Page 146 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 146

Di Kesultanan Riau Lingga, sejak 18 Februari 1885 Sultan Abdulrahman Maadlam Syah
                 menjadi raja. Hubungannya dengan pemerintah Hindia Belanda dan kewajibannya
                 kepada penduduk diatur dalam kontrak tanggal 1 Desember 1857 serta dalam acte
                 van verband dan dalam penegasan pada   22 Desember 1884. Tentang kesepakatan
                 lainnya, dapat dilihat  kontrak 22 Desember 1897, yaitu   hak pemungutan cukai di
                 daerah daratan Sumatra, Batin, Suku dan Reteh diserahkan kepada pemerintah dengan
                 pembayaran tahunan f 36.000 kepada Raja Muda. Jika pada tahun-tahun sebelumnya
                 dalam hubungan erat dengan para wakil pemerintah Eropa dipertimbangkan alasan
                 untuk mengurangi kewenangan swapraja, pada  1897 akhirnya  pemerintah Hindia
                 Belanda menerapkan suatu peraturan yang menangani  masalah itu.  Selain jumlah
                 f 36.000 tersebut, perdana menteri juga masih menerima f 96.000 setiap tahun dari
                 kas negara. Sementara itu, sultan akan menerima f 35.000 dari pemerintah. Sejak
                 kematian perdana menteri terakhir Raja Muda Muhamad Yusuf, seperti yang sudah
                 disinggung sebelumnya, Sultan tampil sendiri sebagai Raja Muda. Oleh karena itu,
                 selain menerima  f 168.000 dia juga dibayar sebesar f 14.000 setiap bulan. Semua
                 penghasilan hanya digunakan untuk menghidupi dan menyenangkan raja dan semua
                 anak buahnya dan bukan untuk menyejahterakan rakyatnya.

                 Keamanan, lembaga  peradilan, petugas  keamanan, serta beberapa  opas  dan
                 pengadilan di Penyengat sangat penting artinya. Mengenai kewajiban yang dibebankan
                 kepada  penduduk lewat  kontrak  oleh  penguasa  kesultanan,  ketentuan  Pasal  10
                 tetap menjadi surat mati dan tidak bisa diterapkan, yakni  bahwa sultan dan para
                 bangsawannya wajib untuk memajukan kemakmuran rakyat dan daerah, memerintah
                 dengan  adil,  melindungi  pertanian,  industri,  perkapalan,  dan  perdagangan,  serta
                 tidak  mengambil  tindakan  yang  menghambatnya.  Namun,  kenyataannya  sangat
                 tidak adil  bila  membebankan kesalahan situasi  ini  hanya  pada pundak penguasa.
                 Untuk melaksanakan tugas yang dibebankan dalam kontrak, tidak ada sarana yang
                 diperlukan.  Untuk itu,  perlu  agar  apa  yang  dihasilkan  Riau  juga  dicurahkan  bagi
                 kemajuan Riau.  Begitu juga pihak kesultanan tidak memiliki kemampuan memimpin
                 yang diperlukan untuk memenuhi  kewajiban.  Keuntungan yang dihasilkan dari
                 keresidenan mencapai jutaan gulden. Dalam kontrak pelengkap yang dibuat pada  26
                 Januari 1888 ditambah daftar pajak yang ada masih berlaku pada kesultanan ini. Pajak
                 perdagangan terdiri atas
                    1. cukai 75 sen per koyang (40 pikul) muatan ruang perahu yang diberi surat
                      izin untuk berlayar keluar dan dibayar bagi setiap perjalanan ketika kapal itu
                      meninggalkan kerajaan;
                    2. cukai ekspor 75 sen untuk setiap 100 tamping (4 pikul) sagu pada saat ekspor
                      dari kerajaan ini.













                 Mutiara di Ujung Utara                                                          129
   141   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151