Page 175 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 175

“Kenapa tidak 17 mil? Sebab 17 adalah angka keramat.” Masih saja ngotot dia.

                                  “Sudahlah,  12 mil  saja  sudah  sulit untuk memperjuangkan,  jangan  kita
                                  menambah kesulitan yang tidak perlu,” jawab saya. Kita sudah mau masuk
                                  kamar, dan Pak Djuanda sudah memanggil-manggil, masih saja Uda Chairul
                                  ngotot tentang 17 atau 12 mil” (Irna H.N. Hadi Soewito (ed.), 1933; Deklarasi
                                  Djuanda 13 Desember 1957, 2007).

                            Peristiwa itu terjadi pada 13 Desember 1957 pada waktu  Mr. Mochtar Kusumaatmaja
                            bersama Chairul Saleh, Menteri Veteran di luar ruang rapat dewan menteri sambil
                            menunggu dimulainya rapat rutin dewan.


                            Sementara itu, di dalam ruang sidang dewan menteri, para menteri sedang membahas
                            Rencana  Undang-Undang Wilayah  Perairan  Indonesia  dan  Lingkungan  Maritim.
                            Semua anggota  dewan  menyadari  bahwa  RUU  ini  tidak  bisa menjawab  tindakan
                            Belanda yang melakukan pamer senjata, tetapi  setidaknya Indonesia telah memiliki
                            sarana hukum dengan menyatakan bahwa Republik Indonesia adalah negara yang
                            menganut asas  archipelago guna melindungi kepentingan nasional. Semua anggota
                            Dewan  Menteri  menyadari  bahwa  konsekuensi  dengan  dinyatakannya  Indonesia
                            sebagai  negara  dengan  asas    archipelago  akan  membawa  beban  yang  berat bagi
                            pemerintah guna menjabarkan konsep itu. Dengan RUU  itu,   terjawablah sudah
                            upaya untuk menjawab penutupan Laut Jawa dan perairan lainnya bagi kapal-kapal
                            asing.

                            RUU  ini  setelah  dibahas  kembali  dalam  rapat  Dewan  akhirnya  disepakati  untuk
                            disahkan menjadi  UU  yang kelak dikenal  sebagai  Deklarasi  Djuanda  pada    13
                            Desember 1957 malam.  Dalam deklarasi tersebut disebutkan bahwa wilayah laut tidak
                            lagi berjarak 3 mil laut, tetapi   12 mil laut dari garis pantai. Hal ini akan mempersempit
                            kantong-kantong  laut  di  dalam  wilayah  kepulauan  Republik  Indonesia.  Disahkan
                            Deklarasi  Djuanda  mengakibatkan  gelombang  protes    dari  banyak  negara  yang
                            berkepentingan dengan pelayaran yang melewati laut-laut Indonesia.

                            Tuduhandemi tuduhan bahwa Indonesia telah melanggar hukum laut internasional
                            disuarakan bertubi-tubi  oleh  negara  lain  yang merasa  dirugikan dengan undang-
                            undang  ini.    Hal  ini  sangat  dirasakan  oleh  delegasi  Indonesia  saat  mengikuti
                            Konferensi Hukum Laut Internasional I di  Jenewa pada  awal  Februari  1958. Atas
                            desakan  internasional,  Indonesia  akhirnya  menyepakati  tidak memberlakukan
                            Deklarasi Djuanda sebelum tertatanya permasalahan di dalam negeri dan selesainya
                            permasalahan Papua Barat dengan Belanda.  Akibatnya, pada Konferensi Hukum Laut
                            Internasional II di Jenewa pada 1960, masalah Deklarasi Djuanda tidak dibicarakan
                            lagi ( Wulandari, 2009).

                            Pada 13 Desember 1957 pemerintah Indonesia akhirnya mengeluarkan pernyataan
                            unilateral (sepihak) yang ditandatangani oleh Perdana Menteri, Ir. Djuanda. Dalam
                            deklarasi itu dinyatakan seperti berikut.


              158                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   170   171   172   173   174   175   176   177   178   179   180