Page 115 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 115
Jadilah hari itu Bu Umi kembali membacakan buku cerita
tentang Chika Si Anak Ayam yang Bandel.
Suara Bu Umi mulai terdengar mengikuti karakter tokoh
cerita. Terkadang lembut, kadang juga terdengar meninggi.
Tahun berikutnya tempat ini mulai bertambah
penghuninya. Beberapa anak seusia Safa pun hadir satu per
satu. Juga ada bayi mungil berusia 4 bulan. Aku senang Safa
tidak lagi sendirian.
Suara riuh anak‐anak mulai meramaikan tempat ini.
Sampai akhirnya Safa mulai menunjukkan perilaku yang tidak
biasa.
Pagi itu seperti biasa, semua pengasuh menyambut anak‐
anak di halaman depan. Menyapa dengan senyum paling
manis. Menyambut dengan pelukan sayang.
Pukul tujuh pagi Scoopy merah berhenti di depan
gerbang. Seraut muka datar tanpa senyum ada di sana. Safa
turun dengan tas Barby di punggungnya. Dilewatinya Bu Umi
tanpa sapaan.
“Mbak Safa, mana salimnya pada Bu Umi?”
“Nggak mau! Bu Umi bau susu bayi!” Lagi‐lagi kata itu
terucap dari mulut mungil Safa. Sebuah jawaban yang penuh
teka‐teki.
Jam makan siang tiba. Bu Umi kulihat tergopoh.
“Bu Dewi, Safa tantrum lagi. Aku tidak berhasil
membujuknya.”
“Baiklah. Aku ke sana,” jawabku.
Kulihat Safa bergulung di lantai. Tangisannya seperti
guruh di siang bolong. Memekakkan telinga.
Aku berjongkok di depannya. Mengambil nampan berisi
tepung dan mulai menggores‐goreskan di atasnya.
Membentuk beberapa gambar dan membuat cerita imajinasi.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 103

