Page 174 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 174

Kusumaatmaja  mengusulkan  agar  pemerintah  Indonesia  segera  menerapkan  asas
                 Archipelagic State karena satu-satunya hukum internasional yang dapat melindungi
                 wilayah  Indonesia  adalah  penerapan  konsep  Negara  Kepulauan.  Ia  memberikan
                 contoh  Mahkamah  Internasional  telah  menerapkan  hukum  internasional  dalam
                 sengketa perikanan antara Norwegia-Inggris pada 8 Desember 1951. Sarana hukum
                 internasional ini baru pertama kali dicoba oleh Filipina, seperti tertera dalam nota
                 diplomatiknya pada tanggal  12 Desember 1955 (H.N. Hadi Soewito, 1993).

                 Pada saat diselenggarakan pembahasan tentang gagasan  archipelagic state, banyak
                 anggota  panitia  Pirngadi  merasa  berkeberatan  dengan  alasan  Indonesia  saat itu
                 belum memiliki angkatan laut yang memadai sehingga secara de facto Angkatan Laut
                 Republik  Indonesia  tidak  mungkin  melaksanakan  pengamanan.  Namun,  Menteri
                 Urusan  Veteran waktu itu, sebagai  menteri  termuda,  mendesak  panitia  Pirngadi
                 agar  segera  menjadikan  seluruh  Laut Jawa  sebagai  bagian  dari  wilayah  Negara
                 Kesatuan Republik Indonesia. Ia merasa sangat prihatin karena kapal-kapal Belanda
                 mondar-mandir  melintasi  Laut  Jawa.  Ketika  menjawab  hal  tersebut,  Mr.  Mochtar
                 Kusumaatmaja beranggapan bahwa kapal-kapal Belanda yang mondar-mandir di Laut
                 Jawa telah melanggar hukum internasional. Karena dianalogikan dengan peristiwa
                 kemerdekaan Indonesia oleh Chairul Saleh, Mr. Mochtar Kusumaatmaja meminta
                 cuti untuk dapat memikirkan bagaimana upaya memasukkan Pulau Jawa seluruhnya
                 menjadi bagian dari republik ini.

                 Sekembalinya dari cuti selama dua minggu, Mr. Mochtar Kusumaatmaja kembali ke
                 Jakarta  dengan  membawa  peta  Indonesia  dan  melaporkan  hasil  kajiannya  kepada
                 Menteri Chairul Saleh, yang kemudian dibawanya ke sidang berkala dewan menteri
                 yang diselenggarakan secara rutin setiap Jumat malam. Pada waktu rapat rutin itu,
                 tepatnya  pada  13 Desember  1957 Mr.  Mochtar  Kusumaatmaja  berkisah  sebagai
                 berikut.




                      “Saya  merasa  terjepit,  di  satu  pihak  saya  adalah  anggota  Panitia  Pirngadi,
                      sedangkan di pihak lain saya adalah penasihat menteri Veteran. Anehnya yang
                      menjadi keputusan kabinet adalah RUU yang tidak resmi itu. Lucunya, pada
                      waktu saya mau masuk kamar sidang untuk memberikan keterangan, Chairul
                      menghadang saya di pintu masuk, dia mau menanyakan sesuatu.

                      “Mochtar, ini yang mau diukur dari pangkal laut teritorial lebarnya berapa?”

                      Saya  jawab:  “12 mil”.  Waktu itu, maksimum memang 12 mil  yang bisa
                      dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dia pun bertanya lagi:

                      “Kena apa 12 mil?”

                      “Habisnya berapa,” jawab saya.



                 Mutiara di Ujung Utara                                                          157
   169   170   171   172   173   174   175   176   177   178   179