Page 182 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 182

merupakan  perairan  internasional.    Pemerintah  Indonesia  terus  memperjuangkan
                 konsep  wawasan Nusantara agar dapat diterima oleh semua negara di dunia melalui
                 ketetapan  Perserikatan  Bangsa-Bangsa.   Oleh  karena  itu,  selama  pemerintahan
                 Kabinet Pembangunan III, pada setiap Konferensi Hukum Laut yang diselenggarakan
                 oleh PBB, Indonesia tanpa mengenal lelah selalu membentuk tim perunding agar
                 konsep wawasan Nusantara dapat dimasukkan dalam keputusan PBB. Setelah hampir
                 10 tahun melakukan diplomasi  dan melakukan pembicaraan dengan berbagai
                 perwakilan dalam Konferensi Hukum Laut PBB di Montego Bay, Jamaica pada 1982
                 wawasan Nusantara diterima sebagai keputusan dari Konvensi Hukum Laut PBB.




                 D.  Dari Pengesahan United Nations Convention of the Law on the Sea
                    Hingga Kini


                 Pada Sidang Majelis Umum PBB  diselenggarakan pada 1982 konsep tentang wawasan
                 Nusantara diterima sebagai bagian integral dari Konvensi Hukum laut PBB. Ketika
                 konsep ini mulai diputuskan, utusan dari Amerika Serikat keberatan dan  menuntut
                 dilakukannya voting. Voting dilaksanakan pada 30 April 1982, dan mayoritas negara
                 di dunia termasuk negara-negara di Asia Tenggara menyetujui masuknya wawasan
                 Nusantara sebagai bagian dari Konvensi Hukum Laut PBB yang kemudian dikenal
                 dengan nama UNCLOS (United Nations Convention of the Law  on the Sea). Dari hasil
                 voting itu, PBB akhirnya mengesahkan Konvensi Hukum Laut pada 10 Desember
                 1982. Berdasarkan konsep ini dari titik terluar landas kontinen suatu negara dapat
                 ditarik  200 mil  keluar  dan  menjadi  hak  dari  negara  tersebut.   Apabila  ketentuan
                 ini diterapkan antara pulau Sumatra dan Malaysia, keduanya akan saling tumpang
                 tindih. Oleh karena itu, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk membagi dua wilayah
                 perairannya sesuai dengan persetujuan yang disepakati pada 1969.

                 Saat dilakukan voting untuk mengambil keputusan di Majelis Umum PBB, terdapat
                 151 negara yang mengikutinya. Dari 151 negara itu, 130 negara mendukung wawasan
                 Nusantara  dijadikan  keputusan  PBB,  4 menentang,  yakni  Israel,  Turki,  Amerika
                 Serikat,  dan  Venezuela,  sedangkan    17  negara  abstain.  Di  antara  17  negara  yang
                 abstain itu mayoritas adalah negara maju.  Sementara itu, dari 4 negara yang menolak
                 dan 17 negara yang abstain, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman Barat,
                 Italia, dan beberapa negara Amerika Latin tidak dapat menentukan sikapnya karena
                 keputusan ini tidak mengakomodasi kepentingan negara-negara pantai di Amerika,
                 Eropa, maupun di Amerika Latin.

                 Bagi  Indonesia,  dalam  kaitan  dengan  Konvensi  Hukum Laut PBB  ini  muncul
                 permasalahan dengan pulau-pulau kecil yang berada di garis terdepan wilayah lautan
                                                                          0
                 seperti Sipadan dan Ligitan.  Kedua pulau itu terletak pada koordinat 04 06’39” intang
                            0
                 utara dan 118 37’56 bujur timur. Kedua pulau kecil  itu  berhadapan dengan Malaysia
                 dan bila ditarik garis lurus saat air laut surut, sesuai  dengan Konvensi Hukum Laut
                 PBB,  kedua pulau ini berada di dalam wilayah Malaysia. Oleh karena itu, berdasarkan


                 Mutiara di Ujung Utara                                                          165
   177   178   179   180   181   182   183   184   185   186   187