menangkap ikan dan melakukan perompakan
                            di laut, mereka mendarat di pulau-pulau yang berpenghuni kemudian menangkap
                            para penduduk dan memaksanya untuk menaikkan  ke dalam perahu para perompak.
                            Penduduk ditangkap dan dibawa pergi untuk dijadikan budak. Oleh karena itu, apabila
                            para perompak mendarat di salah satu pulau, para penduduk di pulau itu melarikan
                            diri meninggalkan rumah-rumah mereka dan masuk ke hutan untuk menyelamatkan
                            diri (“Het Sekah bevolking Biliton” Sumatra Courant 24 Februari 1877, lembar ke-2).

                            Pada  masa lalu ada dugaan bahwa pemerintahan di pulau-pulau ini berlangsung lebih
                            teratur daripada di pulau-pulau lainnya. Di mana-mana penduduk hidup mengikuti
                            adat. Jika sebelum tahun 1864 mereka menjadi bagian dari Kepulauan Malaka, setelah
                            tahun itu mereka menjadi bagian dari Kesultanan Riau Lingga. Menurut daftar yang
                            terlampir pada kontrak pelengkap tanggal 19 Agustus 1864, Pulau Tujuh terdiri atas
                            hampir 300 pulau. Pulau-pulau tergabung dalam

                               a.  Kepulauan Anambas di bawah Jemaja;
                               b.  Kepulauan Anambas di bawah Siantan;
                               c.  Kepulauan Natuna Besar;
                               d. Kepulauan Natuna Utara;
                               e.  Kepulauan Natuna Selatan;
                               f.  Kepulauan Perompak;
                               g.  Kepulauan Tambelan.




              126                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147   148