Page 181 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 181

Setelah Indonesia melakukan kegiatan pemilihan umum dan kemenangan ada pada
                            pihak Soeharto, Presiden Soeharto yang baru dilantik ini mulai memikirkan tentang
                            batas wilayah negara. Namun, kalau mengingat kondisi perekonomian yang belum
                            stabil,  Soeharto  cenderung  untuk menghindari  konflik  dengan  negara-negara
                            tetangga.  Daerah  perbatasan  direncanakan  ntuk diberdayakan  untuk menampung
                            kerja sama ekonomi dengan negara tetangga walaupun sekaligus dijadikan penegasan
                            kekuasaan Indonesia lengkap dengan wilayahnya. Dengan bertolak dari pemikiran
                            ini, Soeharto mengeluarkan keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1973. Keputusan
                            Presiden ini berisi pembentukan Badan Otorita Batam sebagai daerah pengembangan
                            investasi di bidang industri. (Keppres No. 41 Tahun 1973 tentang Daerah Industri
                            Pulau Batam).

                            Soeharto menyadari bahwa langkah yang diambil dengan pembentukan Badan Otorita
                            Batam ini  akan menyebabkan munculnya  konflik baru dengan negara  tetangga.
                            Sebelum klaim dari negara tetangga muncul, Soeharto memantapkan konsep wawasan
                            Nusantara dengan memberlakukan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1973 yang berisi
                            Landas Kontinen Indonesia.  Dengan  dijadikannya undang-undang  tentang Landas
                            Kontinen Indonesia, berarti bahwa semua kekayaan alam yang terdapat dalam Landas
                            Kontinen merupakan kekayaan negara Republik Indonesia.  Dengan undang-undang
                            itu,  tidak akan ada kekuasaan asing yang mengklaim dan mengambil kekayaan alam
                            Indonesia  tanpa  mengadakan pembicaraan dengan pemerintah  Indonesia  karena
                            tindakan sepihak yang dilakukan oleh negara lain akan menimbulkan munculnya
                            klaim dari pemerintah Indonesia tentang pelanggaran wilayah kedaulatan nasional.
                            Landas kontinen pengukurannya didasarkan  pada  garis pantai sampai jarak tertentu
                            di tengah perairan terluar dari wilayah kepulauan Indonesia. (Undang-Undang No. 1
                            Tahun 1973 tentang Landas Kontinen).

                            Meskipun  kesepakatan  telah  dibuat,  perbatasan  Indonesia  dengan  Singapura
                            tetap  menjadi  perhatian  pemerintah  Republik  Indonesia.  Wilayah  Indonesia  yang
                            berbatasan  dengan Singapura  jaraknya   sangat sempit bila  dibandingkan  dengan
                            kantong-kantong laut di wilayah lain.  Oleh karena itu, Undang-Undang Nomor 1
                            Tahun 1973 tentang Landas Kontinen tidak dapat  diberlakukan di Selat Singapura.
                            Kondisi geografis Singapura yang merupakan sebuah pulau yang dikelilingi dengan
                            pulau-pulau kecil milik Indonesia, garis batas yang ditarik di celah-celah sempit ini
                            tidak dapat dilaksanakan. Apabila dilaksanakan, hal itu pasti akan memicu protes dari
                            pemerintah Singapura. Akhirnya, disepakatilah  membicarakan dengan pemerintah
                            Singapura. Pada 25 Mei 1973 dicapai kesepakatan dengan ditandatangani perjanjian
                            garis batas laut wilayah yang ditandatangani di Jakarta. Kedua pemerintahan sepakat
                            untuk melakukan sosialisasi terlebih dahulu dan baru akan memberlakukannya mulai
                            29  Agustus 1974 (“Perjanjian Batas Laut RI-Singapura bisa jadi Rujukan Penyelesaian
                            Sengketa Perbatasan”, Kompas.com, 3 September 2014).

                            Salah  satu program Kabinet  Pembangunan III adalah  menetapkan dan menjamin
                            tidak adanya  kantong-kantong laut  di dalam wilayah  Republik Indonesia  yang



              164                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185   186