Page 207 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 207

Sudah  seminggu  dia  menyimpan  rahasia.  Dia  tak  ingin
              buah  cintanya  merasakan  kepahitan  hidupnya.  Ranting‐
              ranting itu semakin kering. Lembaran daun pun telah pergi.
              Luruh, tertiup angin kencang.
                   "Mak, bolehkah?" tanya Satria.
                   Monah meraih lengan Satria, mengusap rambutnya yang
              tak lagi rapi.
                   "Maafkan  Emak,  Nak.  Bapakmu  telah  pergi,"  ucap
              Monah, tenggorokannya tercekat.
                   "Iya, Mak. Satria akan mencari bapak," kata Satria.
                   "Tapi,  Nak.  Bapakmu  telah  pergi  untuk  selamanya,"
              lanjut Monah terisak.
                  Cinta Monah tak lagi berarti, kala Sri bersanding mesra,
              menggelayut manja di lengan Kirno, sepuluh tahun lalu. Apa
              daya Monah, perempuan paruh baya yang tak berpendidikan
              tinggi. Kirno telah tega meluluhlantakkan harapannya.
                  Betapa  pun  luka  hatinya,  namun  Kirno  tetaplah  kekasih

              yang  terpilih.  Dia  telah  menaburkan  benih  suci  dan  merajut
              hari bersamanya.
                   "Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun. Mak, benarkah? Jika
              bapak memang telah tiada, aku akan tetap ke kota, Mak! Aku
              akan mencari pusara bapak," seru Satria.
                                           **
                   Satria menyusuri belantara kota. Mencari sepasang nisan
              di  antara  kamboja  yang  bertebaran.  Langkahnya  gontai,
              melangkah  dalam  sepi  di  sepanjang  jalan  bertabur  bunga
              tabebuya. “Untuk sesuatu yang kausebut cinta, aku tak akan
              pernah  berhenti  menggapai  mimpi,”  ucap  Satria  dalam
              batinnya.


                                 Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 195
   202   203   204   205   206   207   208   209   210   211   212