Page 185 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 185

Dengan diterimanya Konvensi Hukum Laut PBB 1982 oleh pemerintah Indonesia,
                            diberlakukan juga konsepsi tentang Zona Ekonomi Eksklusif  (ZEE) sejauh 200 mil
                            dari garis pantai. Indonesia juga mendekati negara tetangga untuk menetapkan ZEE
                            tersebut,  tetapi baru dengan Australia saja dapat dicapai kesepakatan yang disahkan
                            pada  1977. Namun,  persetujuan  tersebut belum diratifikasi  oleh  kedua  negara.
                            Perjanjian-perjanjian tersebut diperbaharui setelah Indonesia meratifikasi Deklarasi
                            Hukum Laut Internasional.

                            Meskipun Konvensi Hukum Laut PBB telah disahkan pada 1982,  implementasinya
                            baru diberlakukan pada 1994, baik dalam tingkat internasional, regional, maupun
                            nasional.  Berdasarkan  Pasal  308, konvensi  ini  baru akan  diberlakukan    setelah
                            dilakukan ratifikasi oleh 60 negara. Ratifikasi yang ke-60 baru terlaksana  pada 16
                            November 1993, yaitu oleh Guyana. Oleh karena itu, sebenarnya Konvensi Hukum
                            Laut PBB baru berlaku pada 16 November 1994 setelah setahun ratifikasi yang ke-
                            60. Namun, Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hukum Laut PBB itu  berdasarkan
                            Undang-Undang Nomor 17 tahun 1985 yang disahkan pada 31 Desember 1985.

                            Berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB, juga akan dibentuk panitia persiapan untuk
                            pendirian  Otorita  Dasar  Laut Internasional  (International Seabed Authority, ISA)
                            dan  Mahkamah Hukum Laut Internasional  (International Tribunal for  the Law of
                            the Sea, ITLOS).  Panitia persiapan ini terdiri atas 4 komisi, yakni Komisi I untuk
                            melindungi  kepentingan negara-negara  berkembang, komisi  II untuk membahas
                            persiapan mengadakan Badan Usaha Internasional sebagai Commercial arm dari ISA,
                            Komisi III untuk mempersiapkan mining Code,  dan Komisi IV untuk mempersiapkan
                            berdirinya Mahkamah Hukum Laut Internasional.

                            Banyak pihak  mengakui bahwa untuk  menjalankan Konvensi  Hukum Laut PBB
                            masih banyak kendala. Masalah terutama datang dari negara-negara maju. Mereka
                            tidak mau meratifikasi konvensi ini karena mereka tidak puas dengan isi konvensi
                            tersebut  .  Isi  konvensi  itu    mengganggu  kepentingan  mereka,  khususnya  tentang
                            penambangan  mineral  di  dasar  laut internasional.  Banyak negara  maju yang
                            mendukung sikap Amerika Serikat yang menolak untuk meratifikasi konvensi ini.
                            Hingga 1990 mayoritas negara yang meratifikasi konvensi ini adalah negara-negara
                            berkembang. Oleh karena itu, Sekretaris Jenderal PBB melakukan konsultasi untuk
                            mencari jalan keluar. Tindakan ini didukung oleh negara-negara maju dan beberapa
                            negara berkembang.

                            Setelah  berjalan  selama  empat tahun,  konsultasi  Sekretaris  Jenderal  PBB  itu
                            menghasilkan suatu implemeting agreement, yaitu ketentuan konvensi tentang seabed
                            mining. Konvensi itu  akhirnya secara aklamasi ditandatangani dan diratifikasi oleh
                            negara-negara maju,  seperti Jepang, Jerman, Prancis, Italia, Australia, Cina, Kanada,
                            Rusia,  dan  beberapa  negara  lainnya.    Namun,  Amerika  Serikat  tetap  belum mau
                            meratifikasi, baik Konvensi Hukum Laut PBB maupun  International Seabed  Authority
                            atau ISA.



              168                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   180   181   182   183   184   185   186   187   188   189   190