Page 168 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 168

Senada dengan A.B. Lapian, menurut Denys Lombard (1996), laut yang tampaknya
                 memisahkan, menurutnya  laut justru merupakan pemersatu. Hubungan ekonomi
                 dan kebudayaan sering terjalin di antara pulau-pulau itu. Dengan pandangan seperti
                 ini,  Denys  Lombard membagi  wilayah  geografis  Nusantara  sebagai  penghubung,
                 khususnya  dari sudut pandang sejarah.


                 1.  Selat Malaka yang menyatukan daerah pantai timur dan pantai barat semenanjung.
                   Dalam kekuasaan Eropa, khususnya abad XIX, wilayah ini  dimasukkan dalam
                   dua entitas yang berbeda, satu di bawah kekuasaan Inggris dan lainnya di bawah
                   kekuasaan Belanda. Yang sebelumnya sejak abad 7 sampai dengan 13, keduanya
                   disatukan  dalam  politik  maritim  Kerajaan  Sriwijaya.  Keduanya  berunding
                   kemudian  menghasilkan    Traktat Sumatra  menjelang  paruh  ketiga  abad  ke-19.
                   Traktat ini meletakkan Sumatra dan Selat Malaka dalam konteks konstelasi dua
                   kekuatan laut dunia  yang tetap mempertimbangkan Selat Malaka sebagai  jalur
                   internasional.

                 2.  Selat Sunda yang menghubungkan daerah Lampung di Selatan Sumatra dan
                   daerah Sunda  di bagian Barat Jawa.  Penyatuan keduanya terjadi pada Kesultanan
                   Banten abad ke-16 dan abad ke-17.


                 3.  Laut  Jawa  yang  mengaitkan  bagian  selatan  Pulau  Kalimantan  tepatnya  lembah
                   Sungai Negara, dengan Jawa.  Lembah  tersebut adalah  satu-satunya  Pulau di
                   Kalimantan  yang kepadatan penduduknya lebih tinggi jika dibandingkan dengan
                   di wilayah lainnya yang mayoritas berasal dari Jawa.

                 4.  Laut pulalah yang menyatukan antara Makassar dan daerah pedalamannya  dengan
                   serangkaian pelabuhan yang berada  di bawah  kekuasaan Kesultanan Makassar,
                   antara  lain,  Selayar,  Buton,  Samarinda,  dan  Kutai  di  Kalimantan  Timur,  dan
                   Sumbawa di Kepulauan Sunda Kecil. Kesultanan Bima di bagian pPaling timur
                   Sumbawa sejak dahulu menjadi bawahan Makassar. Pada masa kolonial Belanda
                   daerah  itu dimasukkan  dalam satu sistem administrasi,  yakni  Zuid  Celebes  en
                   Onderhorigheden (Sulawesi Selatan dan negeri-negeri bawahannya).


                 5.  Laut Maluku yang  berhadapan  dengan  Kepulauan  Filipina  serta  dekat dengan
                   Mindanau dan Kepulauan Sulu menghubungkan beberapa pulau penghasil rempah
                   seperti Banda, Ambon, Seram, Buru, Ternate, dan Tidore. Sejak dihapuskannya
                   pelayaran  teratur kapal  Uap  KPM,  perahu layar  tradisional  melayani  sebagian
                   besar perdagangan antarpulau.  Kerajaan Buton kerap diasosiasikan sebagai negara
                   Barata (simpul pengikat perahu cadik) dengan tumpuan pada empat sudut, yakni
                   Mun dan Tiworo bagian barat, Kolensusu dan Keledupa di bagian timur dari pusat
                   kekuasaan Wolio (Lapian: 1999,86).

                 Dengan  demikian,  fungsi  perahu  yang  menjadi  simbol  kerajaan  dan  kedaulatan
                 negara menjadi  sangat penting tidak hanya sebagai sarana penghubung antarpulau,




                 Mutiara di Ujung Utara                                                          151
   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172   173