Page 166 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 166

daerah yang berada di wilayah afdeeling dan onderafdeeling. Pembuatan peta-peta ini
                 terus dilakukan guna menentukan batas wilayah perbatasan walaupun pemerintah
                 kolonial Belanda di Batavia belum  menegaskan wilayahnya itu secara yuridis yang
                 digunakan bila harus membicarakannya di tingkat internasional.

                 Untuk menegaskan garis batas wilayah pulau-pulau terluar, pemerintah Belanda mulai
                 mengaturnya  dengan  memberlakukan  Peraturan  Lingkungan  Laut  dan  Teritorial
                 Maritim (TZMKO) sejak 11 Oktober 1935 (Staadsblad van Nederlandsch Indië 1935
                 Nomor 497). Dalam peraturan 1935 ini khususnya Pasal 1 sub c disebutkan tentang
                 jarak garis pantai yang masuk dalam wilayah kedaulatan Hindia Belanda. Namun,
                 dalam perkembangannya, bagian ini, Pasal 1 sub c juga diubah  seperti termaktub
                 dalam Peraturan Lingkup Laut dan Teritorial Maritim yang diberlakukan pada 3 Mei
                 1938 seperti tertuang dalam Staadsblad van Nederlansch-Indië  Tahun 1938 Nomor
                 200. Satu tahun kemudian TZMKO 1938 dicabut digantikan dengan TZMKO 1939
                 yang tertuang dalam Staadsblad van Nederlandsch-Indie  1939 Nomor 442, yang
                 menetapkan jarak tiga mil laut dari air surut dari pulau-pulau yang termasuk dalam
                 wilayah Hindia Belanda. Peraturan ini tidak pernah dicabut, baik ketika terjadinya
                 pergantian pemerintahan di wilayah Hindia Belanda di bawah pemerintahan bala
                 tentara Jepang, maupun ketika  diproklamasikannya  Kemerdekaan Indonesia pada
                 tanggal 17 Agustus 1945.





                 B.  Perbatasan Indonesia di Era Kemerdekaan

                 Kemerdekaan Indonesia  yang diproklamasikan  oleh  Sukarno dan Hatta  pada  17
                 Agustus 1945 membawa konsekuensi, khususnya dalam bidang hukum internasional.
                 Berdasarkan  Konvensi  Monteviedo,  suatu negara  memiliki  hak dan  tugas  seperti
                 tertuang dalam Montevideo Convention on Rights and Duties of State  yang disahkan
                 pada  26 Desember 1933. Dengan dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
                 itu, sebagai negara yang baru merdeka, Indonesia  memiliki  yang disyaratkan  dalam
                 Konvensi  Montevideo. Pada  Pasal  1 konvensi  dinyatakan suatu negara  memiliki
                 penduduk yang tetap (permanent population); wilayah tertentu (a defined territory);
                 pemerintahan  yang berdaulat (government); dan  kemampuan  untuk menjalin
                 hubungan  internasional  (capacity  to  enter  into  relations  with  the  other  states).
                 (Montevideo Convention on Rights and Duties of States. 2008. www.cosmoolitikos.
                 com, hlm. 2—3 ).

                 Dalam kaitannya dengan syarat kedua dari Pasal 1 bahwa sejak terbentuknya negara
                 baru (sejak 17 Agustus 1945), Indonesia memiliki wilayah tertentu, yakni wilayah
                 bekas Hindia Belanda. Wilayah adalah tempat atau lokasi keberadaan negara dan
                 tempat menetap bagi warga negaranya. Di tempat inilah negara memiliki kedaulatan
                 teritorial  yang  harus  diikuti  oleh  seluruh  warga  negaranya.  Diibaratkan  negara
                 bagaikan sebuah rumah yang tentunya memiliki batas. Batas-batas ini memiliki batas
                 terdepan atau terluar. Agar keselamatan warga negara yang tinggal di “rumah” negara


                 Mutiara di Ujung Utara                                                          149
   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171