Page 119 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 119
“Pandemi ini belum dapat dipastikan kapan akan
berakhir, tapi kakiku sepertinya dalam satu atau dua bulan ini
sudah mampu kuajak keluar rumah. Jadi, izinkan aku
mengajak orang tuaku untuk melamarmu!” Sebuah chat
WhatsApp masuk di gawai Sheren di tengah malam tanpa
bintang di kota kecil Muaradua, tempat Sheren tinggal.
“Tolong balas, aku tahu kamu belum tidur.” Emoji love itu
membuat Sheren marah.
“Kamu sehatkan? Tidak sakit atau demam tinggi karena
covid‐19.” Sheren baru membalasanya setelah sepuluh menit
chat itu muncul di gawainya.
“Sehatlah, aku tidak terpapar korona, tapi terpapar
coviamor. Aku menulis ini dengan penuh kesadaran dan
ketenangan.” Balasan yang begitu cepat di terima Sheren
“Jangan tidak sopan dengan saya, ya!” Sheren pun
membalas dengan cepat ditambah emoji marah bertubi‐tubi.
“Apakah karena aku pria cacat dengan satu setengah
kaki?”
“Maaf bukan karena cacat, tapi karena kau terlalu muda
untukku. Apa nanti kata orang tua dan saudaramu.” Balas
Sheren cepat.
Sheren teringat hubungannya yang kandas sepuluh tahun
yang lalu karena calon ibu mertuanya keberatan anak lelaki
satu‐satunya menikah dengan wanita yang usianya empat
tahun di atas putranya. Padahal mereka berdua sudah lima
tahun menjadi sepasang kekasih. Sheren merasa
dicampakkan ketika tidak lama setelah putus, mantan
kekasihnya menikah dengan wanita muda yang baru lulus
SMA, pilihan ibunya.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 107

