Page 177 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 177

Protes keras tentang batas laut 12 mil yang disponsori oleh Amerika Serikat sebagai
                            balasan atas  tuduhan pemerintah  Indonesia   telah  mensinyalir  campur tangan
                            Amerika Serikat dalam membantu kaum pemberontak PRRI/Permesta di Sumatra
                            dan Sulawesi.  Sinyalemen keterlibatan Amerika Serikat dalam kasus pemberontakan
                            PRRI/Permesta  terbukti  ketika  pada  15 Februari  1958, seorang  pilot Amerika
                            melakukan pengeboman  di sekitar Medan dengan menggunakan pesawat Bomber 25
                            yang berhasil ditembak jatuh oleh pasukan Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa
                            Amerika Serikat ikut bermain dalam pemberontakan itu. Sebagai reaksi peristiwa itu,
                            Presiden Sukarno melakukan protes  atas intervensi AS ke Mahkamah Internasional.
                            Ia juga bertekad untuk berpaling ke negara blok timur apabila Amerika Serikat masih
                            melakukan intervensi atas peristiwa-peristiwa di dalam negeri.  Pamor Sukarno naik
                            drastis ketika Presiden Amerika Serikat Eisenhower mengabulkan tuntutan Soekarno
                            (Lapian, 2009: 38).


                            Permasalahan di dalam negeri tetap tidak dapat teratasi. Konstituante yang dibentuk
                            berdasarkan Pemilihan Umum 1955  tidak mampu menyusun konstitusi  baru
                            sebagai akibat kuatnya perbedaaan pandangan dan kepentingan fraksi-fraksi yang
                            ada di dalamnya. Sementara itu, lembaga eksekutif yang tergabung dalam kabinet
                            selalu berganti  sehingga  tidak  ada  program yang dapat dilaksanakan,  termasuk
                            melakukan perundingan dengan Belanda tentang kasus Irian Barat. Sukarno akhirnya
                            mengeluarkan peraturan untuk membatalkan Konferensi Meja Bundar. Peristiwa itu
                            dilanjutkan dengan perintah untuk membekukan modal Belanda yang sedang dalam
                            proses  nasionalisasi,  yang  prosesnya  berlangsung  sampai  1958 (Lembaran  Negara
                            RI Tahun 1956). Di depan Sidang Konstituante pada 5 Juli 1959, Presiden Sukarno
                            mengumumkan  pembubaran  Konstituante dan  kembali  ke  UUD  1945. Dengan
                            kembali ke UUD 1945,  berarti bahwa sistem pemerintahan di Indonesia menganut
                            sistem presidensial. .

                            Dengan dibubarkannya Konstituante dan kembali ke UUD 1945, perhatian Sukarno
                            kembali  ditujukan  pada  upaya  memperkuat  posisinya,  baik  di  dalam  maupun  di
                            luar negeri. Di dalam negeri, dalam kaitannya dengan Deklarasi Djuanda walaupun
                            dalam  Konferensi  Internasional  di  Jenewa  pada  tahun  1960 tidak  dibicarakan
                            lagi Deklarasi Djuanda. Namun, pada 14 Februari 1960  Sukarno selaku Presiden
                            Republik  Indonesia  memerintahkan  untuk menyempurnakan  Deklarasi  Djuanda
                            agar  dijadikan undang-undang. Dengan dikeluarkannya Udang-Undang Nomor 4/
                            PRP Tahun 1961, kedudukan Deklarasi Djuanda menjadi lebih kuat lagi. Undang-
                            undang ini berisi tentang wilayah perairan Indonesia yang  memberikan ide lebih
                            lanjut tentang Wawasan Nusantara.

                            Gagasan ini  disampaikan pada  pidato kenegaraan dalam rangka memperingati
                            kemerdekaan  republik  Indonesia  pada  17 Agustus 1961. Dalam pidatonya  itu,
                            Sukarno membahas  masalah kesatuan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kalau
                            bertolak dari  gagasan wawasan Nusantara itu, Undang-Undang Nomor 4PRP Tahun





              160                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   172   173   174   175   176   177   178   179   180   181   182