Page 178 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 178

1961  perlu disempurnakan sehingga konsep tentang Wawasan Nusantara  dapat
                 dimasukkan dalam undang-undang itu.

                 Sebagai kelanjutan dari rencana untuk menyempurnakan undang-undang yang telah
                 ada tentang penyempurnaan Deklarasi Djuanda, pemerintah Indonesia masih tetap
                 konsisten dengan rencana itu. Pada 1960 Sukarno mengeluarkan undang-undang yang
                 baru, yaitu Undang-Undang Nomor 4/PRP Tahun 1960 tentang Wawasan Nusantara,
                 khususnya tentang Perairan Indonesia. Dengan masuknya Wawasan Nusantara dalam
                 undang-undang  itu,    sebagai  undang-undang  dapat  digunakan  untuk membuat
                 peraturan di bawahnya termasuk  peraturan tentang perairan perkapalan, navigasi,
                 dan peraturan lain yang berupa derivasi dari undang-undang itu. (UU No. 4/PRP
                 tahun 1960).


                 Setelah  kembalinya  Irian Barat ke wilayah  Negara  Kesatuan Republik  Indonesia,
                 Sukarno mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 1963 tentang Bagian
                 Wilayah  Indonesia  sebagai  Lingkungan  Maritim    menetapkan  lingkaran  maritim
                 di  seluruh  kawasan  perairan  Indonesia  yang memberlakukan  hukum Indonesia.
                 Keputusan Presiden ini berisi  penetapan bahwa bagian wilayah perairan Indonesia,
                 sebagaimana  dimaksudkan  dalam  Undang-Undang  Nomor  4/PRP  Tahun  1960
                 dinyatakan sebagai  tahun lingkungan maritim.  Dengan diberlakukan Keputusan
                 Presiden itu ,  semua keputusan yang telah ada termasuk di dalamnya Keputusan
                 Gubernur Jenderal tentang Lingkungan Maritim (TZMKO 1939) dinyatakan tidak
                 berlaku lagi.  Konsekuensi   Keputusan  Presiden  ini  adalah  tidak  ada  lagi  daerah
                 kantong-kantong laut yang merupakan perairan bebas bagi pelayaran internasional
                 (Hasjim Djalal, 2009).

                 Dengan dicabutnya TZMKO 1939, Sukarno telah mempersatukan wilayah Indonesia
                 sehingga terbebas dari daerah kantong-kantong laut yang dapat dilalui oleh pelayaran
                 internasional.  Dengan  Keputusan  Presiden  ini,    Indonesia  dari  Sabang  sampai
                 Merauke telah  menjadi  negara  kesatuan, baik ditinjau dari segi  wilayah,  politik,
                 geografi,  ekonomi, maupun  kelautan. Dengan kondisi seperti itu,  konsep Wawasan
                 Nusantara telah menjadi kekuatan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
                 bebas dari pengaruh asing. Hal itu  kemudian dijadikan momentum bagi Indonesia
                 untuk memosisikan  kembali batas-batas wilayah yang menjadi bagian dari Negara
                 Kesatuan Republik Indonesia.

                 Dalam kaitan   posisi  Indonesia  dalam permasalahannya  di  luar  negeri,  setelah
                 Dekrit Presiden 1959,  Sukarno melihat bahwa di wilayah tetangga, Inggris mulai
                 memberikan kesempatan kepada kaum elite Melayu di Malaka untuk lebih banyak
                 berkontribusi dalam pemerintahan. Politik ini dilakukan oleh Inggris setelah berhasil
                 menumpas  pemberontakan  komunis  di  Malaya  dan  berkeyakinan  bahwa  hanya
                 masyarakat Melayulah  yang mampu mencegah  dominasi  Partai  Komunis  Malaya
                 karena sifat mereka yang agamis. Selain masalah komunis, masalah lain yang tidak
                 kalah pentingnya adalah masalah ras.  Inggris menginginkan agar dibentuk koalisi
                 dengan melibatkan ras lain, khususnya orang Tionghoa.  Setelah melalui perdebatan


                 Mutiara di Ujung Utara                                                          161
   173   174   175   176   177   178   179   180   181   182   183