Page 149 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 149
Hujan tidak berlangsung terus-menerus dan biasanya hanya terjadi selama beberapa
jam saja. Pada dasarnya curah hujan merata sehingga tidak pernah disebut musim
basah atau kering sama sekali sepanjang tahun. Dari pengukuran di Riau (Tanjung
Pinang) yang berlangsung selama 20 tahun terbukti bahwa curah hujan maksimal
terjadi pada Oktober dan Desember dan batas minimum terjadi pada Februari dan
bulan yang benar-benar kering terjadi pada Juli. Pada bulan-bulan lainnya hujan
turun berkisar antara 11 dan 18. Rata-rata curah hujan untuk Kepulauan Riau Lingga
selama bulan April—September adalah 12,5 %, sedangkan antara Oktober—Maret
12,9%, pada Februari 9,8%, dan pada Desember 18,1% (D.G. Stibbe en H.J. De Graaff,
1919. “Riouw en Onderhorigheden” dalam Encyclopaedie van Nederlandsch Indie,
tweede deel ‘s (Gravenhage, Martinus Nijhoff, hlm. 452).
Di Tanjung Pinang selama 21 tahun pengukuran, jumlah hujan rata-rata per tahun
adalah 165 hari dengan curah hujan 3.009 mm. Di Tanjung Buton dan Lingga
jumlahnya selama 12 tahun pengukuran adalah 132 hari dan 3.415 mm. Di bagian
wilayah lain yang terletak di daratan Sumatra, faunanya mirip dengan daerah pantai
bagian timur pulau ini. Dunia hewan di kepulauan ini masih sangat sedikit diteliti.
Hewan menyusui besar tidak banyak dan hewan buas tidak ada. Ada harimau di Pulau
Singapura yang secara geografis termasuk Kepulauan Lingga. Di lautan sekitarnya
hidup ikan duyung dan ikan lumba-lumba. Di pulau-pulau besar masih dijumpai
hewan menyusui seperti babi liar, babi hutan, landak, dan 4 jenis hewan pelanduk,
yakni kancil, pelanduk, napu dan mengkonoh; kera, kera Lampung atau beruk, kera
hitam atau lutung, pukang, kukang, kubang, kluwang, berbagai jenis kelelawar dan
kalambit, trenggiling,dan tupai. Selanjutnya, berbagai jenis hewan pengerat kelapa;
kerawah atau jenis tupai terbesar yang bulunya indah berwarna kuning dengan bintik
putih di perut dan ekornya yang panjang, krawak, dan tikus rumah. Di Bintan, Lingga,
dan Singkep dijumpai kijang dan di Singkep dijumpai juga rusa yang menurut kata
orang diimpor dari Sumatra.
Pulau Natuna pada Abad XX
Menjelang akhir abad XIX koran De Serawak Gazette melaporkan terjadinya suatu
peristiwa yang menyedihkan, yaitu tentang penindasan yang menimpa penduduk di
Kepulauan Natuna. Mereka merasa dirinya tunduk kepada Raja Muda Riau, tetapi
tampaknya para penguasa di sana telah melakukan kesewenang-wenangan. Di Pulau
Serasan yang dihuni oleh 500 orang warga yang berasal dari Serawak pada bulan
September diserang dan dijarah oleh seorang Raja Riau. Datuk Yarsim, penguasa pulau
itu, kehilangan semua harta yang dimilikinya dan dia tidak berani pulang ke rumahnya
karena takut dibunuh. Dia meminta perlindungan kepada pemerintah Serawak yang
sejauh mungkin disanggupinya. Tampaknya aneh bila aparat pemerintah Hindia
Belanda meminta perlindungan kepada penguasa negara tetangga dan tidak meminta
perlindungan dari pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah kolonial Hindia Belanda
seharusnya melakukan penyelidikan atas peristiwa yang sangat merugikan penduduk
(De Grondwet, 12 Januari 1897).
132 Sejarah Wilayah Perbatasan Kepulauan Natuna

