Page 161 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 161

sipil yang mengatakan bahwa para pilot penerbangan sipil merasa terganggu dengan
                            manuver  pesawat tempur berkecepatan  tinggi  yang membahayakan  penerbangan
                            sipil. Terlebih lagi, komunikasi yang dibuka untuk mereka tidak dijawab oleh pilot-
                            pilot asing pesawat tersebut.

                            Ketika melihat situasi yang sangat membahayakan penerbangan sipil itu, Panglima
                            Komando  Pertahanan  Udara  Nasional  Mabes  TNI  memerintahkan  dengan  segera
                            untuk menerbangkan dua buah pesawat F-16 B Blok 15 OCU dari Skuadron Udara
                            3 agar mencegatnya,  mengidentifikasi,  dan mengusirnya  dari wilayah  kedaulatan
                            Republik Indonesia. Kedua pesawat F-16 tersebut berhasil mengidentifikasi bahwa
                            pesawat yang dijumpainya adalah pesawat F-18 Hornet milik Angkatan Laut Amerika
                            Serikat. Kondisinya menjadi genting ketika pesawat Hornet tersebut mengunci untuk
                            menembak dan mengejar pesawat F-16 milik Indonesia. Akhirnya, komunikasi bisa
                            terjalin di antara kedua belah pihak. Dari komunikasi itu, mereka mengklaim bahwa
                            mereka terbang di atas perairan internasional.  “We are F-18 Hornet from US Navy
                            Fleet, our position on international water, stay away from our warship,” demikian
                            ucapan dari salah satu pilot mereka. Pada saat itu  pilot Indonesia menjawab bahwa
                            mereka terbang di atas wilayah kedaulatan Indonesia. Akhirnya, kedua pihak menjauh
                            dan kembali ke pangkalan masing-masing (Antara,  15 Maret 2017).

                            Pada  25 Oktober   2018 Panglima  TNI, Marsekal  Hadi  Tjahjanto,  menyampaikan
                            bahwa  selama    periode 2014—2017   telah  terjadi  261 kasus  pelanggaran  wilayah
                            udara.  Sementara itu, sepanjang 2018,  TNI AU mencatat telah  terjadi  127 kasus
                            pelanggaran wilayah udara nasional. Sementara itu, oleh  Kepala Subdinas   Hukum
                            Dirgantara  Dinas  Hukum Angkatan  Udara  (Diskumau), Kolonel  Penerbang Supri
                            Abu, disampaikan bahwa Indonesia telah memiliki Peraturan Pemerintah Nomor 4
                            tahun 2017 tentang Pengamanan Wilayah Udara Republik Indonesia. Indonesia telah
                            memiliki payung hukum untuk menindak para pelintas batas wilayah udara Indonesia
                            (Kompas.com  17 Desember 2018).

                            Di sisi  lain  peristiwa  pelanggaran kedaulatan wilayah  Republik Indonesia  melalui
                            batas wilayah laut banyak dilakukan oleh kapal-kapal penangkap ikan ataupun   kapal
                            patroli pihak asing. Kapal-kapal milik negara asing yang pernah melanggar kedaulatan
                            wilayah  Indonesia,  antara  lain  kapal  Australia,  Malaysia,  Vietnam, Tiongkok, dan
                            kapal-kapal  milik  negara-negara  selain  keempat negara  tersebut. Selama periode
                            2014—2018,  menurut Panglima  TNI,  penindakan  pelanggaran  wilayah  laut
                            dilakukan naik dari 22 menjadi 26 penindakan (Tempo, 25 Oktober 2018). Penindakan
                            pelanggaran wilayah tersebut merupakan bagian dari Operasi Militer Perang (OMP)
                            guna melawan ancaman kekuatan asing demi mempertahankan kedaulatan negara.

                            Pemerintah  Indonesia  melalui  TNI  bekerja  berdasarkan  Peraturan  Pemerintah
                            Republik Indonesia  Nomor 37 Tahun 2002 tentang Hak dan Kewajiban Kapal dan
                            Pesawat Udara Asing dalam melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan Melalui
                            Alur  Laut  Kepulauan  yang  ditetapkan.  Pemerintah  Indonesia  memberlakukan  PP
                            Nomor 37 Tahun 2002 untuk memperkuat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996


              144                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   156   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166