Page 104 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 104
Jera Mendera
Oleh: Fitria Nur Rosyidah
aruskah kuungkap rasa penuh derita? Haruskah
“H kuakhiri perjuangan ini? Menghapus cita, asa,
dan karsanya?” batinku menjerit. Rasanya
jiwaku berontak, ragaku menghentak, dan jantungku serasa
berhenti berdetak.
Siapa pun orang tua di dunia ini berharap yang terbaik
bagi qurrota a’yun‐nya. Aku pun demikian, walau letih
mendera tak kuhiraukan. Semua kulakukan demi senyum dan
bahagianya. Menjadi pembantu rumah tangga di ibu kota
bukanlah impianku. Kebutuhan serta tuntutan hati
mengharuskanku meninggalkan buah hati yang dititipkan di
pondok pesantren.
Bagiku yang papa ilmu dan fakir pengalaman, menitipkan
anak di pondok adalah ketenangan, kekuatan, dan
keberkahan hidup. Berharap segala aktivitas di pondok
mampu melupakan rutinitas menjerit anakku melihat
ganasnya sang ayah menghardik ibunya tercinta. Kurasakan
ketakutan dan trauma terdalamnya.
Duhai anakku, maafkan ibumu yang tak bisa mengajarimu
arti kesetiaan. Tak mampu memberimu teladan akan kasih
sayang. Tak kuasa melihat pertikaian ayah dan ibu di rumah.
Jangan kau simpan luka. Jangan kau pendam derita
mengingat peristiwa itu. Biar kuganti semua tontonan itu
92 | 80 Cerpenis MediaGuru

