Page 179 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 179

yang  sangat sengit pada  31 Juli  1957, parlemen  Inggris  mengesahkan  keputusan
                            tentang pengalihan koloninya di Penang dan Malaka kepada pemerintah Malaya. Satu
                            bulan kemudian, pengesahan parlemen Inggris disahkan oleh Ratu Elisabeth II pada
                            31 Agustus 1957 (Clive Christie, 2001).

                            Saat Malaya dinyatakan sebagai negara baru muncul keresahan masyarakat Tionghoa
                            khususnya  yang tinggal di Singapura.  Mereka merasa  resah  karena  pemerintahan
                            Malaya didominasi oleh elite politik Melayu. Singapura yang sejak selesainya Perang
                            Dunia II dijadikan crown colony,  dengan pemerintahan sendiri menuntut pemisahan
                            dari Malaya. Berdasarkan kekhawatiran akan terjadinya konflik baru di wilayah ini,
                            parlemen Inggris dalam sidangnya pada Mei 1958 memutuskan akan memberikan
                            konstitusi baru kepada Singapura. Dengan diberikannya konsitusi baru itu, Singapura
                            dinyatakan sebagai negara kota pada 3 Juli 1959 (C. Turnbull, 1985).

                            Munculnya dua negara baru di wilayah tetangga Indonesia ini belum menimbulkan
                            masalah bagi Indonesia karena Indonesia sedang disibukkan oleh perjuangan untuk
                            merebut kembali wilayah Irian Barat. Sukarno merasa ditipu oleh Belanda setelah
                            kabinet J. Luns mengumumkan akan melakukan penentuan pendapat rakyat di Irian
                            Barat. Karena merasa diperlakukan tidak adil, Sukarno mengancam akan membawa
                            permasalahan ini  ke PBB. Setelah  melalui konfrontasi  militer yang melibatkan
                            Amerika Serikat, akhirnya pada  bulan Mei 1962 Belanda menyerahkan Irian Barat
                            kepada PBB dan setahun kemudian PBB menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia.

                            Dengan kembalinya Papua ke pangkuan ibu pertiwi, perhatian Sukarno kembali ke
                            wilayah batas utara setelah Perdana Menteri, Tengku Abdul Rahman, menginginkan
                            akan menjalin kerja sama yang lebih erat. Gagasan ini menimbulkan pandangan pro
                            dan kontra karena sementara elite politik di wilayah itu menduga  Inggris memiliki
                            kepentingan di balik gagasan itu. Sukarno menentang pembentukan Federasi Malaysia
                            dengan mengeluarkan Program Dwikora  yang bertujuan untuk menggagalkan
                            rencana pembentukan federasi itu pada 3 Mei 1963.

                            Karena   Tengku Abdul Rahman  bersikukuh  akan  tetap  membentuk federasi  itu,
                            Sukarno mencanangkan program “Ganyang Malaysia” pada 23 Juli 1963. Ketegangan
                            di wilayah perbatasan ini juga menyeret negara lain, seperti Filipina yang mengajukan
                            protes atas pelanggaran wilayahnya di Sabah. Karena mengingat bahwa Tengku Abdul
                            Rahman tetap berkeinginan untuk melanjutkan pembentukan federasi, Sukarno tetap
                            dengan pendapatnya untuk melanjutkan konfrontasi. Langkah yang makin keras dan
                            makin ekstrem diambil oleh Sukarno pada Februari 1964 dengan memutuskan untuk
                            keluar dari  Perserikatan Bangsa-Bangsa  dengan alasan karena  Malaysia  diterima
                            sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Hingga kejatuhan Sukarno sebagai
                            Presiden RI pada 1966, konfrontasi dengan Malaysia tetap berlangsung (Mohamad
                            Tan Sri Gazali Shafie, 1998).

                            Pada  Maret 1966, terjadi perubahan besar di Indonesia. Presiden Sukarno digantikan
                            oleh Presiden Soeharto. Apa yang diupayakan oleh Soeharto sangat berbeda dengan


              162                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   174   175   176   177   178   179   180   181   182   183   184