Page 173 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 173

dengan  pembentukan  pemerintah  daerah  ini  akan  mempermudah  koordinasi  di
                            tingkat  lokal.  Langkah  kedua  yang  diambil  adalah  menyusun  Rencana  Undang-
                            Undang Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim pada 17 Oktober 1956.  Pada tanggal
                            itu dibentuk panitia interdepartemental yang ditugasi  untuk merancang Rencana
                            Undang-Undang Wilayah Perairan Indonesia dan Lingkungan Maritim berdasarkan
                            Keputusan  Perdana  Menteri  Republik  Indonesia  Nomor  400/P.M.1956  di  bawah
                            pimpinan  Kolonel  Laut R.M.S. Pirngadi   (Munadjat Danusaputro,  1979  Wawasan
                            Nusantara (Dalam Ilmu Politik dan Hukum) Bandung: PT Alumni Bandung).

                            Namun, sampai dengan bubarnya kabinet ini, pembuatan rencana undang-undang
                            tersebut belum dapat direalisasikan  karena  pemerintah  Indonesia  disibukkan
                            dengan  ketegangan  baru  dengan  pemerintah  Belanda  yang  dianggap  ingkar  janji
                            terhadap penyerahan Irian Barat yang tertuang dalam perjanjian KMB ( Wulandari,
                            dkk., 2009). Penyusunan RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim dipicu oleh
                            terjadinya peristiwa  kapal-kapal Belanda yang mondar-mandir di Laut Jawa dan laut
                            di Nusantara. Bersamaan dengan gentingnya hubungan Indonesia-Belanda sebagai
                            akibat  kasus Irian Barat, muncul berita lewatnya kapal perang Belanda Drente di Laut
                            Jawa menuju ke Irian Barat. Tidak lama kemudian muncul berita baru lewatnya kapal
                            dari Royal Inter Ocean Lines  Ciluwah yang ketahuan membawa senjata  dan terjebak
                            berlabuh di Tanjung Priok  (Irna H.N. Hadi Soewito, 1993).





                            C.  Perluasan Wilayah  Republik  Indonesia Berdasarkan Deklarasi
                               Djuanda


                            Dengan masih banyaknya permasalahan baik masalah dalam negeri maupun masalah
                            luar  negeri,  akhirnya  pada  14  Maret 1957, Perdana  Menteri  Ali  Sastroamijoyo
                            meletakkan jabatan  dan mengembalikan mandatnya  kepada  Presiden  Sukarno.
                            Dengan mundurnya Ali Sastroamijoyo, keadaan di tanah air mengalami kegoncangan.
                            Oleh karena itu, Presiden Sukarno mengumumkan negara dalam keadaan SOB (staat
                            van oorlog en van beleg) atau negara dalam keadaan perang. Presiden Sukarno akhirnya
                            mengangkat Ir. Djuanda untuk menggantikan Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo.
                            Kabinet ini dilantik pada 9 April 1957 dan diberi nama Kabinet Karya. Banyak hal yang
                            harus diselesaikan oleh Djuanda karena di daerah-daerah muncul pergolakan, desakan
                            buruh untuk menasionalisasi perusahaan swasta yang dimiliki oleh Belanda, desakan
                            agar Bung Hatta dimasukkan kembali dalam pemerintahan, dan masalah lainnya.
                            Selain peristiwa-peristiwa tersebut, juga terjadi peristiwa yang menggemparkan, baik
                            di dalam negeri maupun di luar negeri, yakni upaya pembunuhan terhadap Presiden
                            Sukarno pada 30 November 1957 di Perguruan Cikini.


                            Dalam sidang kabinet, Mr. Mochtar Kusumaatmaja melaporkan bahwa pengaturan
                            hukum yang  biasa  (maksudnya  TZMKO)  tidak  akan  mungkin  dapat menutup
                            Laut Jawa dan lautan Indonesia lainnya dari lalu lalangnya kapal perang asing dan
                            kapal lainnya yang mengambil kekayaan laut Indonesia.  Selanjutnya,  Mr. Mochtar


              156                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   168   169   170   171   172   173   174   175   176   177   178