Page 164 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 164

Lloyd). Tentu saja  hal  itu  menjadikan  persaingan  antara  Inggris  dan  orang Cina
                 yang  mengoperasikan  kapal-kapal  dagang  mereka  dan  kapal-kapal  perusahaan
                 Belanda (HW Dick, 1989). Untuk melindungi rute kapal-kapal perusahaan Belanda,
                 pemerintah Belanda memberikan subsidi kepada setidaknya dua perusahaan itu guna
                 menunjang dan meningkatkan pelayaran dari Pulau Jawa ke pulau-pulau lain di wilayah
                 Hindia Belanda. Sementara itu, untuk kapal-kapal yang berlayar ke Singapura tidak
                 diberi subsidi sama sekali. NISN (Netherlands Indies Steam Navigation Company)
                 yang merupakan operator kapal-kapal dari Jawa ke luar Jawa mengalami kerugian
                 walaupun sudah memperoleh subsidi dari pemerintah Hindia Belanda. Kondisi ini
                 memberikan kesempatan kepada pemerintah Belanda untuk mengganti NISN dengan
                 perusahaan pelayaran lainnya. Hal itu  diharapkan dapat memberikan pelayanan yang
                 lebih baik. Pilihan akhirnya jatuh ke perusahaan pelayaran Belanda KPM (Koninklijke
                 Paketvaart Maatschappij) yang mulai beroperasi pada 1891(Singgih Tri Sulistyono,
                 2007.”Dinamika  Kemaritiman  dan  Integrasi  Negara  Nasional di  Indonesia,  dalam
                 Deklarasi Djuanda, 13 Desember 1957. Hlm. 40—71 ).

                 Berkat kelihaian para pengelola KPM, pada awal abad XX Pulau Jawa benar-benar
                 dianggap sebagai pesaing utama Singapura. Selain menjalani rute Hindia Belanda ke
                 Eropa, KPM juga berhasil memantapkan hubungannya dengan pelabuhan-pelabuhan
                 besar di wilayah Hindia Belanda, seperti Makassar, Padang, Belawan, Pontianak, dan
                 Balikpapan. Kapal-kapal  KPM ini melakukan pelayaran langsung ke Eropa tanpa
                 singgah ke Singapura. Bahkan, jalur ke wilayah Asia lainnya, seperti Bangkok, Manila,
                 Hongkong,  Koba,  dan  Australia  KPM  tidak  pernah  melakukan  persinggahan  ke
                 Singapura (IJ Brugmans, Van Chinavaart tot Oceanvaart: De Jawa-China-Japan Lijn-
                 Koninkelijke Jawa-China Paketvaart Lijnen1902-1952. (Uitgegeven  bijhet  50-jarig
                 bestaan van de maatschappij 15 September 1952).

                 Sehubungan dengan kepentingan pemerintah kolonial terutama untuk kepentingan
                 militer, pada 1916 pemerintah meminta agar KPM melakukan pergantian dua pertiga
                 dari  kapal  mereka  dengan  kapal-kapal  yang  baru.    Bahkan,  jadwal  pelayaran  pun
                 diatur oleh pemerintah di Batavia. Dengan munculnya kepentingan pemerintah ini,
                 jumlah kapal KPM yang beroperasi di Hindia Belada naik dengan pesat. Antara tahun
                 1891—1907  jumlah armada KPM meningkat dari 28 menjadi 51 unit kemudian pada
                 tahun 1916 menjadi 93 unit. Hingga tahun 1939 jumlah armada KPM yang beroperasi
                 di Hindia Belanda mencapai 134 unit. (KoninkelijkePaketvaart Maatschappij, 1891.
                 Dienstregeling der KPAanvangende met 1 Januarie 1891.  Batavia: Stooer Albrecht).

                 Beberapa kapal dari maskapai lain bertolak dari  Singapura menuju ke Eropa melalui
                 wilayah Hindia Belanda. Dengan tujuan untuk mencari produk-produk dagang dan
                 mengangkutnya ke Eropa, beberapa kapal asing mulai sering mengunjungi pelabuhan-
                 pelabuhan yang ada di Hindia Belanda, termasuk pelabuhan-pelabuhan yang berada
                 di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Hal itulah  yang mendesak pemerintah
                 Belanda untuk mulai mengatur kapal-kapal yang akan merapat ke semua pelabuhan
                 di Hindia Belanda.  Tujuannya adalah agar pemerintah Belanda dapat mengontrol



                 Mutiara di Ujung Utara                                                          147
   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169