Page 170 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 170

dan Jepang tidak mengobarkan pertempuran di Laut Cina Selatan,  tetapi  di Laut
                 Jawa. Hal itu sangat disadari oleh pihak sekutu karena Jawa merupakan basis kekuatan
                 terakhir sekutu sebelum menuju ke Australia. Pertempuran yang dimulai pada  25
                 Februari 1942 dengan menyerang dari 3 penjuru (dari Selat Malaka ke Laut  Jawa, dari
                 Selat Makassar ke Laut Jawa, dan melalui Laut Aru ke Llaut Jawa) menjadikan Jepang
                 dengan  mudah  menghancurkan  armada  sekutu.  Dalam  waktu dua  hari  Surabaya
                 jatuh ke tangan Jepang. Dalam kurun waktu tidak lebih dari satu bulan, tepatnya pada
                 8 Maret 1942 pasukan Belanda di bawah komando Letnan Jenderal Hein Ter Porten
                 menyerah  kepada  Komandan Kesatuan tentara  XXV di bawah  komando Letnan
                 Jenderal  Hitoshi  Imamura.  Sejak saat itu, kekuasaan Belanda  di  wilayah  Hindia
                 Belanda digantikan oleh pemerintahan Jepang (Wulandari, dkk. 2009, hlm. 60—62 ).

                 Pemerintah  Hindia  Belanda  sejak  1940 telah  menjadikan  seluruh  kawasan  Asia
                 Tenggara sebagai satu front bersama dengan mengabaikan batas-batas wilayah koloni
                 untuk menghadapi  Jepang.  Pertimbangan  pembentukan  front itu adalah  bahwa
                 tiap-tiap  penguasa di wilayah koloni di Asia Tenggara membentuk pasukan untuk
                 mengatasi perlawanan rakyat yang muncul di wilayah masing-masing. Kemudian,
                 tiap-tiap    penguasa  telah  membentuk kekuatan  Pax  Britanica,  Pax  Gallica,  Pax
                 Neerlandica  dan  Pax  Americana    sehingga  masing-masing  memiliki  kebijakan
                 sendiri-sendiri. Dengan runtuhnya kekuasaan rezim kolonial Barat di Asia Tenggara,
                 front ini dipertahankan oleh Jepang di bawah komando langsung dari Tokyo.

                 Perubahan  pengelolaan  wilayah  laut  oleh  Jepang  ini  tidak  banyak  membawa
                 perubahan pada batas-batas wilayah, termasuk batas wilayah laut.  Hal ini disebabkan
                 karena wilayah ini sebagian besar, terutama di Asia Tenggara bagian barat, dikuasai
                 oleh angkatan darat yang lebih mementingkan pertahanan teritorial sehingga tidak
                 memperhatikan  batas  laut,  dan  panglima  militer  Jepang  lebih  banyak  mengatur
                 tentang strategi tempurnya dan bukan memprioritaskan batas wilayahnya. Demikian
                 pula  tatkala  serangan  balik  sekutu dilancarkan  kepada  pasukan  Jepang,  fokus
                 pertempuran tetap berada di markas-markas  dan instalasi militer di darat. Dengan
                 demikian, selama pendudukan militer Jepang di Asia Tenggara, batas-batas wilayah
                 yang sudah disepakati dalam beberapa traktat antara pemerintah Inggris dan Belanda
                 yang telah dibuat pada masa sebelumnya tidak mengalami perubahan.

                 Pada  saat Proklamasi  Indonesia  dikumandangkan,  para  pemimpin  bangsa  belum
                 memikirkan  tentang keutuhan  wilayah.  Diplomasi  yang dilakukan  saat itu belum
                 membahas  batas wilayah, tetapi  mencari dukungan dan pengakuan internasional
                 melalui  Kementerian  Luar  Negeri.  Para  Menteri  Luar  Negeri  disibukkan  dengan
                 diplomasi  untuk mencari  dukungan diplomatik dan pengakuan  yuridis  dari
                 negara lain. Hal ini dianggap lebih penting oleh para pemimpin Republik daripada
                 memperjuangkan batas-batas wilayah negara Republik Indonesia. Masalahnya adalah
                 pada saat itu sebagian besar wilayah perairan Indonesia berada dalam kekuasaan dan
                 blokade Belanda. Belanda menguasai pulau-pulau terdepan dan sepanjang pantai
                 seluruh pulau di wilayah bekas Hindia Belanda ini. Sangat masuk akal apabila pada



                 Mutiara di Ujung Utara                                                          153
   165   166   167   168   169   170   171   172   173   174   175