Page 172 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 172

membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut Konstitusi 1950,
                 wilayah Republik Indonesia adalah bekas wilayah Hindia Belanda yang diatur dalam
                 Ordonansi tentang Lingkar Teritorial Laut dan Maritim (Territoriale Zee en maritieme
                 Kringen Ordonantie) yang diberlakukan sejak 1939. Menurut lembaran negara ini,
                 batas  wilayah laut adalah selebar tiga  mil keliling suatu pulau. Dengan demikian,
                 wilayah Republik Indonesia berdasarkan Konstitusi 1950 terdiri atas banyak pulau
                 dengan teritorial  laut yang lebarnya  tiga  mil  laut di sekeliling pulaunya.   Sebagai
                 akibatnya, terdapat kantong-kantong laut internasional, di antaranya Laut Jawa dan
                 Laut Banda (Adrian B. Lapian, 2007:33—39 ).

                 Hingga  1955, pemerintah  Republik  Indonesia  disibukkan  dengan  permasalahan
                 dalam negeri sebagai akibat dari diberlakukannya sistem pemerintahan parlementer.
                 Sistem ini membawa dampak dibukanya kesempatan bagi partai-partai untuk terlibat
                 langsung dalam dunia politik di Indonesia. Indonesia dipimpin oleh seorang perdana
                 menteri yang memiliki tugas utama antara lain menyusun rencana konstitusi yang
                 baru.  Sebagai  konsekuensi   sistem ini,  diperlukan  legalitas  agar  keputusan yang
                 diambil oleh parlemen sah.

                 Untuk membentuk parlemen yang baru, harus dilakukan  pemilihan umum. Dengan
                 kondisi semacam ini, kedua lembaga tertinggi negara eksekutif dan legislatif disibukkan
                 dengan rencana penyelenggaraan Pemilihan Umum pada  1955.  Setelah Pemilu 1955,
                 sebagai pengganti parlemen, dibentuklah lembaga penyusun konstitusi yang disebut
                 konstituante yang bertugas untuk menyusun rancangan konstitusi. Sebagai lembaga
                 yang anggotanya pilihan rakyat yang ditentukan dari hasil Pemilu 1955 konstituante
                 memiliki legalitas yang tinggi.  (Munadjat Danusaputro, 1979. Wawasan Nusantara
                 (Dalam Ilmu Politik dan Hukum) Bandung: PT Alumni Bandung)

                 Dengan selesainya  sebagian masalah  dalam negeri,  termasuk  legalitas  anggota
                 parlemen, pemerintah Indonesia mulai melakukan perundingan dengan negara lain
                 termasuk rintisan  untuk melakukan  perundingan  dengan  Malaya.  Permasalahan
                 muncul ketika Malaya mengklaim wilayahnya, yang  secara geografis wilayahnya lebih
                 banyak berupa lautan daripada daratan. Saat perundingan akan berlangsung, yang
                 menjalankan  pemerintahan  Republik  Indonesia  adalah  kabinet Ali  Sastroamijoyo
                 II.    Kabinet  ini  memfokuskan  wilayah  Indonesia  masih  sama  dengan  wilayah
                 peninggalan rezim kolonial, yakni Territoriale Zee en maritieme Kringen Ordonantie
                 yang diberlakukan sejak 1939.

                 Ketika membahas peraturan itu, anggota tim perunding berpendapat bahwa batas
                 laut selebar tiga mil dianggap terlalu sempit karena wilayah Indonesia merupakan
                 kepulauan yang terdiri atas banyak kantong-kantong laut yang memungkinkan kapal-
                 kapal asing melewati wilayah itu. Pulau Jawa dan pulau di sekitar Laut Banda menjadi
                 terbuka  yang  rawan  akan  intervensi  asing.  Untuk mengatasinya,  Perdana  Menteri
                 Ali Sastroamijoyo mengambil dua langkah penting. Pertama adalah pembentukan
                 Provinsi Sumatra Tengah, yang terdiri atas wilayah Riau dan Jambi. Wilayah Provinsi
                 Sumatra  Tengah  ini  langsung  berhadapan  dengan  perbatasan  Malaya  sehingga


                 Mutiara di Ujung Utara                                                          155
   167   168   169   170   171   172   173   174   175   176   177