Page 180 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 180

apa yang dilakukan oleh Sukarno. Soeharto memprioritaskan stabilitas politik dalam
                 negeri  dan normalisasi  hubungan internasional.   Hal  itu dijadikan skala  prioritas
                 oleh  Soeharto karena  perekonomian Indonesia  saat itu dalam kondisi  yang tidak
                 stabil.  Oleh  karena  itu, pembangunan ekonomi menjadi  prioritas  utama.  Untuk
                 merealisasikannya,  diperlukan stabilitas politik dan keamanan sebagai faktor
                 utamanya.


                 Upaya  yang  dilakukan  pertama  kali  oleh  Soeharto adalah  melakukan  normalisasi
                 hubungan  dengan  Malaysia.  Untuk merealisasikannya,  Soeharto mengutus  secara
                 khusus Adam Malik dan Menteri Luar Negeri, Abdul Rahman. Dalam Konferensi
                 Bangkok yang diselenggarakan  pada  28 Mei  1968, dicarilah  kesepakatan untuk
                 menyelesaikan sengketa antara Indonesia dan Malaysia. Hasil konferensi itu adalah
                 kesepakatan bersama untuk mengakhiri konflik yang disahkan di tingkat Menteri
                 Luar Negeri pada 11 Agustus 1966.

                 Setelah dilantik menjadi presiden baru pada Maret 1967, kerja sama dengan pihak luar
                 negeri diperluas  dengan negara tetangga lainnya. Hasil dari lobi  itu   adalah mempererat
                 dan melembagakan  kerja sama bangsa-bangsa Asia Tenggara yang tergabung dalam
                 ASEAN. ASEAN  didirikan di Bangkok pada 8 Agustus 1987.  Indonesia merupakan
                 anggota yang pertama bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara-
                 negara anggotanya dengan melakukan kerja sama sosial, ekonomi, budaya, dan yang
                 paling utama adalah menomorsatukan upaya damai dalam perselisihan yang timbul
                 di antara anggotanya. Dengan demikian, Indonesia memperoleh kesempatan untuk
                 merundingkan wilayah perbatasannya dengan negara-negara lain (Wulandari, dkk.:
                 2009).

                 Upaya yang dilakukan oleh Soeharto adalah menentukan batas landas kontinen di
                 Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Untuk merundingkannya, Adam Malik diutus
                 oleh  Soeharto untuk membicarakannya  dengan  perwakilan  negara-negara  yang
                 terkait. Dalam kesepakatan itu, penyelesaian batas laut ditetapkan dengan mencapai
                 titik antara garis batas terluar pada saat kondisi air laut surut dari tiap-tiap  pantai.
                 Kesepakatan dengan Malaysia ditandatangani pada 27 Oktober 1969 dalam bentuk
                 persetujuan bilateral kedua negara yang ditandatangani di Kuala Lumpur. Kesepakatan
                 ini merupakan kesepakatan antarnegara pertama yang dibuat mengenai perbatasan
                 laut kedua negara. Persetujuan tersebut diperkuat lagi dengan penetapan garis batas
                 landas kontinen kedua negara di sepanjang Selat Malaka dalam pertemuan antara dua
                 Menteri Luar Negeri kedua negara di Jakarta pada 17 Maret 1970.

                 Dalam pembicaraan  tentang penetapan  batas  landas  kontinen  dengan  Malaysia,
                 tiap-tiap tim dari kedua negara sadar bahwa di wilayah itu terbentang juga wilayah
                 yang  menjadi klaim dari negara Thailand.  Oleh karena itu, segera diselenggarakan
                 pembicaraan yang melibatkan negara Thailand, Malaysia, Singapore, dan Filipina pada
                 November 1971. Pada 1 Desember 1971 negara-negara itu  menyepakati  persetujuan
                 tersebut, yang diberlakukan  16 Juli 1973. (Zone of Peace, Freedom and Neutrality
                 (Zopfa), ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri ASEAN)


                 Mutiara di Ujung Utara                                                          163
   175   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185