Page 162 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 162

tentang Perairan  Indonesia  yang merupakan  tindak  lanjut Pengesahan  Konvensi
                 Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) yang disahkan pada
                 tahun    1982.  Undang-undang  itu    memuat  ketentuan  tentang  hak  dan  kewajiban
                 kapal dan pesawat udara asing dalam melaksanakan hak lintas alur laut kepulauan.
                 Sementara itu, pertimbangan lain dikeluarkannya undang-undang ini adalah karena
                 Komite Keselamatan Maritim (Maririme Safety Committee atau disingkat MSC
                 atau Internasional  Maritime Organization) telah  mengeluarkan resolusi  dan telah
                 menerima usulan Indonesia tentang Alur Laut Kepulauan Indonesia.

                 Berdasarkan undang-undang tersebut, kapal atau pesawat udara asing yang melakukan
                 lintas alur laut kepulauan, selama melintas tidak boleh menyimpang dari 25 mil laut
                 ke kedua sisi dari garis sumbu alur laut kepulauan. Ketentuan itu menyebutkan bahwa
                 kapal dan pesawat udara tidak boleh berlayar atau terbang dekat ke pantai kurang dari10
                 persen dari jarak antara titik-titik yang terdekat  dari  pulau-pulau yang berbatasan
                 dengan alur laut kepulauan tersebut (Pasal 4.2 Undang-Undang Komite Keselamatan
                 Maritim). Pasal 4.2 itu  dikecualikan apabila kapal atau pesawat udara dalam keadaan
                 force majeure. Dalam keadaan ini mereka diizinkan untuk melakukan pendaratan di
                 wilayah Indonesia (Pasal 4.5). Penindakan bagi kapal-kapal asing yang menangkap
                 ikan secara ilegal diatur pada Pasal 6 undang-undang ini. Sewaktu melaksanakan hak
                 lintas alur laut kepulauan, mereka tidak diizinkan melakukan kegiatan perikanan.
                 Mereka  wajib menyimpan peralatan penangkap ikannya ke dalam palka dan tidak
                 boleh  menaikkan  ke  atas  kapal  atau menurunkan  dari  kapal,  baik  orang,  barang,
                 maupun    mata  uang  dengan  cara  yang  berlawanan  dengan  perundang-undangan
                 kepabeanan yang berlaku di Indonesia.

                 Diberlakukannya  undang-undang atau peraturan  tentang hak  lintas  alur laut
                 kepulauan tidak terjadi secara tiba-tiba. Pemerintah Indonesia dalam menentukan
                 batas laut wilayahnya tidak dapat dilepaskan dari sejarah  hak lintas alur laut kepulauan
                 yang sudah diatur sejak era kolonial. Sejalan dengan sejarah perbatasan wilayah laut
                 ini,  pemerintah  Indonesia  telah  memberlakukan  undang-undang  dan  meratifikasi
                 hukum laut yang diatur oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.





                 A.  Perbatasan Wilayah  pada Era Hindia Belanda

                 Pemerintah kolonial Belanda menyadari bahwa wilayah Hindia Belanda  terdiri atas
                 beribu-ribu pulau, baik pulau besar maupun pulau kecil bahkan pulau yang berupa
                 karang dan atol yang tidak berpenduduk . Saat wilayah Indonesia masih berada di
                 bawah  kekuasaan  pemerintah  kolonial  Belanda,  wilayah  laut diatur  berdasarkan
                 Peraturan  Lingkup  Laut  dan  Teritorial  Maritim    (Territoriale  Zee  en  Maritime
                 Kringen-Ordonnantie/TZMKO)  yang diberlakukan sejak 18 Agustus 1939 (Lembaran
                 Negara  Nomor 1939,  442). Dengan mencabut Peraturan Lingkungan Laut dan
                 Maritim Teritorial yang ditetapkan dalam Pasal 1 sub c dari Peraturan 11 Oktober
                 1935 (Lembaran Negara Nomor 497), seperti yang diubah dalam peraturan tanggal


                 Mutiara di Ujung Utara                                                          145
   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167