Page 171 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 171

saat  peristiwa  agresi  Belanda,  baik  agresi  pertama  maupun  kedua  dengan  mudah
                            Belanda mendaratkan kapal-kapal yang mengangkut peralatan militer guna melawan
                            kekuatan militer Indonesia yang terpusat di pedalaman Jawa dan Sumatra. Perlawanan
                            para pejuang untuk melawan hadirnya kembali bangsa asing terjadi di daerah-daerah
                            termasuk pemboikotan jalur-jalur kereta  api  agar peralatan militer yang mereka
                            bawa  tidak sampai  di  wilayah  pedalaman.  Bahkan,  ketika  operasi  militer di  Jawa
                            berakhir, pada Desember 1948 dimulailah operasi militer di Sumatra. Dengan tanpa
                            halangan,  kapal-kapal  militer Belanda  mendarat di pelabuhan-pelabuhan seperti
                            Bengkalis, Siang, Bagan Siapi-api, Tembilahan, Selat Panjang, dan Pulau Mendol (P.J.
                            Drooglever dan M.J.B. Schouten, 1991, hlm. 552). Bahkan, Belanda setelah menguasai
                            beberapa pelabuhan, kemudian membentuk pasukan khusus (speciale troepen) untuk
                            menaklukkan Rengat, Pekanbaru, dan Kuantan. Dengan demikian, seluruh pantai
                            Sumatra    telah  diblokade  oleh  angkatan  laut Belanda  guna  mencegah  terjadinya
                            penyelundupan senjata ke wilayah ini.


                            Pemerintahan Belanda secara resmi berakhir tatkala hasil Konferensi Meja Bundar
                            (KMB) diberlakukan sejak 27 Desember 1949. Konferensi yang dimulai sejak Agustus
                            1949 ini menjadi penentu nasib bangsa Indonesia karena mengingat Belanda tidak
                            berniat melepaskan wilayah koloninya. Hal itu terbukti dengan dilancarkannya agresi
                            Belanda  sebanyak  dua  kali.  Dengan  diratifikasinya  hasil  kesepakatan  KMB  oleh
                            parlemen Belanda yang ditandatangani oleh Ratu Juliana, keberadaan pemerintah
                            kolonial di Indonesia berakhir.

                            Walaupun bentuk pemerintahan yang diakui oleh Belanda adalah Republik Indonesia
                            Serikat (RIS)  yang membagi Indonesia menjadi beberapa negara bagian, termasuk
                            Republik Indonesia yang hanya menguasai wilayah tertentu di Jawa,  langkah yang
                            penting adalah pihak kolonial sudah pergi dari wilayah Indonesia. Sementara itu,
                            konstitusi yang digunakan oleh Republik Indonesia serikat (RIS) adalah Konstitusi
                            RIS yang tidak memuat bentuk negara kesatuan seperti tercantum dalam UUD 1945.
                            Dengan  kondisi  seperti  itu,  kedua  bentuk pemerintahan  tidak  memiliki  prioritas
                            program untuk memikirkan  batas  wilayahnya  termasuk dengan  wilayah  tetangga,
                            Malaya.

                            Pada  saat  pemerintahan  RIS  berjalan,  permasalahan  dalam  negeri  memerlukan
                            pemikiran yang sangat berat. Permasalahannya adalah bahwa dengan bentuk negara
                            federal,  akan  sulit mencapai  kesepakatan  bersama  menghadapi  permasalahan
                            yang timbul, baik masalah  dalam negeri  maupun luar negeri.  Justru inilah  yang
                            dikehendaki Belanda agar masalah Irian Barat tidak akan ada kesepakatan di antara
                            anggota negara-negara federal ini.

                            Dengan keyakinan yang tinggi,  akhirnya  pada  17 Agustus 1950  secara  resmi  RIS
                            dibubarkan oleh pemerintah Indonesia. Republik Indonesia Serikat hanya berumur
                            tidak lebih dari 10 bulan. Pembubaran ini mendapatkan dukungan dari negara-negara
                            bagian yang ditunjukkan dengan kesediaan mereka bergabung dengan pemerintah
                            Republik  Indonesia.  Akhirnya,  Indonesia  kembali  menerapkan  UUD  1945, dan


              154                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   166   167   168   169   170   171   172   173   174   175   176