Page 205 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 205

Ranting‐Ranting Kering

                           Oleh: Nurrohmah Puji Mastuti



              K
                     ehidupan  penuh  duri,  membiarkan  hati  lelah
                     menyusuri lereng sepi. Derita dan sakit hati yang telah


              hati.    lama  dirasakan,  nyeri  bagai  duri  yang  menyusup  di
                  Monah  masih  saja  termenung  di  bawah  pohon  kersen.
              Membiarkan  burung‐burung  kecil  itu  bermain  di  atas
              kepalanya.  Sesekali  dia  menengadah.  Memaksa  diri
              melukiskan  senyum  tipis  di  sudut  bibirnya  yang  telah
              mengering.     Hari    itu,   minggu      pertama     Satria
              meninggalkannya.
                  Monah membiarkan lembaran‐lembaran daun itu luruh di
              pangkuannya.  Satria  telah  remaja,  tapi  tak  melanjutkan
              sekolahnya.  Masa  remaja  pun  belum  dilaluinya  dengan
              sempurna. Namun, Satria bertekad membawa ijazah SMP‐nya
              ke kota.
                  "Mak, besok aku jadi berangkat," kata Satria suatu hari.
                  Mereka  duduk  berdua  di  bawah  pohon  kersen  yang
              ditanam oleh Kirno dengan penuh cinta.
                  Monah  masih  saja  terdiam,  matanya  menerawang
              menatap  mendung  di  pucuk  ranting.  Daun‐daun  telah  lama
              pergi.  Hujan  pun  tak  kunjung  tiba  untuk  menyemaikan
              butiran  cintanya  yang  telah  mengering.  Monah  menahan
              napasnya.




                                 Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 193
   200   201   202   203   204   205   206   207   208   209   210