Page 165 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 165

produk-produk dagang  dan  penumpang  yang  akan  dibawa menuju ke  pulau lain,
                            baik di wilayah Hindia Belanda maupun ke Eropa. Peraturan TZMKO 1939 ditujukan
                            tidak hanya untuk alat transportasi laut akan, tetapi juga alat transportasi udara yang
                            sudah mulai beroperasi di Hindia Belanda.  Peraturan ini berlaku di seluruh wilayah
                            Hindia Belanda termasuk di pulau-pulau terluar yang telah dikuasainya. (Staatsblad
                            van Neerlandsch-Indie, 1939, No. 442. “Zeemacht verdediging voorschriften voor
                            handhaving van de orde en veiligheid  in  het Nederlandsch-Indische  zeegebied
                            Territoriale Zee en Marietieme Kringen Ordonnantie  1939).

                            Tentang perbatasan wilayah  Hindia  Belanda dengan Inggris  di wilayah  Natuna,
                            dibahas  pada  dekade  kedua  abad  XX  oleh  Gubernur  Jenderal  Dirk  Fock yang
                            mengadakan  kesepakatan  dengan  Raad  van  Indië  di  Batavia.  Kesepakatan  kedua
                            institusi penting di Hindia Belanda itu  diselenggarakan guna mempertegas lingkup
                            pengaruh Belanda terutama di perairan perbatasan berhadapan dengan Malaya yang
                            berada di bawah kekuasaan Inggris. Dalam rangka upaya reorganisasi pemerintahan
                            sekaligus mempertegas ruang lingkup wilayah Belanda, Gubernur Jenderal Dirk Fock
                            mengeluarkan keputusan untuk mengatur kembali wilayah Hindia Belanda, khususnya
                            di wilayah Keresidenan Riau dan sekitarnya (Riouw en Onderhorigheden) (Besluit
                            Gouverneur Generaal  29 April 1924  Nomor 51, koleksi  ANRI bundel Algemeen
                            Secretarie). Wilayah ini kemudian diatur secara administratif dengan membaginya
                            dalam beberapa afdeeling dan onderafdeeling yang mencantumkan nama pulau, baik
                            besar maupun kecil yang sudah memiliki nama.

                            Berhubung setelah dikeluarkannya surat keputusan itu masih terdapat banyak kapal
                            asing, baik milik maskapai pelayaran Belanda, milik penduduk bumiputra  maupun
                            penduduk di sekitar Semenanjung Malaya, pemerintah di Batavia mulai mempertegas
                            tentang wilayah  perbatasan khususnya  di wilayah  Riouw en Onderhorigheden
                            ini.  Khusus  untuk pulau-pulau  terluar  di  wilayah  itu,  pemerintah  Batavia  mulai
                            mengangkat pejabat Eropa  yang diberi  tugas  untuk mencatat dan  mengatur
                            administrasi  pemerintahan di wilayahnya  masing-masing. Beberapa  pejabat
                            pemerintah seperti posthouder Eropa diangkat untuk ditempatkan di Pulau Siantan
                            yang berkedudukan tetap di Pulau Terempa. Pulau Terempa itu merupakan salah satu
                            pulau yang berada di gugusan Pulau Tujuh yang berbatasan langsung dengan Malaka
                            yang berada di bawah kekuasaan Inggris (Besluit  Gouverneur Generaal 8 Agustus
                            1932 No. 25, bundel Algemeen Secretarie,  koleksi ANRI).


                            Pemerintah Belanda mulai melakukan sensus penduduk sekaligus membuat peta. Pada
                            dasawarsa kedua abad XX peta-peta yang dihasilkan oleh lembaga topografi kolonial
                            menunjukkan garis batas yang didasarkan dari kondisi surut di pantai, khususnya di
                            pantai pulau-pulau yang berbatasan dengan pulau-pulau di Semenanjung Malaka.
                            Langkah ini menunjukkan garis batas yang dibuat oleh pemerintah Belanda yang
                            dapat digunakan sebagai pedoman dalam mengamankan wilayah perbatasan di pulau-
                            pulau terluar ini. Di Keresidenan Riouw en Onderhorigheden, garis-garis batas selain
                            untuk menandai wilayah Hindia Belanda juga terdapat garis batas yang membagi



              148                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170