Page 108 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 108
Bingkai Rindu
Oleh : Fitriani
A
ku terpaku dan bersimpuh di depan gundukan tanah
merah. Dedaunan berjatuhan mengikuti arah tiupan
angin. Suasana temaram ketika siluet senja mengintip
dengan indah. Aroma bunga kamboja menyeruak masuk ke
rongga hidungku. Cairan bening perlahan memaksa keluar
dari netra. Entah bagaimana cara untuk memintanya berhenti
mengalir. Aku terlalu berduka.
Rasanya seperti mimpi. Ibu tak ada lagi di sisiku. Aku
laksana menyusuri labirin dan kebingungan untuk mencari
arah. Hatiku seolah terkubur bersama jasad ibu. Tak ada lagi
sentuhan aroma nasi goreng. Tak ada lagi sentuhan halus
tangannya di kepalaku. Tak ada lagi kulihat lengkungan
senyumannya yang indah. Aku merindukannya.
Ibu tak pernah mengeluh jika sakit. Ibu selalu terlihat
sehat dan ceria. Pekerjaan rumah tangga tak menjadi beban
baginya. Wanita sederhana ini memberikan yang terbaik
untuk keluarganya. Ibu selalu berkata, “Segala sesuatu yang
kita lakukan dengan ikhlas dan mencari rida Allah akan terasa
ringan dikerjakan.” Inilah pesan ibu yang selalu kuingat.
Hingga suatu hari, ibu dibawa ke rumah sakit oleh ayah.
Kami belum tahu pasti apa penyakit yang diderita ibu. Cemas
menyelimuti hati kami, terutama aku. Tiba‐tiba aku begitu
takut kehilangan ibu. Resah merayap di jiwa, hening pun
menyapa.
96 | 80 Cerpenis MediaGuru

